BANNIQ.Id . Jakarta — Upaya memperkuat ketahanan energi dan pangan nasional tidak selalu berangkat dari kebijakan besar di hilir. Dalam banyak kasus, fondasinya justru dibangun jauh dari sorotan publik—di ruang-ruang riset genetika dan dalam ekspedisi sunyi menjelajahi sumber daya hayati dunia.

Langkah inilah yang kini ditempuh Indonesia melalui pengayaan Strategic Genetic Diversity (SDG) kelapa sawit. Sebuah strategi hulu yang dampaknya melampaui batas laboratorium, menyentuh masa depan pangan, energi, dan posisi geopolitik Indonesia sebagai produsen sawit terbesar dunia.
Dalam jangka pendek, riset ini membuka akses terhadap sumber genetik baru yang krusial bagi perakitan varietas unggul. Namun dalam perspektif jangka panjang, manfaatnya jauh lebih mendasar.
Menjaga kesinambungan pasokan minyak sawit, memperkuat ketahanan nasional, sekaligus memastikan industri sawit Indonesia tetap relevan di tengah tekanan global terhadap isu keberlanjutan.
” Ini bukan sekadar riset, ini tentang keberlanjutan industri sawit Indonesia, kita tidak hanya bicara hasil panen hari ini,tetapi kemampuan menjaga produktivitas untuk generasi berikutnya,” tegas Edy Suprianto, Senior Vice President Business Development PT Riset Perkebunan Nusantara (RPN),dikutip dari Info Sawit.Com,Minggu (4/1/26).
Salah satu tonggak penting dari agenda besar ini adalah proyek eksplorasi genetik sawit di Tanzania, Afrika Timur. Proyek tersebut menjadi momentum bersejarah karena untuk pertama kalinya mendapat dukungan langsung dari Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP).
Dukungan ini tidak berhenti pada pembiayaan riset, tetapi mencakup penyediaan fasilitas karantina genetik hingga program beasiswa magister bagi staf Tanzania Agricultural Research Institute (TARI) melalui Program Plant Breeding and Biotechnology yang dimulai pada September 2025.
“Kolaborasi ini menunjukkan komitmen bersama antara pemerintah, dunia usaha, dan lembaga riset, Kami ingin memastikan Indonesia tidak tertinggal dalam inovasi genetika sawit, karena di situlah kunci daya saing jangka panjang berada.” imbuhnya.
Menurutnya, Langkah ini sekaligus menegaskan bahwa pembangunan industri sawit berkelanjutan tidak lagi cukup mengandalkan perluasan areal atau peningkatan efisiensi produksi semata. Ketika ruang ekspansi semakin terbatas dan standar keberlanjutan global kian ketat, penguasaan dan konservasi sumber genetik menjadi penentu masa depan.
Jejak riset sawit Indonesia sendiri mencerminkan perjalanan panjang tersebut. Dari laboratorium sederhana di Deli pada masa awal pengembangan sawit, hingga kini menjangkau eksplorasi genetik lintas benua di Afrika Timur. Arah kebijakannya semakin terang: keberlanjutan bukan semata soal volume produksi, tetapi tentang pengetahuan, inovasi, dan penjagaan warisan genetik.
Seperti disampaikan Edy Suprianto, masa depan sawit Indonesia sangat ditentukan oleh keputusan hari ini.
“Jika kita ingin sawit tetap menjadi kebanggaan Indonesia hingga 100 tahun ke depan,” katanya, “maka kita harus menjaga akar genetiknya sekarang.”Pungkasnya./***






