Puasa Dalam Perspektif Tasawuf

Hits: 124

Ir.H.Tanawali,M.AP.saat menjadi Khatib di Masjid Nurul Amin Padang Baka Mamuju(photo:repro)

IBANNIQ.Id.Mamuju. Hutbah Jum’at 11 Ramadhan 1342 H/ 23 April 2021 Di mesjid Nurul Amin Padang Baka’ Mamuju dengan Tema, Puasa dalam perspektif / pandangan Tasawwuf, yang disampaikan oleh Ir H Tanawali M.Ap.

‎اَلْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ءَالِهِ وَاَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَمَّا بَعْدُ: فَيَاعِبَادَ اللهِ : اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَ اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ.

‎قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ:
يٰٓـاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا كُتِبَ عَلَيۡکُمُ الصِّيَامُ کَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيۡنَ مِنۡ قَبۡلِکُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُوۡنَۙ

nnal hamda lillah, nahmadhuhu, wanasta’inuhu wa nastagfiruhu wana’udzu billahi min sururi anfusinana waman ya’mal a’malina, man yahdillahi, pala mudillalah wa man yudlil pala hadia lah wa asyhadu an lailaha illallah wahdahu lazarikalah wa asyhadu anna muhammadan abduhu warasuluhu

Allahumma syalli ala sayyidina Muhammad wa’ala alihi wa’ ashabihi ajma’in

Amma ba’ad, paua ibadallah isikum wa nafsi bi takeallah eata’atihi la allajum tuplihun

Wa kalallahu ta’ala pi kitabil karim Yaa ayyuhalladhina amanu ttakulkaha ala hakka tukatihi wala tamutunna illa wa abtim muslimun,

Wa kala ta’ala Ya ayyuha allatheena amanoo kutiba AAalaykumu alssiyamu kama kutiba AAala allatheena min qablikum laAAallakum tattaqoona

Amma Ba’ad

Alhamdulillah tidak terasa sudah seminggu lebih umat Islam menjalankan kewajiban puasa Ramadlan. Sebagai ibadah yang bersifat privat (pribadi), yakni semata-mata hubungan kita sebagai hamba terhadap Tuhannya, puasa berbeda dengan ibadah-ibadah lain, dimana keterlibatan dan pengetahuan orang lain begitu nyata dan jelas. Dalam shalat misalnya, orang bisa melihat bagaimana kita shalat. Begitu pula dalam ibadah haji dan zakat. Hal ini bereda dengan ibadah puasa.

Dan semoga ibadah puasa yang kita laksnakan Insya Allah akan menambah ketakwaan kita kepada Allah SWT
Sebagaimana firman Allah Dalam surat Al-Baqarah ayat 183

‎يٰٓـاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا كُتِبَ عَلَيۡکُمُ الصِّيَامُ کَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيۡنَ مِنۡ قَبۡلِکُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُوۡنَۙ

Ya ayyuha allatheena amanoo kutiba AAalaykumu alssiyamu kama kutiba AAala allatheena min qablikum laAAallakum tattaqoona

Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,

Dan tentunya, shalawat serta salam semoga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad SAW beserta keluarganya dan para sahabatnya. Semoga kita mendapat safa’at nya di akhirat kelak

Sidang shalat Jumat yang dirahmati Allah SWT

Hutbah jumat kita kali ini dengan Thema Puasa dalam perspektif / pandangan Tasawwuf

Berpuasa, adalah upaya manusia meneladani sifat-sifat Allah, sesuai dengan kedudukan manusia sebagai makhluk.

Puasa pada halekatnya meneladani sifat Allah … beragama itu upaya meneladani sifat2 Tuhan, Tuhan itu sifat2nya indah, kalau mau beragama teladani sifat Tuhan,, nah ini juga kita temukan dalam tuntunan Nabi yang menyatakan

“takhallaku bi akhlak Allah”,
ber akhlak lah dengan akhlak nya Allah,

Nah puasa dimana letaknya, kita manusia banyak kebutuhan tetapi bisa jadi dikatakan bahwa kebutuhan fa’ali itu yg paling mendesak(makan minum), maka dalam konteks meneladani sifat Allah yang pertama di perintahkan dalam puasa ini adalah yang berkaitan dengan fa’ali (yang berkaitan dengan tubuh kita) jangan makan, minum dan berhubungan seks.

Dalam hal ini al-Ghazali menguraikan dalam Ihya’ Ulum al-Din (1/311): “Dapat dipahami bahwa yang menjadi tujuan dari puasa adalah (melatih kita) berakhlak dengan akhlak-akhlak yang dimiliki oleh Allah dan mengikuti malaikat dalam menahan diri dari syahwat berdasarkan kadar kemampuan, karena malaikat disucikan dari syahwat-syahwat. Adapun manusia derajat atau tingkatnya di atas binatang. Ini disebabkan kemampuan manusia dalam mengalahkan syahwatnya dengan cahaya akal.”

Lebih dari itu Guru saya (al Muqarram DR KH Ilham Saleh M.Ag) mengatakan Puasa itu sifat Tuhan tdk makan dan tidak minum, kita jg ambil sifat tdk makan dan tidak minum

Jamaah sholat junay rahimakumulkah

Tuhan tdk makan, tidak minum,
manusia perlu makan, minum, teladani Tuhan sesuai kemampuan kita utk meneladani, islam mengukur manusia yg normal bisa tdk makan mulai dari terbitnya fajar, sampai terbenangnya matahari, niatkanlah meneladani sifat Tuhan sesuai kemampuan tidak minum, tidak makan tidak berhubungan seks, itu puasa

Tetapi sebenarnya hakekat puasa bukan hanya itu, sifat-sifat Tuhan yang lain harus kita teladani

Nabi Adam waktu diperintahkan turun ke bumi, turunlah ke bumi bersama pasanganmu, nanti klau datang petunjuk-Ku, ikuti petunjuk itu, maka sampaikah adam ke dunia, dia lihat dan dia temukan 3 hal; yang pertama dia temukan segala sesuatu disini pada tempatnya, dia lihat dirinya ada alis, oh keringat saya supaya tdk jatuh, kok ada kelopak mata dia menemukan kebenaran yang kedua keindahan, indah betul bintang itu, indah betul mawar ini, yang ketiga yang iya temukan kebaikan; duduk capek berjalan bersandar di pohon tiba2 ada angin sepoi, apa ini,,, indah betul, enak betul, dia menemukan 3 hal, tatapi apa yg ditemukan dari 3 hal ini, itu tdk langgeng, bintang menghilang di siang hari, maka dia berusaha mencari apa yg yang paling indah, paling benar dan paling baik, disitulah menemukan bahwa Allah itu maha suci/ Qudus

Maka upayakanlah mewujudkan kesucian dalam hidup ini. Suci adalah gabungan tiga hal, yaitu baik, benar, dan indah, maka Adam AS ingin berusaha utk meneladani Tuhan dan sifat-sifatnya, lahirlah akhlak,,,lahirlah antara lain tuntunan puasa, jadi ber puasa meneladani sifat Tuhan,

Dengan meneladani sifat al-Quddus, orang yang berpuasa menyucikan dirinya lahir dan batin, serta mengembangkan diri sehingga selalu berpenampilan indah, baik dan benar.

Tuhan maha pemaaf, (sifat al-‘Afuww) klau ada yg nengganggu kamu maafkan, sampaikan padanya kata nabi sy berpuasa,

Tuhan maha mengetahui, berupaya ketika berpuasa ini banyak tahu yang bermanfaat buat kita; baca quran tadarrus ya kan,

Tuhan maha dermawan, berusahalah utk meneladani sifat ini sesuai kenampuan, memberi sedekah kepada siapa yg berhak menerima, mamberi makan fakir miskin
Sifat al-Rahman. Orang yang berpusa hendaklah ia melatih diri dengan senantiasa mengasihi dan menyayangi sesama.

Dengan meneladani sifat al-Rahim, orang yang berpusa memberi kasih kepada saudara-saudara seiman sambil meyakini bahwa tiada kebahagiaan kecuali bila rahmat-Nya /Pammase puang di hari akhir dapat diraih.

Karena itulah Imam al-Ghazali dalam Bidayat al-Hidayah-nya (hlm. 59) berkata: “Apabila kamu berpuasa, maka janganlah kamu menyangka bahwa puasa hanyalah meninggalkan makan, minum dan persetubuhan saja. Akan tetapi, kesempurnaan puasa adalah dengan menahan seluruh anggota tubuh (yaitu pendengaran, penglihatan, lisan, tangan, kaki, dan lainnya) dari apa yang dibenci oleh Allah SWT.”

Jamaah rahimakumullah

Demikian seterusnya dengan sifat-sifat Tuhan yang lainnya, yang harus dihayati esensinya untuk diteladani sesuai dengan kemampuan kita sebagai manusia.

semua sifat-sifat Allah yang kita kenal dengan Asma’ul Husnah yang 99 itu, menurut imam al Gazali semuanya kita bisa teladani sesuai kemampuan kita kecuali satu yaitu sifat Ketuhanannya kita tdk bisa teladani,,, jadi puasa seperti itu klau kita akan simpulkan bahwa berpuasa itu mengantarkan manusia menghadirkan Tuhan dalam kesadarannya, dan bila hal itu berhasil dilakukan, maka la’allakum tattaqun (mencapai taqwa) dapat pula dicapai. Sebagaimana dalam surat al-Baqarah ayat 183, yakni “la’allakum tattaqun”, sebagaimana gitman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 183, yakni “la’allakum tattaqun”,

‎يٰٓـاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا كُتِبَ عَلَيۡکُمُ الصِّيَامُ کَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيۡنَ مِنۡ قَبۡلِکُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُوۡنَۙ

Ya ayyuha allatheena amanoo kutiba AAalaykumu alssiyamu kama kutiba AAala allatheena min qablikum laAAallakum tattaqoona

Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,

Kita diharapkan menjadi orang yang bertakwa. Orang yang bertakwa bukan berarti hanya bertakwa hanya secara vertikal kepada Allah SWT saja, tetapi juga secara horizontal, yaitu menebarkan pedamaian di muka bumi. Jika kita bisa melaksankan puasa dalam makna seperti itu, kita bisa menemukan dimensi lain bahwa puasa tidak hanya sekedar menahan diri dari makan dan minum, tetapi menahan diri dari sikap kedengkian dan kebencian.

Puasa juga berfungsi untuk pengendalian diri dari segala macam perbuatan kemaksiatan dan kemungkaran.
Sebagai bagian dari latihan rohani untuk pengendalian diri,

puasa memberikan sumbangan untuk meningkatkan kemampuan pengendalian diri, maka sikap yang perlu dinyatakan ketika menghadapi berbagai godaan, adalah cukup dengan mengatakan “inni sha’im” (saya sedang puasa).

Sebagaimana yang telah diajarkan Nabi SAW: “Puasa adalah benteng dari api neraka, karenanya, apabila seseorang di antara kamu sedang berpuasa, janganlah ia mengucapkan perkataaan yang jorok, janganlah marah atau emosi, dan jika ada orang yang memakinya atau ada orang yang membunuhnya, hendaklah ia berkata, aku sedang berpuasa.” (HR. Bukhari).

Karena itu, nilai puasa ditentukan oleh kadar pencapaian kesadaran tersebut –bukan pada sisi lapar dan dahaga– sehingga dari sini dapat dimengerti mengapa Rasulullah SAW menyatakan bahwa, “Banyak orang yang berpuasa, tetapi tidak memperoleh dari puasanya kecuali rasa lapar dan dahaga” HR. Ahmad).

Barakkallahu li walakum pil qur’anil adhim, wa nafa’ni wa iyyakum bima fihi minal ayati wazzikkir hakim, wa takabbal minni wa mi kum tilawatahu, innahu huwas sami’ul alim, wa kul rabbig fir war ham wa anta khairur rahimin

Khutbah kedua

Alhamdulillahil ladzi arsala rasulahu bil huda, wa dinil hakki liyut khirahu alad dini ,, Kullihi wakafa billahi syahida

Asyhadu an lailahaillallah wahdahu lasyarikalaha wa ‘asybhadu anna muhammadan anmbaduhu warasuluhu

Allahumma sholli ala Muhammad wa’ala alhi ashabihi ajma’in

Amma ba’ad paya ibadallah uzikum binafsi bitakwallah wa ta’atihi la allakum tuplihun

Wa kalallahu ta’ala pi kitabil karim Ya ayyuha allatheena amanoo kutiba AAalaykumu alssiyamu kama kutiba AAala allatheena min qablikum laAAallakum tattaqoona

Innallaha wamala’kaitihi ysallina alan nabi, ya ayyuhalladzina amanu sholli alaihi wasallima taslima

Allahumma sholli ala muhammad wa ala ali muhammad wa radiyyallhau ta’ala an kulli sahabati rasulillahi ajma’in

Allhummag fir lilmuslimina wal muslimat, wal mukkinna wal mikminat al ahya’i min hum wal am wat

Allahummagfir li ummati muhammadl SAW,
Allahumma Asli ummatan Muhammadin SAW
Allahumma taja wazs an ummati muhammadl SAW,
Allahummaj alna min ummmati Muhammadin SaW

Robbana hab lana min azwajina wa dzurriyatina qurrota a’yun, waj’alna lilmuttaqina imamaa”

‎رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا

Subhana rabbika rabbi, izzati anma yasifun wasalamun alal mutsalina wal hamdu lillahi rabbil alaman

Amma ba’ad Ibadallah

Innallāha yamuru bil-'adli wal-iḥsāni wa ītāi żil-qurbā wa yan-hā ‘anil-faḥsyā`i wal-mungkari wal-bagyi ya’iẓukum la’allakum tażakkarụn

Pazkurullaha adziman yaszkurkum, wasy juru ala nima’ihi yasidkum wala dzikrillahu akbar,Akimis salah.|tan-*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *