Statistik
Beranda » Ekonomi Sulbar Tumbuh Impresif 5,36 Persen di Tahun 2025, Sektor Pertanian Penopang Utama

Ekonomi Sulbar Tumbuh Impresif 5,36 Persen di Tahun 2025, Sektor Pertanian Penopang Utama

BANNIQ.Id. Mamuju. – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) resmi merilis laporan Berita Resmi Statistik (BRS) terkait capaian ekonomi daerah sepanjang tahun 2025. Dalam rilis yang digelar di Kantor BPS Sulbar pada Kamis (5/2/2026), tercatat ekonomi Sulawesi Barat tumbuh positif sebesar 5,36 persen secara kumulatif (c-to-c).

Kepala BPS Provinsi Sulawesi Barat, Suri Handayani, memaparkan bahwa performa ekonomi Sulbar menunjukkan tren penguatan yang signifikan, terutama pada triwulan IV-2025 yang berhasil tumbuh sebesar 6,55 persen secara year-on-y (y-on-y) dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Sektor pertanian tetap menjadi tulang punggung ekonomi “Bumi Manakarra”. Sepanjang tahun 2025, sektor ini tumbuh sebesar 6,05 persen. Kenaikan ini dipicu oleh beberapa fenomena krusial di lapangan:

Produksi Padi: Terjadi peningkatan produktivitas berdasarkan hasil Kerangka Sampel Area (KSA) 2025.

Komoditas Unggulan: Pertumbuhan signifikan pada produksi Tandan Buah Segar (TBS) sawit, cengkeh, dan kopi.

Sektor Peternakan: Subsektor peternakan, khususnya ayam potong, mengalami lonjakan permintaan akibat implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Kehutanan: Peningkatan produksi getah pinus untuk kebutuhan ekspor juga memberikan kontribusi positif.

Namun, Suri Handayani mencatat bahwa pertumbuhan di sektor ini sempat tertahan oleh kontraksi pada subkategori hortikultura, baik tanaman semusim maupun tahunan yang mengalami penurunan produksi.

Selain sektor riil, geliat ekonomi juga didorong oleh aktivitas jasa dan belanja pemerintah. Peningkatan konsumsi rumah tangga didominasi oleh kelompok makanan jadi, yang dipicu oleh maraknya festival UMKM serta efek pengganda (multiplier effect) dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).

“Peningkatan sektor transportasi juga sangat terasa, ditopang oleh aktivitas bongkar muat produk sawit dan distribusi bahan baku untuk input program MBG,” ujar Suri Handayani dalam paparannya.

Dari sisi belanja pemerintah, realisasi belanja pegawai baik melalui APBD maupun APBN mengalami kenaikan. Hal ini merupakan dampak dari penambahan jumlah Aparatur Sipil Negara (ASN) melalui jalur Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).

Di sisi lain, BPS juga mencatat adanya peningkatan impor bahan baku. Hal ini dipandang sebagai sinyal positif karena ditujukan untuk memenuhi kapasitas pengolahan industri Crude Palm Oil (CPO) di Sulawesi Barat, yang menandakan aktivitas hilirisasi industri tetap berjalan dinamis.

Laporan : Irham Siriwa

× Advertisement
× Advertisement