OBITUARI

Annangguru Sybli Berpulang, Senator Jupri Mahmud Kenang Pengabdian Sang Ulama

Anggota DPD RI Dapil Sulbar,Jupri Mahmud,SE(foto:repro)


BANNIQ.Id. Sulbar. Kepergian Annangguru Prof. KH. Muhammad Syibli Sahabuddin bukan sekadar kehilangan seorang ulama, melainkan juga kehilangan sosok panutan yang telah menorehkan jejak pengabdian bagi umat, dunia pendidikan, dan masyarakat Sulawesi Barat. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam, sekaligus menyisakan warisan keteladanan yang akan terus dikenang oleh masyarakat Tanah Mandar.

Semasa hidupnya, Annangguru Syibli dikenal sebagai ulama yang mendedikasikan diri untuk membina umat, mengembangkan pendidikan, serta mengambil bagian dalam kehidupan sosial dan kebangsaan. Sosoknya menjadi gambaran bahwa pengabdian seorang ulama tidak hanya hadir di mimbar dakwah, tetapi juga tumbuh melalui kerja nyata untuk kemaslahatan masyarakat.

DPD PDIP Sulbar Nyatakan Duka Mendalam atas Wafatnya Almarhum Guruh Soekarno Putra

Bagi Sulawesi Barat, khususnya masyarakat Mandar, Annangguru Syibli merupakan figur yang mempertemukan kedalaman ilmu agama dengan tanggung jawab sosial dan kebangsaan. Ia dikenal sebagai mursyid Tarekat Qadiriyah, tokoh pendidikan, serta pemimpin organisasi yang turut mewarnai perjalanan sosial dan politik daerah.

Jejak pengabdiannya juga tercatat di tingkat nasional. Ia dipercaya menjadi anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) selama dua periode, yakni 2009–2014 dan 2014–2019. Di bidang pendidikan, almarhum pernah menjabat sebagai Rektor Universitas Al Asyariah Mandar (Unasman) periode 2005–2009.
Rangkaian pengabdian tersebut memperlihatkan keluasan peran Annangguru Syibli dalam membangun masyarakat. Baginya, ilmu pengetahuan, nilai-nilai keagamaan, dan tanggung jawab terhadap kehidupan bersama merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan pengabdian.

Selamat Jalan Salim S Mengga, Sosok Pemimpin,Orang Tua Sekaligus Kakak

Kenangan dan keteladanan almarhum turut membekas bagi Senator H. Jupri Mahmud, S.E., yang kini mewakili Sulawesi Barat di DPD RI periode 2024–2029. Di mata Jupri, perjalanan hidup Annangguru Syibli menghadirkan pelajaran berharga tentang bagaimana seorang ulama dapat memberikan manfaat melalui berbagai ruang pengabdian.

Menurut Jupri, setidaknya terdapat tiga dimensi penting yang dapat dipetik dari perjalanan almarhum. Pertama, perannya sebagai ulama yang membimbing dan membina kehidupan spiritual masyarakat.

Antar ke Peristirahatan Terakhir, Bupati Polman Hadiri Pemakaman Almarhum Salim S Mengga di TMP Kalibata Jakarta

Kedua, kiprahnya dalam dunia pendidikan yang turut memperkuat pengembangan sumber daya manusia di Tanah Mandar. Ketiga, pengabdiannya di lembaga perwakilan nasional sebagai bagian dari perjuangan menyuarakan aspirasi daerah.

Ketiga dimensi tersebut menunjukkan bahwa pengabdian kepada masyarakat dapat dilakukan melalui berbagai jalan, tanpa kehilangan pijakan pada nilai moral, integritas, dan tanggung jawab sosial.

“Annangguru Syibli Sahabuddin merupakan sosok yang memiliki perjalanan pengabdian luas, mulai dari membina umat, mengembangkan pendidikan, hingga menjalankan amanah sebagai wakil daerah di tingkat nasional. Keteladanan beliau mengingatkan kita bahwa jabatan dan kedudukan seharusnya menjadi jalan untuk mengabdi kepada masyarakat,” ungkap Jupri.

Bagi Jupri, warisan seorang ulama tidak semata-mata diukur dari ilmu yang disampaikan, tetapi juga dari nilai-nilai yang ditanamkan serta manfaat yang terus dirasakan masyarakat, bahkan setelah dirinya tiada.

“Warisan seorang ulama tidak hanya diukur dari ilmu yang disampaikan, tetapi juga dari nilai-nilai yang ditanamkan dan manfaat yang terus dirasakan masyarakat. Semangat pengabdian seperti inilah yang perlu dilanjutkan oleh generasi berikutnya,” tuturnya.

Annangguru Syibli juga dikenal dalam lingkungan Nahdlatul Ulama dan pernah memimpin DPW PKB Sulawesi Barat.

Perjalanan tersebut memperlihatkan kiprahnya dalam persinggungan antara dakwah, pendidikan, organisasi kemasyarakatan, dan politik, dengan pengabdian sebagai benang merah yang menyatukan berbagai peran tersebut.

Bagi generasi muda Sulawesi Barat, perjalanan hidup almarhum menjadi pengingat tentang pentingnya ilmu pengetahuan, kedalaman spiritual, kepedulian terhadap sesama, serta keberanian mengambil tanggung jawab dalam kehidupan publik. Ia meninggalkan pelajaran bahwa ilmu akan menemukan makna terdalam ketika diabdikan untuk kepentingan orang banyak.

Kepergian Annangguru Syibli pun mengingatkan masyarakat bahwa daerah membutuhkan figur-figur yang tidak hanya memiliki keluasan ilmu, tetapi juga kesediaan untuk mengamalkan pengetahuan dan kemampuannya demi kepentingan bersama.

Kini, perjalanan hidup Annangguru Prof. KH. Muhammad Syibli Sahabuddin telah sampai pada akhirnya. Namun, pengabdian yang pernah ia jalani tidak serta-merta berakhir bersama kepergiannya.

Nilai-nilai kebaikan yang ditanamkan, ilmu yang diwariskan, dan keteladanan yang ditunjukkan akan terus hidup selama ada generasi yang bersedia menjaga dan meneruskannya.

Kepergiannya bukan hanya menjadi duka bagi keluarga dan kerabat, tetapi juga kehilangan bagi masyarakat Sulawesi Barat yang mengenalnya sebagai ulama, pembimbing umat, pendidik, dan teladan dalam kehidupan bermasyarakat.

Doa dan ungkapan belasungkawa yang mengalir menjadi cerminan betapa besar arti kehadiran seorang ulama dalam kehidupan umat. Sebab, ketika seorang ulama berpulang, yang dirasakan hilang bukan sekadar sosok yang dicintai, melainkan juga nasihat, bimbingan, dan keteladanan yang selama ini menjadi penuntun kehidupan.

Dalam ajaran Islam, wafatnya seseorang yang berilmu menjadi pengingat akan kefanaan kehidupan dunia.

Namun, ilmu yang bermanfaat dan amal saleh yang ditinggalkan dapat terus menjadi sumber kebaikan, bahkan ketika pemiliknya telah kembali ke hadirat Allah SWT.

Di titik inilah, kenangan terhadap Annangguru Syibli menemukan maknanya. Kepergiannya mengajarkan bahwa kehidupan tidak hanya dinilai dari berapa lama seseorang hadir di tengah masyarakat, tetapi juga dari seberapa besar manfaat yang ditinggalkannya bagi sesama.

“Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah Annangguru Syibli Sahabuddin, mengampuni segala khilafnya, melapangkan alam kuburnya, serta menempatkan almarhum di tempat terbaik di sisi-Nya. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran dan ketabahan, serta masyarakat Sulawesi Barat mampu meneruskan nilai-nilai kebaikan, perjuangan, dan keteladanan yang telah diwariskan almarhum,” tutup Jupri Mahmud.

Allahummaghfirlahu warhamhu wa’aafihi wa’fu ‘anhu.Selamat jalan, Annangguru. Ragamu mungkin telah tiada, tetapi ilmu, doa, dan jejak pengabdianmu akan tetap hidup dalam ingatan umat dan masyarakat Tanah Mandar./***

× Advertisement
× Advertisement