Paminggalan yang Eksotis, Paminggalan yang Ramah

Area pemukiman Warga Paminggalan(photo:Ridwan )

BANNIQ.COM.Majene.Paminggalan menjadi nama yang sangat akrab di telinga, ketika para Penggiat Literasi menapaki pemukiman yang asri, di kelilingi pegunungan yang berhawa sejuk, di sekitar pemukiman penduduknya dipagari rimbunan pepohonan hijau menyajikan suasana hidup yang begitu apik ini.

Penduduknya yang ramah, melangsungkan kehidupannya dengan ritme hidup penuh kesahajaan berbalutkesederhanaan, yang sebagian besar hidup dari bertani dan berkebun, dan profesi purba itulah yang menjadi sandaran utama dalam mengarungi hidup mereka sampai kini.

Wadah penyimpanan barang bawaan warga Paminggalan(photo:Ridwan)

Menapaki Paminggalan seperti magnet yang menarik langkah Kolumnis Budaya maritim Mandar Muhammad Ridwan Alimuddin, ketika dirinya menyusuri jalan berbukit sepanjang 13;KM, tanpa bantuan.moda transportasi, ia berjalan kaki menghabiskan Waktu 8 jam untuk sampai di desa yang berjarak 18 KM dari ibu kota Kecamatan Sendana, Somba.

” Saya menyusuri kemarin jalan kaki dari mombi sampai Paminggalan lebih kurang 8 jam,” Ujar Ridwan Senin(10/3/2019)

Hasil padi ladang warga Paminggalan(photo:Ridwan)

Di Paminggalan, dirinya mengintip lebih dekat aktivitas masyarakat yang rukun, ramah dan diliputi semangat hidup yang tinggi, meskipun sebagian besar, mereka nganntungkan hidup dari berkebun dan bertani.

” Sebagian besar mereka hidup dari bertani/berita, bahasa lokal yang digunakan sebagai bahasa pergaula yakni bahasa Mandar, tapi bukan dialek Balanipa atau Sendana, ada pengaruh dialek bahasa Pitu Ulunna Salu.,” Urai pemilik rumah baca Nusa Pustaka ini.

Untuk psarana pendidikan, Di sana masih ada Sekolah Satu Atap (SD dan SMP),, keyakinan keagamaan yang dianut oleh masyarakat, adalah agama Islam Di sekitar Paminggalang dialiri Sungai Mombi yang bermuara ke Sungai Mandar (jarak lebih kurang 20 km,”pungkasnya.|smd

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *