BANNIQ. Id. Mamuju — Kinerja ekonomi Sulawesi Barat menunjukkan sinyal positif pada awal 2026. Evaluasi pekan keempat Januari mencatat penurunan Indeks Perkembangan Harga yang semakin dalam, menandakan stabilitas harga komoditas di wilayah Sulbar terus menguat.

Perencana Ahli Muda Bapperida Sulbar Musrifah Hamzah menyampaikan, berdasarkan data BPS yang dipaparkan dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi secara daring, Selasa, 27 Januari 2026, IPH Sulawesi Barat berada pada angka minus 2,29 persen.
Capaian ini lebih baik dibanding pekan sebelumnya yang tercatat minus 1,73 persen, meski beberapa komoditas seperti daging ayam ras, cabai merah, dan cabai rawit masih perlu diwaspadai.
Penurunan IPH tersebut merupakan hasil sinergi Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat bersama pemerintah kabupaten dalam menerjemahkan kebijakan ekonomi nasional ke tingkat daerah. Langkah ini sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto yang menargetkan pertumbuhan ekonomi nasional di atas 5 persen dengan inflasi terjaga pada kisaran 2 persen.
Sejalan dengan arahan Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian yang menegaskan inflasi sebagai isu strategis kesejahteraan masyarakat, Gubernur Sulbar Suhardi Duka memastikan empat langkah pengendalian inflasi dijalankan secara konsisten.
Langkah tersebut meliputi pengawasan harga komoditas strategis, penguatan ketahanan pangan, kelancaran distribusi logistik, serta pengambilan kebijakan berbasis data real-time BPS.
Secara nasional, tren penurunan harga terjadi pada bawang merah, cabai rawit, dan daging ayam ras di ratusan daerah, meski kenaikan harga bawang putih masih terpantau di sejumlah wilayah.
Ke depan, penguatan sinergi pusat dan daerah akan kembali dipertegas dalam Rakornas yang dijadwalkan dipimpin Presiden Prabowo Subianto pada 2 Februari 2026 sebagai bagian dari strategi pengendalian inflasi sepanjang tahun./***






