BANNIQ.Id. Mamuju. Menyambut peringatan Hari Demam Berdarah setiap 22 April, RSUD Provinsi Sulawesi Barat menggelar edukasi dan penyuluhan kepada pasien serta keluarga pasien di ruang tunggu pendaftaran, Senin, 20 April 2026.
Kegiatan ini dilaksanakan oleh Tim Promosi Kesehatan Rumah Sakit (PKRS) sebagai upaya meningkatkan pemahaman masyarakat tentang bahaya Demam Berdarah Dengue (DBD) dan langkah pencegahannya.
Edukasi dibuka oleh Ketua Tim PKRS, Nurwati, dengan partisipasi aktif dari pasien dan keluarga. Dokumentasi kegiatan dilakukan oleh Jessie untuk keperluan publikasi dan pelaporan.
Kegiatan ini juga mendukung visi pembangunan daerah melalui Panca Daya Gubernur Sulawesi Barat, khususnya dalam membangun sumber daya manusia yang unggul dan berkarakter.
Materi disampaikan oleh dr. Tezya Devanagari yang menjelaskan bahwa DBD disebabkan virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti, terutama di wilayah tropis seperti Indonesia.
Ia mengungkapkan, gejala DBD biasanya muncul 4–10 hari setelah gigitan nyamuk, ditandai demam tinggi mendadak, sakit kepala, nyeri belakang mata, nyeri otot dan sendi, mual, muntah, serta ruam kulit.
Dalam kondisi tertentu, pasien dapat mengalami mimisan atau gusi berdarah yang menjadi tanda penyakit lebih serius dan perlu diwaspadai.
Tanda bahaya yang membutuhkan penanganan segera meliputi nyeri perut hebat, muntah terus-menerus, perdarahan, serta kondisi lemas, gelisah, atau penurunan kesadaran.
Pencegahan DBD dapat dilakukan dengan 3M, yaitu menguras, menutup, dan mengubur tempat yang berpotensi menjadi sarang nyamuk, serta menggunakan pelindung seperti lotion anti-nyamuk atau kelambu.
Direktur RSUD Sulbar, dr. Musadri Amir Abdullah, menegaskan komitmen rumah sakit dalam upaya promotif dan preventif serta mengajak masyarakat menjaga kebersihan lingkungan guna mencegah penyebaran DBD.







