ADVERTORIAL

Pekan Kebudayaan Daerah TBM Sulawesi Barat ke-5 Tahun 2026 Resmi Dibuka

Salah satu Group Tari yang tampil pada malam pertama PKD Sulbar 2026(foto:Hiz)

BANNIQ.Id. Tinambung. Pekan Kebudayaan Daerah (PKD) ke-5 Tahun 2026 yang digelar oleh Taman Budaya dan Museum (TBM) Provinsi Sulawesi Barat resmi dibuka, pada Rabu malam (7/10/2026).

Agus Ambo Djiwa: Pelestarian Anoa Butuh Komitmen Bersama, Habitat Harus Dilindungi

Pembukaan PKD tahun ini menandai dimulainya rangkaian kegiatan ‘kebudayaan’ yang akan berlangsung selama empat hari (7-10 Oktober)) di kawasan TBM Sulawesi Barat. Mengusung semangat untuk terus merawat, mengembangkan, dan memperkenalkan kekayaan budaya Sulawesi Barat, kegiatan ini mempertemukan berbagai unsur kebudayaan, mulai dari pelaku seni, komunitas budaya, pendidik dan peserta didik, hingga masyarakat.

Hadir dalam acara pembukaan, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulawesi Barat yang diwakili Plt. Kepala Bidang Kebudayaan, Hj. Imelda Pababari, Kepala TBM Provinsi Sulawesi Barat, Irma Trisnawati, Camat Tinambung, Muhammad Rifai, sekaligus sebagai salah satu Kurator PKD, Nilawati, SE., MM, Camat Limboro, Kapolsek Tinambung, Danramil Tinambung, Kepala Desa Batulaya, para Kurator, Hamzah Ismail, dan M. Syauqi, Kepala SMA/SMK, Muhammad Syariat Tadjuddin, Ketua Dewan Kesenian (DKSS) Sulawesi Barat, para budayawan dan seniman, tokoh masyarakat dan komunitas pelaku seni, para guru pendaping peserta Kemah Budaya, ratusan siswa peserta Kemah Budaya, dan terkhusus PKD ini juga sempat dihadiri oleh Sunarto, S.Pd., M.Si. dan rombongan dari Inspektur Jenderal Kementerian Kebudayaan RI, yang juga tampil memberi apresiasi.

Dialog Agama dan Budaya PKD-TBM Subar Hari Kedua, Siswa Diajak Menggali Potensi Daerah

Kepala TBM Sulawesi Barat, Irma Trisnawati, dalam laporannya menyampaikan bahwa penyelenggaraan Pekan Kebudayaan Daerah merupakan salah satu upaya strategis dalam meningkatkan pembangunan kebudayaan di Provinsi Sulawesi Barat. Menurutnya, penyelenggaraan PKD tidak terlepas dari kondisi Indeks Pemajuan Kebudayaan (IPK) Sulawesi Barat, khususnya pada dimensi ekspresi budaya. Pada dimensi tersebut, persentase penduduk yang pernah terlibat, baik sebagai pelaku maupun pendukung pertunjukan, baru mencapai 1,62 persen.

Angka tersebut, kata Irma, menggambarkan masih rendahnya partisipasi masyarakat dalam aktivitas seni dan budaya, baik sebagai pelaku, penyelenggara, maupun penikmat yang terlibat secara aktif dalam berbagai pertunjukan budaya.

Dukung Usaha Perikanan Pesisir, Program Aspirasi Agus Ambo Djiwa Bantu Empat Poklahsar diMajene

Kondisi tersebut, lanjut Irma, juga menunjukkan bahwa ruang ekspresi budaya yang tersedia bagi masyarakat masih sangat terbatas. Frekuensi penyelenggaraan kegiatan seni dan budaya belum merata, sementara pembinaan terhadap komunitas seni, pelaku budaya, generasi muda, dan masyarakat umum juga belum optimal. “Rendahnya tingkat keterlibatan tersebut menunjukkan bahwa ruang ekspresi budaya yang tersedia bagi masyarakat masih sangat terbatas,” jelasnya dalam laporan pembukaan PKD.

Lebih jauh disampaikan Irma, bahwa kondisi tersebut berpotensi memengaruhi keberlanjutan pewarisan nilai-nilai budaya lokal sekaligus menurunkan apresiasi masyarakat terhadap kekayaan budaya yang dimiliki Sulawesi Barat. Karena itu, penyelenggaraan PKD diharapkan dapat menjadi salah satu jawaban atas persoalan tersebut dengan menghadirkan ruang aktualisasi, apresiasi, dan promosi kebudayaan bagi masyarakat. Melalui kegiatan ini, pemerintah daerah menyediakan ruang bagi seniman, budayawan, komunitas budaya, pelajar, mahasiswa, serta masyarakat umum untuk berpartisipasi secara aktif dalam berbagai kegiatan budaya.

