Seri Tulisan Jelang Festival Kota Tua Majene (Perang Ammana Wewang dan Jatuhnya Mandar (1)

Hits: 61

Koran Berbahasa Belanda yang memuat berita Ammana Wewang(photo:Ridwan)

Perang Ammana Wewang dan Jatuhnya Mandar (1)
Oleh: Muhammad Ridwan Alimuddin, pemerhati sejarah Mandar

BANNIQ.Id.Opini.Ammana I Wewang yang menggantikan kepemimpinan I Baso Boroa Tokape (biasa disingkat Tokape saja) melawan penjajah menikmati kemenangan serangan pasukannya ke perkemahan Belanda di Camba, Majene. Tapi itu hanya kurang dua bulan. Pada saat yang sama, Belanda melakukan persiapan serangan total sebagai ‘pukulan terakhir’ ke kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan yang tidak mau tunduk.
Kerajaan paling kuat, tidak mau tunduk ke Belanda dan memiliki pengaruh ke beberapa kerajaan kecil adalah Kerajaan Bone. Itulah sebab kegiatan Belanda itu diberi nama “Boni Expeditie”, Juni 1905. Ekspedisi perang yang banyak menguras harta dan nyawa pasukan Belanda.

Guna memperingatinya, di Makassar pernah ada monumen yang bertujuan mengenang pejuang mereka yang gugur. Monumen yang dibangun pada 1910 itu berupa patung logam perempuan bersayap. Di bawahnya ada relief singa, lalu ada teks. Patungnya hilang, tinggal relief logam singa yang dipindahkan ke halaman kantor BPCB (Badang Pelestarian Cagar Budaya) Makassar di dalam kompleks Benteng Rotterdam.
Boni Expeditie mengubah lanskap perlawanan terhadap Belanda oleh beberapa kerajaan. Kemenangan Belanda di Bone, yang berhasil menangkap Lapawawoi, di Sidrap menvakumkam kepemimpinan raja di Bone. Nanti 26 tahun kemudian baru ada pelantikan raja, yakni dilantiknya Mappanyukki.

Menarik, 238 tahun sebelum Boni Expedition ada kejadian yang ‘bertolak belakang’ dengan peristiwa tahun 1905. Pada tahun 1667 Belanda mengalahkan Kerajaan Gowa. Lalu Belanda meminta sekutunya, Kerajaan Bone agar meminta sekutu Kerajaan Gowa di Mandar untuk ikut takluk sebagaimana takluknya Kerajaan Makassar. Tapi kerajaan di Mandar, dalam hal ini Kerajaan Balanipa menolak. Penolakan tersebut mendorong Belanda dan Bone untuk menyerang Balanipa di 1669. Maka disinilah tampil Daeng Rioso, yang berhasil mempertahankan eksistensi Kerajaan Balanipa meski perang tersebut mengorbankan sobatnya dari Kerajaan Banggae (Majene).

Lebih dua abad kemudian, Bone tak lagi bersekutu Belanda, sebaliknya dia melawan. “Boni Expeditie” digelar, kerajaan-kerajaan di Mandar yang tetap tak patuh kena imbasnya. Makassar tak sudah dikuasai sejak lama, setidaknya saat Perjanjian Bungaya. Untuk menaklukkan Mandar, tak lagi mengirimkan pasukan Bone, tapi Belanda secara langsung, bersama pasukannya yang sebagian besar berasal dari Jawa, Ambon dan Minahasa. Merekalah yang disebut dengan istilah “marsose”.

Marsose berasal dari bahasa Belanda, “marechaussee”. Awalnya Korps Marechaussee te Voet atau Marsose di Belanda dibentuk pada 26 Oktober 1814 oleh Pemerintah Belanda. Marsose juga disebut sebagai tentara bayaran yang dalam istilah bahasa Inggris disebut “mercaneries”, kesatuan prajurit yang disewa untuk memenangkan peperangan.

Marsose tidak memperdulikan siapa lawannya, baik itu pribumi atau orang asing. Terpenting adalah mereka mengabdi dengan sepenuh hati untuk orang yang membayar mereka. Marsose adalah respon atas kesulitan Hindia Belanda dalam melumpuhkan perlawanan pejuang Nusantara silam sebab sebagai orang yang hidup di kawasan tropis, mereka terbiasa dengan lingkungan yang panas dan ganas, misalnya berjalan kaki jauh dan kebiasaan bertempur jarak pendek menggunakan senjata tajam lokal.

Pasukan marsose hanya dipimpin satu dua orang Eropa (tidak melulu Belanda, kadang Jerman atau warga negara lain yang bekerja untuk pemerintah Belanda), sisanya orang Nusantara sendiri yaitu Ambon, Minahasa dan Jawa. Makanya, bila kita melihat foto-foto pasukan Belanda tempo dulu, di situ banyak juga wajah-wajah pribumi. Mereka prajurit berpangkat rendah, komandan-komandannya orang Eropa.

Metode mencampur orang Belanda dengan orang pribumi berlanjut ketika suatu kerajaan atau kawasan ditaklukkan. Mereka ditempatkan sebagai pejabat administrasi. Misalnya di Afdeling Mandar, dipimpin oleh seorang Asisten Resident yang oleh orang Mandar menyebutnya “petor kaeyyang”. Di bawah Afdeling ada Onderafdeling yang dipimpin controler atau gezaghebber yang disapa “tuan petor”. Kedunya hampir selalu dipegang langsung orang Eropa.

Dalam menjalankan sistem pemerintahan, controleur dibantu pamong praja yang ‘diperankan’ warga pribumi. Mereka disebut Bustuur Assistent (BA) dan Hulpbestuur Assistent (HBA). Lalu pegawai diantaranya sebagai jaksa, pemeriksa jalan, pegawai pajak, mantri cacar, jururawat, jurubahasa, klerk, jurutulis dan opas. Untuk jabatan dan pegawai rendahan di atas, pemerintah Hindia Belanda melatih dan menyekolahkan kelurga bangsawan lokal. Ketika menyelesaikan pendidikan pamong praja, mereka diberi gelar “Andi”. Ya, itulah cikal bakal sehingga istilah “Andi”, belakangan menjadi gelar kebangsawanan.(Bersambung)


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *