Seri Tulisan Jelang Festival Kota Tua Majene(Perang Ammana Wewang dan Jatuhnya Mandar, 6)

Hits: 41

suasana Kota Majene Saat Ini(Photo :Muh.Ridwan Alimuddin)

Perang Ammana Wewang dan Jatuhnya Mandar (6)
Oleh: Muhammad Ridwan Alimuddin, (pemerhati sejarah Mandar)
BANNIQ.Id.Opini.Belanda kembali fokus ke upaya pemadaman perlawanan Ammana I Wewang. Dengan dukungan Gubernur Selebes yang memerintahkan Komando Garnizun Meliter (KGM) untuk memperkuat Detasemen Lanzhoek di Mandar. Dikirimlah sebagian anggota Batalyon 8 dan sebagian anggota Bn. HR. 15 ke Majene di bawah pimpinan Mayor Lanzing.
Pada tanggal 14 Februari 1907 Lanzing mengadakan patroli untuk menyelidiki pertahanan Ammana I Wewang. Mereka mendapat serangan di Parribuang. Pasukan Lanzing terus menyusup. Meski mendapat tembakan, mereka tidak masif melakukan perlawanan balik. Sebaliknya, pasukan Ammawa I Wewang selalu melepaskan tembakan. Yang mana itu membuat posisinya diketahui.

Pasukan Ammana I Wewang pun salah paham, mengira musuh mereka sudah kewalahan dan kehabisan peluru. Lalu mereka memutuskan untuk melakukan serangan.
Di luar dugaan, saat mereka menyerang dalam jarak dekat, mereka malah berhadapan dengan senapan otomatis dari Belanda. Tubuh pasukan Ammana I Wewang tumbang satu per satu. Yang berhasil melarikan diri dihujani tembakan meriam dari kapal Sibolga yang ada di laut. Kru di kapal Sibolga mendapat tanda dari pasukan Belanda yang ada di garis depan.

Pasukan yang kocar-kacir mengacaukan komando para pimpinan di pasukan Ammana I Wewang. Keesokan harinya, pasukan Ammana I Wewang terkepung di bekas istananya di Alu. Belanda nyaris bisa menangkap Ammana I Wewang. Ammana I Wewang bisa lolos sebab salah satu pengawalnya mengaku bahwa dialah Ammana I Wewang.

Di sisi lain, ternyata Ammana I Wewang kebal terhadap peluru. Ratusan peluru yang menghantam tubuhnya tak satu pun yang melukainya. Maka loloslah Ammana I Wewang. Mayor Lanzing juga tak melakukan pengejaran sebab logistiknya juga berkurang.
Saat Belanda kembali ke Majene, Ammana I Wewang kembali ke bekas istana ayahnya di Bukit Tundung. Dia membakar istana tersebut agar tak dikuasai oleh Belanda.

Sadar upaya senjata tak mampan, akhirnya Belanda menjalin komunikasi intensif dengan Laqju Kanna Doro, meminta dukungannya. I Laqju Kanna Doro mencari tahu siapa orang dekat Ammana Wewang. Akhirnya dia mendapat informasi bahwa tokoh masyarakat Tandassura bernama Kaqtabbas mengetahui siapa tukang pijat Ammana Wewang. Namanya Kaqsawa dan Kaqmana.
Kepada Kaqtabbas dijanjikan kedudukan dan terhadap tukang pijat akan diberi hadiah 1000 ringgit.

Akhirnya si tukang pijit memberitahukan tempat persembunyian Ammana Wewang. Saat Ammana Wewang istirahat (tidur), si tukang pijit menghubungi prajurit Belanda. Rombongan serdadu membawa serta beberapa bambu dan seutas tali ijuk.

Sebab Ammana Wewang dikenal kebal, digunakan cara tersendiri untuk menangkapnya: tubuh dihimpit dengan bambu lalu diikat. Dengan tubuh yang terikat, tubuh Ammana I Wewang diusung ke Tangsi Serdadu Belanda di Majene. Kejadian ini terjadi pada 23 Juli 1907. Sebulan ditahan untuk diminta keterangan. Lalu diadili di Campalagian. Dia divonis 20 tahun penjara.
Tanggal 24 Agustus 1907, Ammana I Wewang bersama 18 pengikutnya yang turut terlibat dalam amukan Ammana I Wewang di muka sidang Pengadilan Campalagiang kembali disidangkan untuk selanjutnya ditahan di Benteng Rotterdam, Makassar. Setengah bulan ditahan lalu dikirim ke Batavia.

Setelah diambil keterangannya di Batavia, Gubernur Jenderal sebagai wakil raja Belanda memasukkan Ammana I Wewang bersama pengikutnya ke dalam daftar tahanan sebagai Externering (pengasingan luar negeri di Tanah Belanda) termasuk 9 orang pengikutnya, sedang yang lainnya masuk ke dalam daftar Internering (pengasingan dalam negeri Indonesia).

Sebab keadaan mulai rumit, pengasingan Ammana I Wewang diubah menjadi Internering. Dia dibuang ke Pulau Belitung terhitung mulai 1 November 1907. Adapun pengikutnya yang lain dibuang ke Gresik, Bali dan tempat lain. Selama di pengasingan, Ammana I Wewang mendapat tunjangan dari pemerintah Belanda sebesar f 250 (100 ringgit) per bulan. Sewa rumah selama berstatus tahanan juga ditanggung pihak Belanda, sebesar f 500 per tahun. Ammana I Wewang juga mempunyai pelayan dua pesuruh dan tiga mengurus kebun/pekarangan serta sebagai juru masak. Gajinya juga ditanggung Belanda.

Selama di Pulau Belitung, Ammana I Wewang tetap menjalin komunikasi dengan kerabatnya di Mandar lewat para pelayar Mandar yang sering ke Selat Malaka. Para pelaut atau pedangang yang sering ke Singapura selalu singgah di Pulau Belitung menjenguk Ammana I Wewang.

Menurut salah seorang cucu Ammana I Wewang yaitu Andi Mappatunru, di Pulau Belitung Ammana I Wewang sempat menikah dua kali dengan wanita Belanda. Tapi tak ada keturunan dari pernikahan tersebut. Ammana I Wewang 37 tahun berada di Pulau Belitung.

Pada 1 April 1944 dia dibebaskan Panglima Angkatan Laut Jepang. Setahun berikutnya, 1 April 1945, dengan menggunakan perahu lete dari Mandar, Ammana I Wewang meninggalkan Pulau Belitung. Dia tiba di Baqbabulo, Pamboang pada 22 Mei 1945. Ammana I Wewang wafat di Limboro, pada 11 April 1967.

Awalnya makamnya berada di depan Mesjid Limboro. Khawatir terkena abrasi Sungai Mandar, makam dipindahkan ke bukit kecil di sisi jalan yang menghubungkan Lemosusu (Limboro) dengan Pasar Tinambung di Talolo. (selesai)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *