ADVERTORIAL

Merawat Ingatan Generasi Muda Tentang Ritmis Perjuangan Pembentukan Provinsi Sulawedi Barat

Eksponen pejuang Sulbar Syahrir Hamdani, bersama Istri Nayasari,Pemerhati Budaya Mandar Tammalele, kolumnis Adi Arwan Alimin, dan peneliti buaya maritim Mandar Muhammad Ridwan Alimuddin dalam kegiatan dialog Kemah budaya bertema Sejarah Pembentukan Provinsi Sulbar(foto:Hiz)

BANNIQ.Id. Tinambung. Selepas mengikuti Dialog “Proses Kreatif Menuju Juara”, pagi (8/10) peserta Kemah Budaya Pekan Kebudayaan Daerah (PKD) Taman Budaya dan Museum (TBM) Provinsi Sulawesi Barat diberi kesempatan untuk beristirahat sejenak dan kembali ke tenda masing-masing.

Agus Ambo Djiwa: Pelestarian Anoa Butuh Komitmen Bersama, Habitat Harus Dilindungi

Namun, tepat pukul 14.00 WITA, para LO kembali mengarahkan peserta untuk menuju Baruga Kaiyyang, TBM Sulbar, Buttu Ciping. Di tempat inilah dialog kedua Kemah Budaya digelar dengan mengangkat tema “Sejarah Perjuangan Pembentukan Sulawesi Barat dan Pameran Foto Perjuangan.”

Beberapa pelajar peserta dialog Kemah Budaya bertema Sejarah Perjuangan Pembentukan Provinsi Sulbar(foto:Hiz)

Dialog Agama dan Budaya PKD-TBM Subar Hari Kedua, Siswa Diajak Menggali Potensi Daerah

Sebelum dialog dimulai, para peserta terlebih dahulu diajak menyaksikan ratusan foto dokumentasi perjuangan pembentukan Provinsi Sulawesi Barat yang dipajang di lantai dua Baruga Kaiyyang dokumen pribadi milik Hamzah Ismail. Foto-foto tersebut tidak sekadar dipamerkan sebagai dokumentasi visual, tetapi ditata berdasarkan kronologi peristiwa sehingga membentuk semacam jejak perjalanan sejarah perjuangan Sulbar.

Dari rangkaian foto itu, peserta dapat melihat kembali berbagai peristiwa penting yang terjadi sejak masa-masa awal perjuangan. Di antaranya dokumentasi audiensi para tokoh pejuang ke kediaman Maraqdia, almarhum H. Abdul Malik Pattana I Endeng, pra pelaksanaan Deklarasi Galung Lombok.

Dukung Usaha Perikanan Pesisir, Program Aspirasi Agus Ambo Djiwa Bantu Empat Poklahsar diMajene

Berikutnya, terpampang dokumentasi Deklarasi Galung Lombok, sebuah momentum penting yang kemudian menjadi salah satu tonggak dalam perjalanan perjuangan pembentukan Sulawesi Barat.

Jejak perjuangan itu kemudian berlanjut pada dokumentasi peluncuran pertama Tabloid Mandar di Aula STKIP DDI Polewali Mamasa yang kini menjadi Universitas Al Asyariah Mandar (Unasman Polewali Mandar). Tabloid tersebut menjadi salah satu media yang mengambil peran dalam menyebarluaskan informasi dan gagasan perjuangan pembentukan Sulawesi Barat.

Foto-foto berikutnya memperlihatkan perjalanan para pejuang ketika pertama kali membawa dan mengaudensikan proposal pembentukan Sulawesi Barat ke DPRD Provinsi Sulawesi Selatan. Keseluruhan dokumentasi itu membawa peserta menyusuri kembali peristiwa-peristiwa perjuangan yang berlangsung sejak dekade 1990-an. Setelah menyaksikan jejak visual tersebut, peserta kemudian mengikuti dialog sejarah perjuangan pembentukan Sulawesi Barat.

Dialog menghadirkan dua narasumber yang memiliki perhatian dan keterlibatan kuat dalam penulisan sejarah perjuangan Sulawesi Barat, yakni Adi Arwan Alimin dan Muhammad Ridwan Alimuddin.

Adi Arwan Alimin dikenal sebagai jurnalis senior dan penulis produktif Sulawesi Barat. Ia juga merupakan Ketua Masyarakat Sejarah Indonesia (MSI) Sulawesi Barat serta akademisi Institut Hasan Sulur (IHS) Polewali Mandar. Dalam dialog tersebut, Adi Arwan Alimin berbicara dalam perspektif sejarah dan kepenulisan, termasuk melalui bukunya “Api Perjuangan Pembentukan Sulawesi Barat.”

Sementara itu, Muhammad Ridwan Alimuddin merupakan peneliti budaya maritim dan penulis produktif yang sebelumnya juga pernah bergabung di Harian Radar Sulbar. Dalam dialog tersebut, ia memperkenalkan proses penyusunan Buku Putih Perjuangan Provinsi Sulawesi Barat, sebuah dokumentasi yang bersumber dari transkripsi wawancara dengan para tokoh yang terlibat langsung dalam perjuangan pembentukan Sulawesi Barat.

Hingga saat ini, wawancara tersebut telah melibatkan sekitar 70 tokoh pejuang. Jumlah itu direncanakan terus ditambah hingga mencapai 100 tokoh sebelum buku putih tersebut diluncurkan secara resmi bertepatan dengan usia perak, 25 tahun, Provinsi Sulawesi Barat.

Ridwan juga merencanakan hasil final buku putih tersebut dibagikan dalam bentuk e-book melalui jejaring internet, sehingga dapat diakses oleh masyarakat secara lebih luas, khususnya generasi muda yang ingin mengetahui sejarah perjuangan pembentukan Sulawesi Barat dari kesaksian para pelakunya.

Dialog dimoderatori oleh Tammalele, budayawan Sulawesi Barat, bersama Hamzah Ismail, mantan Pemimpin Redaksi Tabloid Mingguan Mandar Pos. Mandar Pos sendiri merupakan salah satu media perjuangan yang pada masa itu mengambil peran cukup signifikan dalam menyebarluaskan informasi mengenai dinamika perjuangan pembentukan Sulawesi Barat.

Suasana dialog kemudian menjadi semakin istimewa ketika, di tengah berlangsungnya acara, hadir seorang tokoh yang terlibat langsung dalam perjuangan pembentukan Sulawesi Barat, Syahrir Hamdani, bersama istrinya.

Syahrir Hamdani, yang akrab disapa Ayah Citra, merupakan salah seorang pelaku utama perjuangan yang pernah mendapat tugas khusus mengawal perjuangan pembentukan Sulawesi Barat dari Senayan, Jakarta, khususnya di lingkungan DPR RI.

Kehadirannya di tengah peserta Kemah Budaya menjadi kejutan sekaligus kesyukuran tersendiri. Sebab, cerita yang selama ini disampaikan melalui buku, tulisan dan dokumentasi foto, tiba-tiba hadir dalam sosok seseorang yang pernah berada langsung di tengah gelanggang perjuangan.

Syahrir kemudian menceritakan pengalamannya ketika mendapat tugas menjadi salah seorang juru lobi di Senayan. Tugas awalnya adalah membangun komunikasi dengan sejumlah sahabat dan anggota DPR RI yang dianggap dapat membantu membuka jalan bagi perjuangan pembentukan Sulawesi Barat. Di antara tokoh yang disebut Syahrir adalah Ibnu Munzir, sahabatnya yang banyak membantu menghubungkannya dengan sejumlah anggota DPR RI, termasuk dari Fraksi Golkar.

Dalam penuturannya, Syahrir juga menjelaskan bahwa proses pembentukan Sulawesi Barat ditempuh melalui hak inisiatif anggota DPR RI, bukan melalui usulan eksekutif. Karena itu, salah satu pekerjaan penting yang dilakukan para pejuang di Senayan adalah menggalang dukungan anggota DPR RI, termasuk memburu tanda tangan anggota dewan sebagai bagian dari proses pengajuan hak inisiatif tersebut.

Penuturan Syahrir membuat dialog yang semula berbicara tentang sejarah dari perspektif buku dan dokumentasi menjadi semakin hidup. Para peserta tidak hanya mendengar bagaimana sebuah sejarah ditulis, tetapi juga bagaimana perjuangan itu dijalankan dari dalam ruang-ruang politik di Senayan.

Belum lama Syahrir bergabung dalam dialog, kejutan berikutnya kembali terjadi. Imran Kaljubi, salah seorang yang juga pernah berada dalam barisan pejuang pembentukan Sulawesi Barat, hadir di tengah kegiatan. Imran merupakan salah seorang yang hadir dalam momentum Deklarasi Galung Lombok. Pada saat itu, ia masih berstatus sebagai PNS dan sedang melanjutkan pendidikan magister di Universitas Negeri Makassar (UNM).

Kehadiran Syahrir Hamdani dan Imran Kaljubi di hadapan peserta Kemah Budaya menjadikan dialog sejarah tersebut memiliki makna yang jauh lebih dalam. Dua narasumber berbicara berdasarkan hasil penelitian, penulisan dan dokumentasi, sementara dua orang lainnya hadir sebagai pelaku yang mengalami langsung bagian dari perjalanan perjuangan tersebut.

Di hadapan ratusan siswa SMA/SMK peserta Kemah Budaya, sebuah pertanyaan penting kemudian menemukan jawabannya: mengapa dahulu masyarakat Sulawesi Barat berjuang membentuk sebuah provinsi sendiri? Jawaban atas pertanyaan itu tidak hanya datang dari buku sejarah.

Ia datang dari foto-foto yang merekam peristiwa. Dari tulisan para peneliti dan jurnalis. Dari kesaksian para tokoh. Dan, yang paling penting, dari suara orang-orang yang pernah berada langsung di tengah perjuangan.

Bagi generasi muda yang hadir di Baruga Kaiyyang sore itu, sejarah Sulawesi Barat tidak lagi terasa sebagai sesuatu yang jauh dan selesai. Sejarah hadir sebagai sebuah perjalanan yang pernah diperjuangkan oleh manusia-manusia nyata, dengan gagasan, keberanian, perdebatan, pengorbanan, dan kerja panjang yang tidak selalu terlihat.

Dari situlah dialog sejarah dalam Kemah Budaya menjadi lebih dari sekadar kegiatan berbagi pengetahuan. Ia menjadi ruang pertemuan antara arsip masa lalu dan generasi yang akan menentukan bagaimana sejarah itu dikenang dan dimaknai pada masa depan./***

× Advertisement
× Advertisement