BANNIQ.Id.Tinambung. Kemah Budaya dalam rangkaian Pekan Kebudayaan Daerah (PKD) Taman Budaya dan Museum Provinsi Sulawesi Barat (TBM Sulbar) menghadirkan dialog inspiratif bertema “Proses Kreatif Menuju Juara”. Kegiatan ini menghadirkan dua talenta muda Sulawesi Barat yang telah menorehkan prestasi di bidang seni dan sekaligus membawa nama daerah dalam ajang tingkat nasional.
Kedua narasumber tersebut adalah Muhammad Abyan Rahmat, mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) asal Kecamatan Tinambung, Kabupaten Polewali Mandar, dan Indra Kirana, mahasiswa semester akhir Seni Pertunjukan Universitas Negeri Makassar (UNM).
Abyan sebelumnya berhasil meraih Juara II Lomba Baca Puisi pada Festival Seni Mahasiswa Tingkat Nasional (FEEKSIMINA) 2026. Sementara Indra Kirana berhasil menjadi juara monolog pada Festival Seni Mahasiswa Daerah (Feksimida) Sulawesi Selatan dan kemudian mewakili Sulawesi Selatan pada ajang tingkat nasional tahun 2026.
Dialog tersebut menjadi ruang berbagi pengalaman bagi peserta Kemah Budaya, khususnya mengenai bagaimana sebuah prestasi tidak lahir secara tiba-tiba, melainkan melalui proses panjang, latihan yang disiplin, kegagalan, jatuh bangun, serta kemauan untuk terus memperbaiki diri.
Dalam pemaparannya, Abyan menceritakan proses panjang yang dilaluinya sebelum tampil dalam kompetisi baca puisi tingkat nasional. Hampir empat bulan ia menjalani latihan secara intensif. Namun, menariknya, Abyan mengaku sejak awal tidak menjadikan juara sebagai target utama.
Baginya, yang paling penting adalah menjalani proses latihan dengan sungguh-sungguh.
“Jangan berpikir bagaimana caranya supaya juara. Fokus saja pada proses latihannya,” demikian pesan yang disampaikan Abyan kepada peserta Kemah Budaya.
Proses latihan yang dijalaninya pun bukan sesuatu yang ringan. Abyan bahkan harus menjalani latihan fisik yang cukup berat. Salah satu bentuk latihan yang dilakukannya adalah berjalan jongkok sambil membaca puisi. Latihan tersebut dijalani secara konsisten selama kurang lebih tiga bulan.
Latihan itu bukan sekadar untuk membangun kemampuan membaca puisi, tetapi juga melatih ketahanan fisik, penguasaan napas, konsentrasi, artikulasi, serta kemampuan mempertahankan ekspresi ketika berada dalam kondisi fisik yang tidak nyaman.
Pengalaman tersebut menjadi pelajaran penting yang kemudian dibagikan Abyan kepada peserta Kemah Budaya. Menurutnya, seorang anak muda yang ingin berkembang di bidang seni harus memiliki kedisiplinan dalam berlatih.
Bakat saja tidak cukup. Bakat harus dipertemukan dengan latihan yang terus-menerus dan disiplin.
Pesan yang hampir sama disampaikan Indra Kirana. Pengalaman sebagai pelaku seni pertunjukan mengajarkannya bahwa perjalanan menuju sebuah prestasi tidak selalu berjalan mulus.
Menurut Indra, seseorang tidak perlu terlalu terbebani dengan pikiran untuk menjadi juara. Sebab, ketika perhatian hanya diarahkan pada hasil, proses kreatif justru dapat kehilangan ruang untuk berkembang.
Yang terpenting, kata Indra, adalah bagaimana seseorang menjalani proses dengan sungguh-sungguh, terus belajar, berani melakukan evaluasi, dan tidak berhenti ketika menghadapi kegagalan.
Jatuh bangun dalam proses, menurutnya, merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan seorang seniman.
Dari pengalaman kedua narasumber tersebut, para peserta Kemah Budaya mendapatkan satu pesan penting: prestasi bukanlah sesuatu yang datang secara tiba-tiba. Ia merupakan hasil dari proses panjang yang dijalani dengan kesungguhan dan disiplin.
Dialog “Proses Kreatif Menuju Juara” akhirnya bukan sekadar berbicara tentang bagaimana meraih kemenangan dalam sebuah perlombaan. Lebih jauh, dialog ini mengajak peserta Kemah Budaya untuk memahami bahwa setiap karya membutuhkan proses, setiap proses membutuhkan ketekunan, dan setiap ketekunan pada akhirnya akan menemukan hasilnya.
Bagi Abyan dan Indra, juara boleh menjadi buah dari perjalanan. Tetapi yang jauh lebih penting adalah menjadi lebih baik melalui proses yang dijalani hari demi hari.










