OPINI
Beranda » CFD Pasangkayu: Dapat Sehatnya,Dapat Hadiahnya

CFD Pasangkayu: Dapat Sehatnya,Dapat Hadiahnya

CFD PASANGKAYU: Dapat Sehatnya, Dapat Hadiahnya

Penulis : Muliadi Saleh, Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran

Hari Kebebasan Pers Dunia, Menjadi Suluh dan Lokomotif Bangsa

Car Free Day (CFD) atau Hari Bebas Kendaraan Bermotor bermula dari inisiatif global pengurangan emisi, dengan akar sejarah di Belanda (1956) dan diadopsi secara internasional untuk mengurangi polusi serta meningkatkan kesehatan. Di Indonesia, CFD pertama kali digelar di Jakarta pada tahun 2001, kemudian resmi dilaksanakan rutin di Jl. Sudirman–Thamrin sejak 22 September 2002.

Dari jejak sejarah itu, kita belajar bahwa CFD bukan sekadar menutup jalan, melainkan membuka kesadaran. Ia adalah ruang di mana manusia kembali menjadi pusat, bukan mesin. Di pagi hari yang lebih jernih, tanpa deru knalpot dan kepulan asap, kita menemukan kembali ritme hidup yang sering hilang dalam kesibukan.

JK,Kerusuhan Poso,dan Dramatisasi di Era Algoritma

Di Pasangkayu, makna itu terasa lebih dekat dan lebih membumi. CFD bukan hanya tentang berjalan kaki atau bersepeda, tetapi tentang kebersamaan yang hidup. Pada 3 Mei 2026, jalanan kembali dipenuhi langkah-langkah ringan warga: anak-anak, orang tua, ASN, TNI/Polri, hingga para pelaku UMKM yang menggelar harapan di atas lapak-lapak sederhana di sepanjang jalan di Pantai Vovasanggayu.

Dan di tengah suasana itu, hadir sosok inspiratif yang memberi energi dan semangat baru: Dr. Ir. H. Agus Ambo Djiwa, MP, Anggota DPR RI Komisi IV. Kehadirannya bukan sekadar simbol, melainkan aksi nyata. Ia juga membawa spirit, kepedulian dan  keberpihakan dengan menjadi sponsor utama berbagai hadiah yang dibagikan kepada masyarakat. Televisi, mesin cuci, rice cooker dan hadiah menarik lainnya yang mungkin sederhana bagi sebagian orang, tetapi menjadi kebahagiaan yang nyata bagi yang menerima.

Kini Membincang Kartini, Masihkah Relevan?

Di sinilah CFD Pasangkayu menemukan keunikannya: sehatnya dapat, bahagianya terasa. Tubuh bergerak, hati bahagia.

Namun lebih dari itu, CFD menjadi panggung ekonomi rakyat. UMKM hadir bukan hanya menjual produk, tetapi juga memperkenalkan identitas lokal. Aroma makanan, kerajinan tangan, hingga senyum para penjual menjadi denyut ekonomi kecil yang tak boleh diabaikan. Dalam arahannya, Dr. Agus Ambo Djiwa menegaskan bahwa CFD harus menjadi ruang hidup bagi UMKM agar ekonomi tetap berputar, bahkan di pagi hari yang santai.

Kehadiran Wakil Bupati Pasangkayu, Dr. Erny, yang selalu datang lebih awal dan berbaur tanpa sekat, memperkuat pesan bahwa kepemimpinan sejati hadir di tengah rakyat. Tidak berjarak, tidak formal, tetapi hangat dan membumi.

CFD Pasangkayu, pada akhirnya, bukan hanya tentang olahraga atau hiburan. Ia adalah ruang silaturahmi, tempat relasi sosial dirawat, dan harmoni dibangun. Di jalan yang biasanya menjadi milik kendaraan, kini manusia kembali menemukan  haknya untuk berjalan, bercengkerama, dan merayakan hidup.

Secara ilmiah, kita tahu bahwa CFD menurunkan emisi, meningkatkan kesehatan, dan memperkuat interaksi sosial. Namun di Pasangkayu, CFD melampaui angka-angka itu. Ia menjadi peristiwa kultural—di mana kesehatan, kebahagiaan, dan kebersamaan bertemu dalam satu ruang yang sama.

Maka benar adanya:
di Pasangkayu, CFD bukan hanya soal bebas kendaraan—
tetapi tentang membebaskan manusia dari rutinitas yang kaku,
mengembalikan senyum yang sederhana,
dan menghadirkan harapan dalam bentuk yang paling nyata.

Dapat sehatnya, dapat hadiahnya—
dan yang tak kalah penting,
dapat silaturrahmi dan kebersamaannya.

Muliadi Saleh
“Menulis Makna, Membangun Peradaban.”

× Advertisement
× Advertisement