BANNIQ.Id. Polewali Mandar — Malam terakhir tahun 2025 di Rumah Jabatan Bupati Polewali Mandar tidak sekadar menjadi penanda pergantian kalender. Ia menjelma menjadi ruang perenungan, tempat pemerintah daerah menengok ke belakang sekaligus menatap ke depan.

Di sanalah, Rabu malam, 31 Desember 2025, catatan sepuluh bulan kepemimpinan Bupati H. Samsul Mahmud dan Wakil Bupati Hj. Andi Nursami Masdar dibuka untuk dibaca bersama.
Refleksi Akhir Tahun yang digagas Sekretaris Daerah (Sekda) Polman, Nursaid Mustafa, bukanlah seremoni biasa. Forum ini dirancang sebagai ruang evaluasi terbuka—dialog antara pemegang kebijakan dan suara masyarakat. Hadir langsung Bupati dan Wakil Bupati, serta seluruh pejabat Eselon II di lingkungan Pemerintah Kabupaten Polewali Mandar, menyimak, mencatat, dan menimbang.
Yang membuat refleksi ini berbeda adalah kehadiran Tim ASSAMI, relawan sekaligus tim pemenangan Samsul–Nursami pada Pilkada lalu. Mereka datang bukan untuk bernostalgia politik, melainkan membawa denyut aspirasi dari lapisan masyarakat paling bawah. Kritik, harapan, dan kegelisahan disampaikan apa adanya, menjadi cermin bagi wajah pelayanan publik Polman hari ini.
Dalam suasana dialogis dan terbuka itu, Kepala Dinas Kominfo SP Polman, Aco Musaddad HM, merangkum sejumlah isu strategis yang mencuat. Pelayanan kesehatan masih menjadi pekerjaan rumah utama, disusul pemerataan dan peningkatan mutu pendidikan, terutama di wilayah pelosok. Infrastruktur jalan dan pengelolaan lingkungan—khususnya sampah—tak luput dari sorotan. Begitu pula persoalan ketenagakerjaan, dengan tuntutan nyata penciptaan lapangan kerja bagi pemuda lokal, serta penguatan citra daerah melalui komunikasi publik dan pengelolaan isu di media sosial.
Merespon auto kritik yang mengalir, Bupati H. Samsul Mahmud memilih berdiri di posisi mendengar. Ia menyampaikan apresiasi atas masukan yang disampaikan secara terbuka dan konstruktif, seraya menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk tidak menutup mata terhadap kekurangan.
“Pemerintah tidak akan menutup telinga terhadap kritik dan kekurangan yang ada. Terima kasih atas seluruh masukannya. Kami akan terus berbenah dan mengevaluasi setiap kebijakan demi pelayanan terbaik bagi seluruh masyarakat Polewali Mandar,” ujarnya.
Tak hanya merespons kritik, Bupati Samsul Mahmud juga memaparkan capaian kinerja makro daerah dalam sepuluh bulan kepemimpinannya. Data demi data disampaikan sebagai penanda arah perubahan. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Polewali Mandar meningkat dari 69,88 poin pada 2024—kategori sedang—menjadi 70,71 poin pada 2025, masuk kategori tinggi. Angka kemiskinan pun menurun signifikan, dari 15,66 persen pada 2024 menjadi 14,02 persen di 2025, menjadikan Polman sebagai daerah dengan penurunan kemiskinan paling menonjol di Sulawesi Barat.
Angka-angka itu bukan sekadar statistik, melainkan harapan yang mulai menemukan bentuk. Namun refleksi malam itu juga menyadarkan semua pihak bahwa perjalanan belum selesai.
Menutup diskusi, Sekda Nursaid Mustafa menyampaikan pesan yang meneguhkan arah langkah birokrasi. Ia mengajak seluruh pimpinan Organisasi Perangkat Daerah menjadikan kritik sebagai energi perubahan, bukan catatan seremonial yang mengendap di rak laporan.
“Mari kita jawab seluruh kritik dan masukan ini bukan dengan kata-kata, tetapi dengan kerja nyata untuk Polewali Mandar yang lebih baik di tahun 2026,” tegasnya.
Refleksi akhir tahun pun berakhir, namun gaungnya diharapkan terus hidup. Ia menjadi titik tolak—bahwa menyongsong 2026, Polewali Mandar tidak hanya membawa catatan capaian, tetapi juga kesadaran untuk terus memperbaiki diri, menghadirkan pelayanan publik yang lebih manusiawi, dan memastikan pembangunan yang kian merata serta berkelanjutan./***






