BANNIQ.Id. Yogyakarta Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Eddy Martono, mengajak generasi muda, khususnya Generasi Z, untuk bersikap kritis dan tidak mudah terpengaruh oleh kampanye negatif yang menyasar industri kelapa sawit.

Menurutnya, sektor sawit telah memberikan kontribusi nyata dan strategis bagi perekonomian nasional, baik dari sisi ketenagakerjaan maupun devisa negara.
Ajakan tersebut disampaikan Eddy saat menjadi pembicara kunci dalam Seminar Nasional “Menakar Industri Sawit dari Aspek Ekonomi, Sosial, dan Lingkungan” yang berlangsung di Fakultas Pertanian Universitas Pembangunan Nasional (UPN) “Veteran” Yogyakarta, Kamis (22/1).
Dalam paparannya, Eddy menegaskan bahwa industri sawit merupakan salah satu tulang punggung ekonomi Indonesia. Hingga saat ini, kelapa sawit tercatat sebagai penyumbang devisa terbesar di luar sektor migas dan batubara, sekaligus menjadi sumber penghidupan bagi jutaan masyarakat di berbagai daerah.
“Generasi muda, terutama Gen Z, perlu memahami bahwa sawit memiliki peran luar biasa bagi negeri ini. Jangan sampai opini negatif yang tidak berimbang justru mencemarkan industri yang telah memberi manfaat besar,” ujar Eddy dikutip dari infosawit.com Rabu (28/1/26).
Eddy menjelaskan, industri kelapa sawit menyerap sekitar 4,6 juta tenaga kerja langsung dari sektor hulu hingga hilir. Selain itu, terdapat sekitar 2,4 juta petani swadaya dan 1,5 juta petani plasma yang menggantungkan hidupnya pada komoditas sawit. Jika dihitung secara tidak langsung, tidak kurang dari 16,5 juta penduduk Indonesia bergantung pada keberlangsungan industri ini.
Ditambahkan, kampanye negatif yang dibiarkan tanpa diluruskan berpotensi membentuk persepsi keliru di masyarakat. Ia mengingatkan bahwa narasi yang terus diulang, meskipun keliru, lama-kelamaan bisa dianggap sebagai kebenaran.
Eddy juga menyoroti peran penting sawit saat Indonesia menghadapi tekanan ekonomi akibat pandemi Covid-19. Pada periode tersebut, industri sawit justru mampu menyumbang devisa hingga sekitar 39 miliar dolar AS. Lebih dari itu, sektor ini tidak melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK), bahkan tetap membuka peluang kerja baru, termasuk bagi lulusan perguruan tinggi./***






