Seri Tulisan Jelang Festival Kota Tua Majene (Perang Ammana Wewang dan Jatuhnya Mandar, 3)

Hits: 43

Mercusuar yang Dibangun Belanda Sekiira 100 Tahun Lalu, terletak di Perbukitan Rangas Kecamatan Banggae Timur(photo:Muh.Ridwan Alimuddin)

Perang Ammana Wewang dan Jatuhnya Mandar (3)
Oleh: Muhammad Ridwan Alimuddin, (pemerhati sejarah Mandar)


BANNIQ.Id.Opini.Berbagai cara dilakukan Belanda agar Tokape berubah pendirian. Namun tak berhasil. Belanda kemudian melakukan trik adu domba. Dia membujuk Mandawari untuk bisa bekerjasama. Ada rumor, jika Mandawari berhasil, dia akan dijadikan kembali sebagai maraqdia. Mandawari tergoda. Dia pun mengiyakan untuk melemahkan dan menghancurkan kedudukan Tokape.

Salah satu bentuk dukungan Mandawari terhadap Belanda, yang juga menjadi strategi perlawanan terhadap Tokape adalah pendirian loji (benteng) di dekat rumah Mandawari. Di loji tersebutlah Belanda memperkuat pertahanan. Setelah dirasa kuat pertahanannya, Belanda mengajukan perundingan dengan Tokape. Permintaan Belanda disetujui oleh Tokape dengan syarat: kedua belah pihak dilarang bersenjata memasuki daerah perundingan, pengawal kedua belah pihak harus berada di pos masing-masing, tempat pertemuan disetujui kedua belah pihak.

Utusan perundingan Tokape yang hadir adalah Ammana I Wewang, Ammana I Pattolawali, Ajuara, Sumakuyu, dan Parrimuku. Dalam pertemuan itu, Belanda seolah-olah mau memaksakan keinginannya. Tokape dipaksa untuk menandatangani naskah perjanjian yang telah disiapkan oleh Belanda. Akibatnya, Tokape merobek-robek naskah tersebut di hadapan Belanda.

Ammana I Wewang menyadari situasi perundingan yang memanas. Tiba-tiba dia berdiri menyentakkan kakinya di tanah seraya berkata “Tuan-tuan Belanda ini seperti tidak tahu aturan. Rupanya tuan-tuan ini kurang ajar di negeri kami. Tuan-tuan orang kulit putih, tidak berhak mengatur kami. Negeri ini adalah negeri orang Mandar. Tuan-tuan adalah tamu kami untuk datang berdagang. Kalau mau berkuasa di mandar ini kami tidak terima.

“Lebih baik tuan-tuan cepat meninggalkan ruangan sebelum saya marah. Ayo pulang cepat dan kalau tidak saya bunuh tuan-tuan di tempat ini.” Marah Ammana I Wewang menciutkan nyali Belanda. Mereka pun cepat-cepat meninggalkan tempat perundingan.

Ammana I Wewang atau I Caloq Ammana I Wewang adalah pejuang melawan Belanda di awal abad ke-20. Dalam perlawanannya tertangkap dan diasingkan ke pulau Belitung, lebih tiga puluh tahun lamanya. Lahir di Kampung Lutang (sekarang di dalam wilayah Kel. Tande, Kec. Banggae, Kab. Majene), 1854. Buah perkawinan I Gaqang dengan I Kena. I Gaqang, Marqdia ‘Raja’ Alu, I Kena adalah putri Maraqdia Banggae. Neneknya dari pihak bapaknya bernama Maqdusila alias Lippo Ulang, Maraqdia Pamboang, dan neneknya dari pihak ibu ialah To Cabang Maraqdia Pamboang.

Sebelum memperoleh keturunan dari permaisuri, dipopulerkan dengan panggilan Ammana I Wewang. (I Wewang, nama seorang kemanakan permaisurinya. Pengenakan gelar/panggilan seperti itu, sudah menjadi tradisi bagi keturunan bangsawan Mandar. Tidak sopan atau tidak hormat jika masih menyebut nama pribadi (nama kecil) kepada seseorang bangsawan setelah berkeluarga).

Dia mempunyai tiga saudara yaitu, Kacoq Puang Ammana I Pattolawali, Cacaqna Pattolawali, dan Cacaqna I Sumakuyu. Pada usia ke-30 dinobatkan menjadi Maraqdia Malolo Kerajaan Balanipa menggantikan I Tamanganro. (Yang memangku jabatan Maraqdia Balanipa waktu itu ialah Tokape). 1886 ia dilantik menjadi Maraqdia Alu, dan tetap sebagai Maraqdia Malolo Balanipa.
Adapun adiknya, Ammana I Pattolawali turut pula dilantik sebagai Maraqdia Malolo di Kerajaan Alu merangkap jabatan yang sama di Kerajaan Pamboang dan Kerajaan Banggae.

Di kedua kerajaan yang ada di Majene tersebut sepupu yang juga mertuanya menjabat sebagai maraqdia.
Pemberontakan Tokape terjadi pada 1872-1873, hanya 1 tahun. Sangat singkat bila dibandingkan Perang Diponegoro atau Perang Makassar. Tokape diangkat menjadi maraqdia pada tahun 1872. Dia diangkat oleh “Appeq Banua Kayyang” (Napo, Samasundu, Mosso dan Todang-todang) menjadi Arayang Balanipa menggantikan I Mandawari. Sebagai pemimpin baru, oleh Belanda ingin memperbaharui kontrak dengannya. Tapi isinya memberatkan rakyat Mandar.

Bersama maraqdia lain dari anggota Baqbana Binanga, disepakati untuk menyepakati kontrak yang diajukan oleh Belanda. Tapi bentuk penolakan berbeda, menentang dengan senjata oleh Balanipa, Banggae, Pamboang dan Binuang; dengan diplomasi oleh Sendana, Tappalang, dan Mamuju.

Perlawanan oleh Kerajaan Balanipa dipimpin oleh Tokape dan Calo Ammana I Wewang. Perlawanan mereka tidak mampu dibendung oleh Belanda. Maka mereka meminta bala bantuan dari Makassar. Malangnya, bantuan dari Makassar diserang oleh sekutu Balanipa dari Kerajaan Labakkang yang dipimpin oleh Andi Marudani Karaeng Bonto-bonto. Karaeng Bonto-bonto berjibaku dengan Tokape melawan Belanda.

Ammana I Wewang sebagai penanggung jawab keamanan, serentak mempersiapkan kekuatan untuk membendung kemungkinan serangan dari berbagai arah. Istana Lekopaqdis (Tinambung) diberi pengamanan berlapis-lapis. Kurang lebih dua bulan lamanya peristiwa perundingan, datanglah bantuan serdadu dari Makassar dengan dua buah kapal perang.

Satu kapal berlabuh di Pelabuhan Majene, satunya di Pamboang. Saat tiba dini hari, mereka langsung menembakkan meriam sambil menurunkan sekoci yang memuat serdadu pendaratan. Majene dan Pamboang digempur dan diduduki, pasukan mundur untuk kemudian bertahan mati-matian di Lekopaqdis. Akhirnya, istana Lekopaqdis dibakar Belanda. Tokape terkepung di istananya di Lekopaqdis untuk kemudian ditangkap Belanda.

Ada versi mengatakan menyerahkan diri untuk melindungi pasukan dan sekutunya. Sayangnya, bantuan yang dipimpin langsung Ammana I Wewang dan Ammana I Pattolawali datang terlambat, Tokape langsung diangkut ke atas kapal untuk kemudian dilayarkan ke Makassar pada 4 November 1893.

Terbakarnya kediaman Tokape di Lekopadis yang juga istana kerajaan dikabarkan menjadi penyebab musnahnya benda-benda pusaka Kerajaan Balanipa, warisan Todilaling. Yaitu bendera Kerajaan Balanipa yang diberi nama I Sorai, gong Taqbe Lobe, tombang “doe pakka”, gendang “gandrang tallu”, dan lain-lain.

Hampir dua bulan ditahan di Makassar untuk selanjutnya dibawa ke Batavia untuk diadili. Keputusannya, dia diasingkan ke Jawa Timur, di Pacitan.(Bersambung.)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *