Kisah Ketegaran Penjahit yang Bertahan di Tengah Terpaan Badai Covid 19

Hits: 52

Pekerja di Usaha Marendeng Taylor milik Abd.Rasyid di Kompleks Pasar Baru Mamuju(photo:banniq.id)

BANNIQ.Id.Sulbar.| Terpaan badai Covid 19 yang melanda negeri ini hampir dua tahun terakhir, efeknya sangat dirasakan oleh masyarakat Indonesia hampir di semua kalangan dan tingkatan. Imbas dari Pandemi Covid 19 tersebut, tatanan sosial ekonomi masyarakat menjadi goyah, baik pada skala makro maupun mikro.

Pada skala mikro pandemi ini amat dirasakan oleh pelaku usaha kecil dan menengah, karena untuk mengatasi Pandemi ini, pemerintah menelorkan berbagai kebijakan, bukan hanya ketaatan tehadap prokes, tetapi masyarakat juga harus membatasi ruang dan frekuensi aktivitasnya, guna memperkecil skala penyebaran virus Covid 19, yang kemudian lazim disebut Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) maupun Pelaksanaan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) berskala Mikro.

Semua kebijakan itu harus ditaati untuk mendukung upaya pencegahan Covid 19, interval waktu kerja juga terpaksa diperpendek dari biasanya, namun di sisi lain skala pendapat masyarakat dari usaha yang digelutinya mau-tidak mau harus diterima sebagai satu konsekuensi, dan hal ini tentu bukan hal yang mudah karena menyangkut omset penghasilan yang juga untuk membiayai kelangsungan usaha yang menjadi sumber pokok penopang ekonomi Keluarga.

Imbas dari upaya penekanan penyebaran Covid 19 tersebut juga dirasakan pengelola usaha Jahitan,Marendeng Tailor di Mamuju Sulbar.

Rasyid selaku Pemilik Usaha Jahitan Marendeng Taylor yang menyewa dua buah lods di Pasar Baru Mamuju ini menjelaskan, omset usaha jahitannya pada masa sebelum Pandemi Covid 19 dengan sekarang dalam situasi Covid 19, menurun hingga 50%.

” Yang jelas pada saat Pandemi sekarang ini, omset kami itu menurun hingga 50%, dibandingkan pada saat sebelum Covid 19,” jelas Rasyid pada Banniq,Id, saat ditemui di Lods Jahitannya,Senin (23/8).

Dalam hitungannya, untuk order yang bisanya masuk setiap bulan, di masa sebelum Pandemi ia bisa mendapatkan order sampai 5 setiap bulan dengan omset Rp.5 juta Rupiah bersih.

” Sebelum pandemi biasa kita dapat orderan atau pesanan meskipun partai kecil sampai 5 pesanan setiap bulan, namun di masa Pandemi ini untung kalau ada satu orderan yang masuk,” imbuh ayah satu anak ini.

Dengan menurunnya omset dan pesanan yang tidak sebesar pada masa sebelum Pandemi Covid 19, berimbas juga terhadap kapasitas pekerja yang sekarang tinggal memiliki dua penjahit.

” Penjahit saya dulu ada 4 orang, tapi karena pesanan sudah tidak seperti waktu sebelum Pandemi Covid 19, sekarang tinggal 2 orang, yang dua untuk sementara pulang ke kampung di Majene menjahit di sana nanti kalau situasi kembali normal baru kembali lagi ke sini,” bebernya.

Meskipun usahanya diterpa badai Pandemi, namun pria energik ini tak mau kalah dengan situasi, dan tetap tegar menjalani usahanya yang telah dirintisnya sejak 8 tahun yang lalu itu, dengan modal sewa HGB dua Lods yang menjadi pusat aktivitas usahanya.Dan iapun tak pernah mengeluh dengan kondisi yang terjadi sekarang yang membuat usahanya menurun, dan dirinya tetap taat membayar kewajibannya ke pemerintah dengan membayar pajak perbulan sebesar Rp.50 ribu untuk satu Lods.

” Kita juga tetap taat membayar pajak sewa tempat ke pemerintah, karena saya mengambil dua Lods saya bayar Rp.100.000/bulan untuk dua Lods, ditambah retribusi pasar Rp.2000/hari, meskipun retribusi perhari ini kita tidak dipaksakan untuk bayar,” jelasnya

Kendati demikian, di tengah pandemi sat ini i juga memiliki kerinduan agar Pandemi ini segera berakhir, agar semua kondisi kembali seperti dulu sebelum Covid 19, termasuk untuk penghasilannya.

Selain kerinduan akan kembalinya situasi seperti dulu, ia juga tak menapikkan jika ada bantuan dari pemerintah sekedar untuk penunjang kelancaran usaha, yang diakuinya sejak Pandemi berlangsung baru sekali pernah mendapatkan bantua dari Perindustrian sebagai kompensasi usaha.

” Untuk bantuan pemerintah kami tidak bergantung di situ, jika ada kita dibantu yang Alhamdulillah, dan jika tidak ada yah apa boleh buat kita tetap akan melanjutkan usaha, untuk bantuan sendiri selama Covid 19 kami sudah pernah dibantu Dinas Perindustrian sebesar Rp.1.800.000, kami syukuri dan berterima kasih kepada pemerintah atas bantuan tersebut,” pungkasnya.|Abd.Samad.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *