BANNIQ.Id. Mamuju. Balai Wilayah Sungai (BWS) V Sulbar menghadiri Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) di Komisi III DPRD Provinsi Sulawesi Barat. pada selasa, 30 September 2025, bertempat di ruang Komisi III DPRD Provinsi Sulawesi Barat
RDPU ini menjadi forum untuk menjelaskan secara detail mengenai pelaksanaan anggaran dan progres fisik dari proyek pengendalian banjir Sungai Kalukku dan Bendungan Salulebbo.
RDPU ini dipimpin langsung Ketua Komisi III DPRD Sulbar Usman Suhuriah , selain dihadiri Jajaran BWS V Sulbar hadir pula sejumlah mahasiswa dari organisasi Gerakan Vendetta ( gerakan intelektual muda aktivis Sulawesi Barat)
Mewakili kepala BWS V, Satker Pelaksaannan Jaringan Sumber Air (PJSA) Arnol menyatakan kesiapan untuk menindaklanjuti tuntutan transparansi dari kelompok masyarakat, Gerakan Vendetta, terkait pelaksanaan dua proyek infrastruktur besar di Sulawesi Barat:
proyek pengendalian banjir Sungai Kalukku dan proyek pembangunan Bendungan Salulebbo di Mamuju Tengah.
Arnol menambahkan setelah adanya penyampaian aspirasi, dengan mengapresiasi peran kontrol sosial dari masyarakat sekaligus menjelaskan adanya keterbatasan regulasi internal dalam hal penyediaan dokumen.
“Kami mengapresiasi teman-teman Vendetta sebagai kontrol sosial bagi kami, dan apa yang menjadi tertulis di dokumen tadi, itu akan kami laksanakan bersama,” ujar Arnol.
Tuntutan utama dari Gerakan Vendetta adalah keterbukaan dokumen kontrak, progres, dan realisasi anggaran kedua proyek tersebut, yang oleh mereka dianggap kurang transparan. Proyek pengendalian banjir Sungai Kalukku menelan anggaran sebesar Rp55 Miliar, sementara Bendungan Salulebbo di Mamuju Tengah memiliki nilai fantastis sebesar Rp1,24 Triliun.
Menanggapi permintaan data dokumen, Arnol menjelaskan bahwa pihak Balai memiliki keterikatan pada prosedur internal.
“Jadi sorotan Vendetta tadi mereka menganggap itu tidak transparan, sehingga mereka meminta data dokumen di kami. Sementara kami terikat oleh aturan SOP di tempat kami, yang namanya PPID (Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi), jadi kami tidak bisa melanggar aturan di tempat kami,” jelasnya.
Terkait insiden dugaan aksi kekerasan yang terjadi selama penyampaian aspirasi, Arnol menyatakan akan melakukan investigasi internal.
“Soal aksi kekerasan kemarin kebetulan saya tidak ada di tempat, dan kami akan mengevaluasi ke teman-teman kami. Kebetulan banyak CCTV di tempat kami, bisa kami investigasi,” tutup Arnol.
Laporan: Muh.Irham








