Seri Tulisan Jelang Festival Kota Tua Majene (Perang Ammana Wewang dan Jatuhnya Mandar, 5 )

Hits: 30

Halaman Rumah Paqbicara Bannggae, Yang di Depannya Dulu di Zaman Belanda terdapat Gudang Kopra(photo: Muh.Ridwan Alimuddin)

Perang Ammana Wewang dan Jatuhnya Mandar (5)
Oleh: Muhammad Ridwan Alimuddin, (pemerhati sejarah Mandar)


BANNIQ.Id.Opini.Pada tanggal 19 Juni 1905 tibalah rombongan serdadu Belanda di Majene dan Pamboang. Dua kapal di Teluk Majene, satu kapal di Teluk Pamboang. Dua setelah tiba di Majene, pasukan Belanda langsung melakukan serangan ke pusat pertahanan Ammana I Wewang. Kedatangan pasukan itu dihadang anak buah Ammana I Wewang yang dipimpin Sesa Puaq Tappa di Paribuang, dekat Sungai Mandar.

Tanggal 22 Juni 1905 terjadi pertempuran sengit. Sekira 1 pleton serdadu Belanda jatuh ke jurang, sisanya lari kembali ke Majene. Berhasil dirampas 37 pucuk senjata dan empat peti peluru. Lima hari kemudian, Asisten Residen Vermeulen memerintahkan kopralnya yang ada di Pamboang untuk ke Majene memberi bantuan. Di bawah pimpinan Mayor Lanzing, pasukan Belanda dari Pamboang tiba di Majene hari itu juga, 27 Juni 1905.

Meski ada upaya menyatukan pasukan oleh Belanda, usaha itu sulit dilakukan sebab selalu dipecah oleh pasukan Ammana I Wewang. Pasukan Maraqdia Kamande menghadang jurusan ke Alu melalui Baruga. Sedang bagian barat jurusan Salabose diperkuat oleh Ammana I Wewang. Pasukan Belanda berputar-putar di sekitar Majene saja.

Mereka kesulitan menembus pertahanan Ammana I Wewang di Benteng Tandung Alu. Dengan demikian, pertempuran sporadis saja di beberaa tempat. Karena dukungan bantuan Belanda ke pasukannya yang melakukan penyerangan (logistik) terhambat/terlambat, mereka akhirnya mundur ke Majene.

Menyadari kesulitan itu dan minimnya dukungan dari rakyat, Belanda mendekati I Laqju Kanna Doro yang sedang menjabat arajang Kerajaan Balanipa. Usaha Belanda yang dipimpin Vermeulen dan Lanzing disabotase oleh I Mandawari. I Mandawari mengutus Tangali alias Puangnga I Jattia untuk menemui Gubernur Paralen di Makassar.

Utusan tersebut meminta tambahan pasukan untuk segera mengatasi perlawanan Ammana I Wewang. Baliknya delegasi I Mandawari diikuti kapal patroli perairan. Tiba di Majene, bantuan dari gubernur tersebut menyampaikan pesan agar I Mandawari segera ke Makassar bersama kaum hadat untuk segera dilantik menjadi maraqdia.
Usaha I Mandawari untuk ke Makassar diketahui oleh I Laqju Kannda Doro dan pasukan Ammana I Pattolawali. Dua kelompok yang berbeda motivasi itu mencoba menghalangi keberangkatan I Mandawari ke Makassar. Kapal yang sedianya untuk dipakai ke Makassar bersama rombongan Mandawari pulang tak sesuai rencana.

Nanti 9 September 1905 I Mandawari berhasil ke Makassar bersama beberapa hadat. Sepekan kemudian, 16 September 1905 I Mandawari dilantik sebagai maraqdia di Kerajaan Balanipa untuk kesekian kalinya. Demikian juga anggota hadat yang lain: Ahmad sebagai Pappuangan di Tenggelang, Kajidi sebagai Pappuangan di Biring Lembang, Puaq Matta sebagai Pappuangang di Limboro, H. Puangnga Maqdu sebagai Paqbicara Kaiyang di Balanipa, dan Daengnga I Diya sebagai Paqbicara Kenje di Balanipa.
Usai dilantik, ditandatanganilah sebuah naskah perjanjian pendek (corte verklaring) yang isinya sebagai berikut:

Bahwa ia (I Mandawari Raja Balanipa) mengaku takluk di bawah Raja Belanda dan Kerajaan Balanipa adalah suatu bahagian dari “Hindia Belanda” oleh sebab itu harus setia pada Raja Belanda dan pada wakilnya, yaitu Gubernur Jenderal Hindia Belanda.
Bahwa ia (I Mandawari Raja Balanipa) tidak akan mengadakan hubungan kenegaraan dengan “kekuasaan-kekuasaan asing musuh Belanda”.

Musuh Belanda adalah musuhnya, sahabat Belanda adalah sahabatnya.
Bahwa ia (I Mandawari Raja Balanipa) akan: “Mentaati segala peraturan mengenai negerinya yang ditetapkan oleh Raja Belanda maupun Gubernur Jenderal Hindia Belanda atau wakilnya di Selebes. Seterusnya akan menuruti segala perintah yang telah diberikan atau yang akan diberika kepadanya oleh Gubernur Jenderal ata wakilnya di Selebes.

Keesokan harinya, 17 September 1905, I Mandawari dan hadatnya kembali ke Balanipa menggunakan kapal perang Belanda. Tiba di Balanipa, posisi sebagai maraqdia tidak diakui sebab hadat yang hadir hanya lima, yang seharusnya sepuluh atau “Sappulo Sokkoq”. Yang dianggap sah adalah jabatan yang dipegang I Laqju Kanna Doro. Meski demikian, I Mandawari tetap memperkuat diri.

Mendapat sokongan Belanda, ia memperkuat pengawalan di istanyanya di Tangnga-tanga (dekat muara Sungai Mandar).

Tibanya tambahan pasukan Belanda di Mandar, Benteng Galung yang dikawal Ammana I Pattolawali diserang. Benteng itulah benteng I Ammana Wewang paling kuat. Serangan itu menjadi pukulan keras bagi Ammana I Wewang sebab menyebabkan Ammana I Pattolawali gugur dan beberapa anggotanya tertangkap. Peristiwa itu terjadi 6 Juni 1906.

Rombongan keluarga Ammana I Wewang yaitu Ajuara, mertua dari Ammana I Pattolawali bersama permaisuri mengundurkan diri ke Onang. Lama di Onang, Belanda memberi bujukan lampu hijau keamanan, bisa kembali ke Pamboang untuk kembali menjalankan roda pemerintahan Kerajaan Pamboang dan Banggae.

Sikap Belanda tersebut dipenuhi, Ajuara kembali ke Pamboang. Beberapa hari di Pamboang, diundanglah Ajuara ke Banggae untuk mengikuti suatu pertemuan. Sewaktu diadakan pertemuan, datang informasi dari Belanda sendiri bahwa pasukan Ammana I Wewang sedang melakukan serangan. Maka pertemuan dipindahkan ke kapal perang Belanda yang sedang berlabuh guna melanjutkan pembicaraan. Nyatanya, itu adalah tipu daya Belanda. Ajuara dan rombongan ternyata dibawa ke Makassar untuk selanjutnya ditahan di Fort Rotterdam. Nanti dibebaskan setelah Ammana I Wewang tertangkap.

Belanda menganggap pasukan Ammana I Wewang makin melemah. Belanda mencoba untuk menawarkan ke Ammana I Wewang untuk menyerah, tapi dia tidak mau. Akhirnya Belanda kembali menggunakan strategi sayembara. Barang siapa berhasil menangkap Ammana I Wewang hidup atau mati, akan diberikan hadiah sebesar 1.000 ringgit.

Sambil melakukan strategi itu, Belanda melakukan serangan-serangan. Upaya itu berhasil, beberapa kawasan pesisir dikuasainya yang membuat dukungan logistik ke pusat pertahanan Ammana I Wewang di pedalaman terhambat. Ruang gerak Ammana I Wewang makin terbatas.
Sementara itu, Residen Terbeschikking Brugman mengadakan kontak politik yang baru dengan raja-raja setempat (Zelf bestuur) sehingga pengaruh Belanda lebih kuat dan meluas di Mandar. Tiap-tiap kerajaan ditempatkan pegawai-pegawai yang diangkat oleh Belanda. Residen T. Brugman menempatkan Dhorman sebagai Controlour di Majene pada 1 Desember 1906, bertugas mengatur kerja sama raja-raja setempat dan memperbaiki sistem pemerintahan.
Awalnya Dhorman diterima oleh raja-raja setempat. Tapi belakangan ada sikapnya yang kurang berkenan di kalangan raja-raja. Tanggal 23 Desember 1906, Raja Balanipa mengirim surat ke Controleur Dhorman menyatakan bahwa di Sendana, Campalagian, Binuang dan di tempat-tempat lainnya terjadi gerakan bersenjata akibat ada tindakan kekerasan oleh pihak Dhorman. Surat itu mengharapkan ada perubahan sikap dari Dhorman. itu diabaikan.

Dhorman memerintahkan Letnan I Gosdorf, dengan menggunakan kapal K. M. Assahan melakukan operasi penangkapan di daerah-daerah tersebut. Perlawanan dilakukan oleh Karajaan Sendana terhadap gerakan Letnan I Gosdorf.

Lalu 7 Januari 1907 pemerintahan Belanda di Majene disergap oleh pejuang lokal. Kediaman Controlour Dhorman dan syahbandar dibakar. Dhorman melarikan diri ke Pare-pare, sedang syahbandar ditangkap dan ditembak mati. Dhorman yang tiba di Makassar melapor ke atasannya tentang apa yang terjadi. Belakangan, atasannya atau Asisten Residen saat ke Majene mengetahui alasan penyerangan terhadap Dhorman. Dhorman disalahkan dan dipecat.(Bersambung)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *