BANNIQ.Id. Tinambung. Sebanyak 256 siswa SMA/SMK se-Sulawesi Barat mengikuti rangkaian kegiatan hari kedua Pekan Kebudayaan Daerah (PKD) yang diselenggarakan TBM Sulawesi Barat. Kegiatan ini menghadirkan warna baru dalam proses pembelajaran peserta, terutama melalui sesi dialog yang berlangsung sejak hari pertama hingga hari kedua.
Tidak seperti pembelajaran yang umumnya berlangsung di ruang kelas, dialog dalam Kemah Budaya PKD yang baru pertama dilakukan di PKD tahun ini memberi kesempatan kepada peserta untuk mengenal kebudayaan melalui percakapan, pertukaran gagasan, dan pengalaman seni. Mereka tidak hanya memperoleh pengetahuan dari narasumber, tetapi juga menyaksikan bagaimana kebudayaan hadir dalam kehidupan masyarakat dan diekspresikan melalui berbagai bentuk kesenian.
Pada hari kedua (9/10), dialog mengangkat tema “Telaah Agama dan Budaya” dengan menghadirkan Ustaz H. Masud Saleh dan H. Ahmad Asdy sebagai narasumber. Keduanya menyampaikan materi dengan pendekatan yang bersahabat dan bahasa yang dekat dengan keseharian generasi Z. Pendekatan ini membuat pembahasan agama dan kebudayaan terasa lebih relevan dengan kehidupan peserta, termasuk dalam menghadapi tantangan masa depan.
Dialog tersebut menjadi ruang bagi siswa untuk melihat hubungan agama dan kebudayaan dari sudut pandang yang lebih luas. Keduanya bukan semata-mata tema yang dibicarakan dalam forum, melainkan bagian dari kehidupan yang dapat dipahami, direnungkan, dan diterapkan dalam keseharian.
Mengenal Keragaman, Menumbuhkan Apresiasi
Pengalaman mengikuti PKD dirasakan oleh Agnes, salah seorang peserta Kemah Budaya yang berasal dari SMA Negeri 1 Mamasa. Baginya, kegiatan ini membuka kesempatan untuk mengenal lebih jauh keragaman budaya, khususnya budaya Mandar dan kekayaan kebudayaan yang dimiliki Sulawesi Barat.
Agnes mengaku memperoleh banyak pengalaman baru selama mengikuti kegiatan. Ia semakin memahami bahwa kebudayaan tidak hanya berkaitan dengan adat istiadat yang diwariskan secara turun-temurun. Di dalamnya terdapat beragam ekspresi seni yang perlu dikenal, dihargai, dan dikembangkan.
Salah satu pengalaman yang menarik baginya adalah menyaksikan pertunjukan seni dari Sanggar Sesalili dari SMA Negeri 2 Majene. Materi dialog mengenai agama dan kebudayaan juga meninggalkan kesan tersendiri. Pengalaman tersebut memperluas pandangannya tentang pentingnya menghormati keberagaman budaya Indonesia.
Bagi Agnes, pengetahuan yang diperoleh selama kemah tidak seharusnya berhenti setelah kegiatan berakhir. Kekayaan budaya daerah, termasuk bahasa, kostum, ornamen, dan kesenian tradisional, masih memiliki peluang untuk digali lebih jauh. Unsur-unsur tersebut dapat menjadi sumber inspirasi dalam menciptakan karya seni sekaligus memperkenalkan identitas budaya daerah kepada masyarakat yang lebih luas.
Pengalaman ini juga memperlihatkan pentingnya membangun kepercayaan diri peserta. Mereka tidak hanya ditempatkan sebagai penerima materi, tetapi diharapkan mampu mengenali potensi budaya daerahnya sendiri dan berinisiatif mengembangkannya.
Proses Kreatif dan Inspirasi dari Panggung Seni
Pengalaman serupa dirasakan Egi, peserta lainnya, juga siswa dari SMAN 1 Mamasa. Namun, salah satu pelajaran yang paling membekas baginya justru berkaitan dengan proses kreatif dan perjalanan mencapai keberhasilan.
Menurut Egi, dari materi yang disampaikan Kak Muhammad Abyan Rahmat dan Kak Indra Kirana, keduanya talenta muda Sulawesi Barat, Egi menangkap pesan bahwa dalam berjuang mencapai suatu tujuan bukan perkara mudah. Ada proses panjang yang harus dijalani, termasuk menghadapi tekanan dan berbagai tantangan. Menurutnya, seseorang perlu tetap tekun dan percaya pada proses untuk mencapai hasil yang diharapkan.
