Merawat Kearifan dan Material Culture Melalui Gestur Majene Kota Tua

Hits: 42

Salah satu bangunan tua Peninggalan Belanda yang berada di Belakang Kantor TP PKK Majene, Bangunan ini diduga berfungsi sebagai stasiun Radio pada masa Pemerintahan Afdeling Mandar(photo:Ridwan Alimuddin)

BANNIQ.Id.Sulbar.Budaya merupakan salah satu unsur pembentuk Indentitas, dan untuk mengenal kepribadian suatau bangsa dapat dilihat dari corak budayanya. Agar generasi muda tak terasing dari nilai budaya dan kearifan lokal yang diwariskan oleh generasi sebelumnya, proses transformasi nilai-nilai budaya tersebut penting dilakukan untuk mencegah tergerusnya nilai budaya lokal itu oleh budaya dari luar.

Salah satu ruang yang dapat digunakan untuk membangun dan merawat nilai budaya dan kearifan lokal adalah melalui pendidikan, kepada siswa dengan pendidikan karakter mereka dapat menjadi agen untuk melanggengkan nilai dan menjaga serta merawat material Culture yang diwariskan oleh generasi sebelumnya.

Untuk di Provinsi Sulbar sendiri gagasan ini telah didesain dalam satu konsep Formulasi pendidikan karakter bagi siswa SMA dan SMK berupa pengenalan khasanah budaya yang dimiliki oleh Sulbar. Untuk merealisasikannya pihak Disdikbud akan membuat pemetaan wilayah sesuai ikon budaya di wilayah Sulbar.

” Konsepnya kita sudah ajukan ke Gubernur, jadi untuk penguatan pengenalan budaya ini sebagai bagian dari pendidikan karakter, kita akan petakan sesuai ikon budaya masing-masing, untuk Majene dengan konsep Kota Tua, kemudian di Tinambung dengan konsep Taman budaya di Buttu Ciping, di Mambi dengan ikon Lantang kada Nene, kemudian di Kalumpang dengan situs Minanga sipakko,” Ujar Kadis Dikbud Sulbar Prof.Dr Gufran Darma Ditawan via gawainya belum lama ini.

Pada posisi tersebut, dua lembaga memang harus bersinergi dan berkolaborasi untuk merealisasikannya, untuk pendidikan karakternya dengan edukasi tentang nilai-nikai buday kepada para siswa itu menjadi ranah dari Disdikbud dan untuk material Culturenya dilaksanakan oleh Dispar.

” Penerapan konsep ini memang harus ada kolaborasi dan sinergitas antara Disdikbud dan Dispar, Disdikbud untuk pengenalan nilai budayanya untuk mewujudkan Karakter Building, kemudian untuk Dispar Material kulturnya, agar para siswa tersebut mengenal budaya benda itu sebagai pendukung kehidupan sosial masa lalu,” imbuhnya.

Terkait untuk Majene dengan konsep Kota Tua, yang sebentar lagi akan merefleksi aktivitas kehidupan di Jaman pra dan pasca kemerdekaan dimana Majene sebagai pusat pemerintahan afdeling Mandar, sebut gufran juga telah dilakukan pendalaman dan pengkajian, terutama alasan Belanda sehingga memilih Majene sebagai Pusat pemerintahan.

” Untuk Majene dengan konsep Kota tua, kita juga sudah melakukan pengkajian dan pendalaman untuk kita transformasi dalam konsep pendidikan karakter tersebut, terkait hal-hal yang menjadi pertimbangan pemerintah Hindia Belanda menjadikan Majene sebagai pusat Pemerintahan Afdeling Mandar, selain karena teluk dengn perairan yang dalam untuk pelabuhan dan topografinya wilayahnya yang juga berbukit yang cocok untuk benteng pertahanan,” simpul mantan Wakil Rektor IV UNM ini.|asd

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *