BANNIQ.Id. Polewali. Upaya menjaga kelestarian budaya dan bahasa Mandar terus digalakkan. Salah satunya melalui Festival Teater Berbahasa Mandar yang akan digelar pada 27–29 September 2026 di Taman Budaya Buttu Ciping, Tinambung, Polewali Mandar.
Perhelatan yang untuk pertama kalinya digelar di Sulawesi Barat ini diharapkan menjadi ruang bagi seniman, budayawan, dan masyarakat untuk kembali mencintai sekaligus merawat bahasa Mandar sebagai bahasa ibu.
“Saya, Nursaid Mustafa, Sekda Polman, mengajak semua masyarakat untuk menyaksikan satu perhelatan budaya yang bersejarah. Ini pertama kali di Sulbar, Festival Teater Berbahasa Mandar, pada 27 sampai 29 September di Buttu Ciping,” ajak Sekda Polman Nursaid Mustafa, Kamis (24/9/2026).
Menurut Nursaid, festival tersebut tidak sekadar menjadi pertunjukan seni, tetapi juga bagian dari upaya menjaga bahasa dan budaya Mandar agar tetap hidup dan digunakan oleh generasi berikutnya.
Melalui festival ini, mantan pejabat di Kemendes tersebut berharap para seniman, budayawan, dan masyarakat luas semakin mencintai serta ikut melestarikan budaya dan bahasa Mandar.
“Inggai Maqbasa Mandar,” katanya.
Terpisah, kurator Festival Teater Berbahasa Mandar, Muhammad Adil, mengatakan teater dipilih sebagai media untuk memperkuat upaya pelestarian bahasa Mandar.
“Ini kolaborasi dengan Balai Bahasa. Saya sebagai penggagas sekaligus kurator pada kegiatan ini. Teater kita jadikan media untuk pelestarian bahasa Mandar,” ujar Muhammad Adil.
Menurut Adil, penggunaan bahasa Mandar dalam festival ini juga menjadi bagian penting untuk memperkenalkan kembali bahasa ibu kepada masyarakat, khususnya generasi muda.
“Bahasa Mandar adalah bahasa ibu, termasuk bahasa minor yang ada di Sulbar, menurut data bahasa,” imbuhnya.
Sejumlah kelompok seni akan ambil bagian dalam festival tersebut. Mereka antara lain Teater Pamarica, Teater Olang Mesa, Teater Todilaling, Teater Sisalili, UKM Seni Bunga Kodza, dan Teater Kakanna.
Festival ini diharapkan tidak hanya menghadirkan pertunjukan di atas panggung, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan antara seni, bahasa, dan masyarakat. Dari Buttu Ciping, bahasa Mandar dihidupkan kembali melalui panggung teater, agar tetap tumbuh dan diwariskan kepada generasi mendatang./md.