Selain menjadi ruang ekspresi bagi para pelaku seni dan budaya, PKD juga diharapkan menjadi ruang pembelajaran bagi generasi muda untuk mengenal lebih dekat tradisi dan kebudayaan daerahnya. Pada pelaksanaan tahun ini, salah satu agenda utama yang turut mewarnai PKD adalah Kemah Budaya yang diikuti oleh pelajar SMA/SMK dari berbagai daerah di Sulawesi Barat.

Kehadiran para peserta muda tersebut menjadi bagian penting dalam membangun ruang perjumpaan antargenerasi sekaligus menanamkan kecintaan terhadap kebudayaan daerah.

Dalam saat bersamaan, usai Irma menyampaikan laporan, Muhammad Rifai mewakili tiga kurator tampil menyampaikan uraian singkat rangkaian kegiatan PKD.

Setelahnya disusul Sunarto, salah satu dari dari Irjen Kemenbud, tampil memberi apresiasi dengan penuh semangat. Mengutif yel-yel Peserta Kemah Budaya yang dibuat oleh Muhammad Rifai, Hartono meneriakkan “Pekan Kebudayaan Daerah Tahun 2026, Keren… Keren… Keren Bosqyuuuu…” dengan full semangat.

Selanjutnya Hartono, menyampaikan apresiasi. Menyahuti penyampaian Irma, terkait Indeks Pembangunan Kebudayaan, Hartono lebih menjelaskan bahwa IPK, adalah semacam rapor yang terdiri atas tujuh dimensi penilaian. Hartono bahkan menilai bahwa pelaksanaan PKD di Buttu Ciping, ini kelasnya seperti kenal nasional, bisiknya ke Rifai.

Sebagai penanda resmi pelaksanaan PKD 2026 ini, Plt. Kepala Bidang Kebudyaan, mewakili Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulawesi Barat hadir memberi semangat, setelah memberukan arahan singkat, Hj. Imelda menandai peresmian pembukaan dengan memukul tiga kali gong pembuka. Setelah pembukaan selesai dilaksanakan, acara kemudian dilanjutkan dengan pagelaran seni. Setidaknya tujuh penampil seni.


Peserta Kemah Budaya PKD Sulbar Ikuti Pembekalan, Pahami Tata Tertib dan Agenda Perkemahan

Pada siang hingga sore hari sebelum seremoni pembukaaan secara resmi, ratusan peserta Kemah Budaya Pekan Kebudayaan Daerah (PKD) Sulawesi Barat secara bertahap mulai berdatangan dan melakukan registrasi. Setelah rampung, kegiatan pertama yang diikuti adalah pembekalan peserta. Kegiatan ini dilaksanakan pada sore (7/10) menjadi bagian penting sebelum seluruh rangkaian agenda Kemah Budaya dimulai.

Pembekalan peserta dipandu oleh Muhammad Rifai, Dalif, dan Muhammad Syauqi. Ketiganya memberikan penjelasan kepada peserta mengenai berbagai hal yang perlu diketahui dan dipatuhi selama mengikuti kegiatan di area perkemahan.

Materi utama yang disampaikan dalam pembekalan adalah penetapan tata tertib peserta serta penyampaian sejumlah agenda kegiatan yang akan dijalani selama berada di lokasi Kemah Budaya. Melalui pembekalan tersebut, peserta diberikan pemahaman mengenai aturan bersama, kedisiplinan, serta tata cara mengikuti setiap rangkaian kegiatan. Hal ini dimaksudkan agar seluruh peserta dapat mengikuti kegiatan dengan tertib, aman, dan bertanggung jawab.

Selain tata tertib, peserta juga mendapatkan gambaran mengenai agenda yang telah disiapkan panitia selama pelaksanaan Kemah Budaya. Dengan demikian, peserta tidak hanya mengetahui apa yang harus dilakukan, tetapi juga dapat mempersiapkan diri untuk mengikuti seluruh rangkaian kegiatan yang telah disusun.

Pembekalan sekaligus menjadi ruang awal untuk membangun kebersamaan antarpeserta dari berbagai sekolah yang hadir dalam Kemah Budaya PKD Sulbar.

Dari titik inilah mereka akan menjalani pengalaman bersama, belajar tentang kebudayaan, lingkungan, kedisiplinan, dan kerja sama selama berada di kawasan perkemahan./Hiz

× Advertisement
× Advertisement