ADVERTORIAL

Mengeja Tradisi di Tapak Tenda, Pelajar Se Sulbar Ikuti Kemah Budaya PKD 2026

BANNIQ.Id. Polman. Suasana lokasi Pekan Kebudayaan Daerah (PKD) 2026 mulai tampak menggeliat seiring dimulainya agenda pemasangan tenda oleh para peserta Kemah Budaya pada Rabu (07/10/2026). Penataan area perkemahan ini menerapkan mekanisme penempatan berbasis urutan kedatangan dan registrasi. Sekolah yang tiba lebih awal dan menyelesaikan proses administrasi pendaftaran secara cepat diberikan hak istimewa untuk memilih dan menempati kavling tapak kemah prioritas, mulai dari pilihan lokasi pertama, kedua, dan seterusnya.

Agus Ambo Djiwa: Pelestarian Anoa Butuh Komitmen Bersama, Habitat Harus Dilindungi

Menurut Kepala Taman Budaya dan Museum (TBM) Provinsi Sulawesi Barat, Irma Trisnawati, Inisiatif menghadirkan Kegiatan Kemah Budaya ini menjadi warna baru dalam perhelatan tahunan tersebut. Awalnya, pihak Taman Budaya dan Museum (TBM) Sulawesi Barat hanya merancang dua agenda inti, yakni pagelaran seni dan dialog budaya. Namun, demi memperluas keterlibatan publik dan membangun regenerasi kebudayaan yang lebih solid, kehadiran perkemahan ini dipandang sangat Krusial untuk merangkul para pelajar dari jenjang SMA dan SMK di seluruh wilayah Sulawesi Barat.

Langkah pelibatan generasi muda ini selaras dengan arah besar PKD tahun ini yang mengusung tema “Literasi Budaya: Mengeja Tradisi, Menjawab Zaman”. Melalui kegiatan kemah, para siswa tidak hanya diajak hadir sebagai penonton, tetapi juga mengalami langsung dinamika kebersamaan di alam terbuka. Perjumpaan antar-pelajar dari pelbagai kabupaten ini diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran kolektif akan pentingnya memahami akar tradisi di tengah derasnya arus modernisasi.

Dialog Agama dan Budaya PKD-TBM Subar Hari Kedua, Siswa Diajak Menggali Potensi Daerah

Hadirnya Kemah Budaya ini sekaligus menegaskan bahwa literasi tidak berhenti pada lembaran pustaka atau panggung Diskusi formal semata. Di atas tanah lapang dan di bawah naungan tenda, ruang-ruang dialog informal, pertukaran gagasan, serta apresiasi seni antar-pelajar akan tumbuh secara alami. Semangat kebersamaan yang terbangun sejak hari pertama penataan tenda menjadi fondasi awal bagi lahirnya generasi muda yang berakar kuat pada budaya daerahnya.

Sejak Senin (05/10/2026), kesibukan panitia pelaksana Pekan Kebudayaan Daerah (PKD) 2026 sudah mulai terpusat di area utama lokasi pertunjukan. Langkah cepat ini diambil untuk memastikan seluruh pembenahan infrastruktur panggung serta kelengkapan sarana pendukung pagelaran seni dapat tersusun rapi dan siap tepat waktu sebelum rangkaian acara resmi dibuka.

Dukung Usaha Perikanan Pesisir, Program Aspirasi Agus Ambo Djiwa Bantu Empat Poklahsar diMajene

Hari ini, Selasa (06/10/2026), mitra kerja Taman Budaya dan Museum (TBM) Sulawesi Barat, yakni vendor CV. Baleo, akan mulai menerjunkan armada dan tim teknisnya ke area perkemahan dan panggung. Proses loading peralatan skala besar mulai dari konstruksi panggung utama, instalasi sistem tata suara (sound system), hingga penataan tata cahaya (lighting)—mulai dikerjakan secara intensif di lapangan.

Dengan intensitas persiapan teknis panggung yang digenjot sejak awal pekan ini serta disusul kedatangan peserta Kemah Budaya untuk mendirikan tenda esok hari, kawasan PKD 2026 siap akan bertransformasi menjadi pusat apresiasi seni dan ruang literasi budaya yang semarak bagi seluruh masyarakat.


Pelaku UMKM Lokal Antusias Memasang Tenant di Area Pekan Kebudayaan Daerah

Kabar mengenai hadirnya lebih dari 400 pelajar SMA/SMK se-Sulawesi Barat sebagai peserta Kemah Budaya dalam perhelatan Pekan Kebudayaan Daerah (PKD) 2026 menjadi daya tarik luar biasa bagi para pelaku usaha lokal. Tingginya konsentrasi massa di area perkemahan dan pertunjukan memicu gelombang pendaftaran dari para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) kepada panitia pelaksana. Mereka bersaing untuk mendapatkan izin mendirikan tenant dagangan demi menjajakan aneka kuliner, hingga kebutuhan harian para peserta dan pengunjung.

Antusiasme pelaku usaha lokal ini menjadi bukti nyata bahwa agenda kebudayaan memiliki daya ungkit ekonomi yang nyata bagi masyarakat sekitar. Kehadiran ratusan generasi muda yang berkemah, berinteraksi, dan beraktivitas selama beberapa hari di lokasi kegiatan akan menciptakan ekosistem pasar yang hidup. Sinergi antara panggung seni, ruang perkemahan pelajar, dan lapak-lapak UMKM membentuk ruang transaksi ekonomi kreatif yang saling menghidupkan di tengah kemeriahan festival.

Fenomena banyaknya pendaftar dari UMKM ini beririsan langsung dengan upaya peningkatan Indeks Pembangunan Kebudayaan (IPK) Provinsi Sulawesi Barat, khususnya pada Dimensi Ekonomi Budaya. Dimensi ini mengukur sejauh mana objek pemajuan kebudayaan dan ruang-ruang ekspresi budaya mampu memberikan dampak kesejahteraan ekonomi bagi masyarakat. Melalui penyediaan ruang tenant di ajang PKD 2026, kebudayaan tidak hanya dirayakan sebagai nilai tradisi yang abstrak, tetapi juga dikonversi menjadi aktivitas ekonomi produktif yang memperkuat kemandirian UMKM lokal.

Langkah Taman Budaya dan Museum (TBM) Sulawesi Barat dalam mengakomodasi para pelaku UMKM ini menegaskan bahwa pembangunan kebudayaan yang berkelanjutan harus berjalan selaras dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Dengan terbukanya ruang usaha di area PKD 2026, kegiatan ini tidak sekadar berhasil merawat literasi dan tradisi di kalangan generasi muda, tetapi juga turut mendorong pergerakan roda ekonomi kerakyatan secara inklusif di wilayah Sulawesi Barat.

× Advertisement
× Advertisement