BANNIQ.Id. Jakarta. Upaya meningkatkan produktivitas kelapa sawit nasional dinilai bukan perkara sederhana. Ketua Bidang Riset & Pengembangan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Dwi Asmono, menegaskan bahwa produktivitas sawit dipengaruhi berbagai faktor kompleks, mulai dari genetik, lingkungan, hingga aspek keamanan biologis. Menurut Dwi, capaian produktivitas nasional yang masih berada di kisaran 3,7 ton CPO per hektare menunjukkan masih besarnya tantangan yang harus dihadapi industri sawit Indonesia.
“Banyak yang mempertanyakan kenapa kita belum bisa mencapai tujuh ton. Tapi yang perlu dijawab lebih dulu, apakah sumber daya genetik kita sudah cukup kuat untuk menuju ke sana,” ujar Dwi dikutip dari InfoSAWIT Minggu ( 21/3/26).
Jejak Panjang dan Tantangan Genetik Sawit Indonesia Dwi menjelaskan, sejarah panjang sawit Indonesia turut memengaruhi kondisi genetik tanaman saat ini.
la mengingatkan bahwa awal mula sawit di Indonesia berasal dari introduksi terbatas pada masa kolonial. Sekitar tahun 1848, Belanda membawa sekitar 503 individu bibit sawit dari Afrika Barat ke Kebun Raya Bogor.
Dari jumlah yang sangat terbatas itu, sawit kemudian berkembang menjadi jutaan hektare perkebunan di seluruh Indonesia.
“Secara genetik, ini berarti kita mengalami penyempitan yang luar biasa,” ungkap Dwi.
Kondisi tersebut berdampak pada rendahnya keragaman genetik, yang dalam ilmu genetika berisiko meningkatkan kerentanan tanaman terhadap penyakit serta perubahan iklim.
“Kalau manusia saja dilarang kawin antar saudara, sawit pun begitu. Kita butuh ‘darah baru,” tambahnya.
Upaya Perkaya Plasma Nutfah dan Antisipasi Risiko Menyadari keterbatasan tersebut, GAPKI bersama Kementerian Pertanian dan BPDP telah melakukan berbagai upaya untuk memperkaya sumber daya genetik sawit nasional.
Introduksi benih dari berbagai wilayah seperti Afrika Barat, Amerika Selatan, hingga Tanzania dilakukan untuk meningkatkan keragaman plasma nutfah. Namun, langkah ini tidak lepas dari tantangan besar, terutama terkait aspek keamanan hayati.
Dwi menekankan bahwa setiap introduksi benih harus melalui prosedur karantina ketat guna mencegah masuknya penyakit berbahaya seperti phytophthora bud rot maupun jamur akar ganoderma yang telah menjadi ancaman serius di perkebunan Asia Tenggara./ham-asdar