Selain materi dialog, pertunjukan teater menjadi bagian yang menarik perhatiannya. Egi menyebut pertunjukan Sanggar Sesalili dan kelompok teater dari Sanggar Seni Todzilaling, SMK Negeri 1 Tinambung, menjadi pengalaman yang memberikan inspirasi. Meskipun sempat mengalami kesulitan memahami bahasa daerah dalam pertunjukan Sanggar Sesalili, ia tetap dapat menangkap sebagian alur cerita dan mengapresiasi penampilan para pemain.
Pengalaman menyaksikan pertunjukan tersebut memiliki kaitan langsung dengan kegiatan seni di sekolahnya. Egi menjelaskan bahwa sekolahnya memiliki kegiatan seni yang mencakup kelas tari, musik, dan teater. Karena itu, pertunjukan yang disaksikannya selama PKD dapat menjadi referensi untuk mengembangkan kreativitas dan meningkatkan kualitas karya seni di lingkungan sekolah.
Kekayaan budaya daerah, seperti kostum dan ornamen tradisional, juga menyimpan kemungkinan untuk dieksplorasi menjadi bagian dari karya seni pertunjukan. Unsur budaya tersebut tidak hanya berfungsi sebagai pelengkap penampilan, tetapi dapat menjadi sumber gagasan kreatif yang memperkuat karakter sebuah karya.
Membawa Pulang Pengalaman
Pengalaman Agnes dan Egi memperlihatkan bahwa pembelajaran kebudayaan dapat berlangsung melalui beragam cara. Dialog memberikan ruang untuk memperluas wawasan, sedangkan pertunjukan seni membuka kesempatan bagi peserta untuk mengamati, mengapresiasi, dan menemukan inspirasi bagi proses kreatif mereka sendiri. Sekedr catatan bahwa salah satu tugas yang diberikan oleh pihak penyelenggara Kemah Budaya dalam PKD tahun ini, adalah ‘mewajibkan’ setiap peserta perkemahan untuk melakukan observasi dan melakukan pencatatan dan memberikan apresiasi pada setiap pertunjukan seni dengan menggunakan semacam jurnal khusus yang telah disiapkan sebelumnya.
Lebih lanjut Egi menjelaskan, PKD menjadi ruang perjumpaan bagi siswa untuk mengenal keragaman budaya sekaligus melihat potensi yang dapat dikembangkan di lingkungan masing-masing. Tantangannya adalah bagaimana pengalaman selama kegiatan dapat diteruskan menjadi praktik nyata setelah para peserta kembali ke sekolah dan komunitas asalnya. Dengan demikian, keberhasilan kegiatan kebudayaan tidak hanya diukur dari materi yang disampaikan atau pertunjukan yang disaksikan. Hal yang tidak kalah penting adalah tumbuhnya kesadaran untuk menghargai keragaman, keberanian mengeksplorasi potensi lokal, serta kemauan untuk terus belajar dan berproses dalam menghasilkan karya seni.
Setelah dialog telaah agama dan budaya usai, seluruh peserta diberi kesempatan untuk istirahat, dan pasca shalat jumat, ratusan siswa itu kembali ke Baruga Kaiyyang untuk mengikuti kegiatan dialog berikutnya yang tak kalah menarik, membincang tentang proses kreatif pencipataan karya seni. Narasumber dalam dialog adalah Dalif, owner Komuintas Sossarang, bersama Rahmat Nurzaman, Seniman kawakan dari Makassar, dimoderatori Himaerah Nur’izzatinnisa, mahasiswa Sastra USD Yogyakarta. Dalif dan Nurzaman, hanya memberikan sekilas penjelasan dari dari materi mereka, selebihnya ratusan siswa itu ‘diolah’. Olah tubuh, olah ras, dan olah kata.
Karena pada momentum acara penutupan PKD tahun 2026, yang rencana akan ditutup secara resmi oleh H. Muhammad Nehru Sagene, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulawesi Barat, akan ditampilkan karya seni pertunjukan kolaborasi dari peserta kemah budaya yang terpilih.
Entah seperti apa hasilnya nanti? Yang pasti Rahman Nurzaman menjamin bahwa proses penciptaan karya seni yang dilaksanakan sejak kemarin sore hingga pagi hari ini (10/10) akan mewujudkan hasilnya, dan dibingkai dalam judul: “Kembali ke Bumi” yang akan ditampilkan pada malam harinya, “Malam Penutupan”/hIz.










