Kini… Membincang Kartini: Masihkah Relevan?
Oleh: Hamzah Ismail
Di tengah meningkatnya akses pendidikan bagi perempuan, keterlibatan mereka dalam ruang publik, dan juga berbagai bentuk ketimpangan yang masih bertahan, nama Raden Ajeng Kartini kembali dibincang. Namun pertanyaannya bukan sekadar apakah Kartini penting, melainkan: sejauh mana gagasannya masih hidup dalam realitas hari ini?
Kartini, dalam banyak hal, telah selesai sebagai simbol. Ia ditempatkan dalam ruang yang aman—dikenang, dihormati, tetapi jarang diperdebatkan. Padahal, Kartini yang sesungguhnya adalah sosok yang gelisah. Ia tidak sekadar menerima keadaan, tetapi mempertanyakannya. Ia menulis, menggugat, dan merindukan perubahan.
Dalam surat-suratnya yang kemudian dihimpun dalam “Habis Gelap Terbitlah Terang”, kita menemukan suara seorang perempuan yang berusaha keluar dari kungkungan zamannya: sebuah zaman yang membatasi akses perempuan terhadap pendidikan dan kebebasan berpikir.
Pertanyaannya kemudian menjadi lebih tajam: apakah kegelisahan Kartini masih kita rasakan hari ini?
Di satu sisi, kita bisa dengan mudah menjawab: ya, Kartini telah berhasil. Perempuan Indonesia hari ini memiliki akses yang jauh lebih luas terhadap pendidikan. Mereka hadir di berbagai ruang publik, di kampus, di kantor pemerintahan, di dunia usaha, bahkan di panggung politik. Apa yang dahulu diperjuangkan Kartini tampak telah menjadi kenyataan.
Namun di sisi lain, realitas tidak sesederhana itu.
Di banyak tempat, terutama di lapisan masyarakat tertentu, perempuan masih menghadapi batasan—baik yang kasat mata maupun yang tersembunyi. Akses pendidikan memang terbuka, tetapi tidak selalu setara. Perempuan didorong untuk maju, tetapi tetap dibebani ekspektasi sosial yang tidak ringan. Mereka boleh bermimpi, tetapi sering kali harus bernegosiasi dengan tradisi, norma, bahkan tafsir agama yang tidak selalu berpihak.
Di sinilah relevansi Kartini justru menemukan momentumnya kembali.
Kartini bukan hanya tentang perempuan yang ingin sekolah. Ia adalah tentang keberanian untuk berpikir berbeda di tengah tekanan sosial. Ia adalah tentang kegelisahan terhadap ketidakadilan yang dianggap “biasa”. Dan lebih dari itu, ia adalah tentang kesadaran bahwa perubahan tidak selalu datang dari luar, tetapi juga harus diperjuangkan dari dalam kesadaran diri.
Masalahnya, kita sering kali mereduksi Kartini hanya pada satu sisi: emansipasi perempuan dalam arti yang sempit. Kita lupa bahwa perjuangan Kartini juga menyentuh soal kemanusiaan secara lebih luas, tentang martabat, tentang kebebasan berpikir, dan tentang keberanian melawan struktur yang tidak adil.
Dalam konteks hari ini, membincang Kartini seharusnya tidak berhenti pada seremoni tahunan. Ia harus menjadi ruang refleksi: apakah kita sudah benar-benar menciptakan masyarakat yang adil bagi semua? Apakah perempuan benar-benar memiliki ruang yang setara, bukan hanya secara formal, tetapi juga secara kultural?
Lebih jauh lagi, pertanyaan tentang relevansi Kartini juga menyentuh generasi muda. Di era digital, di mana akses informasi terbuka luas, perempuan memiliki peluang yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Namun di saat yang sama, mereka juga menghadapi tantangan baru: standar kecantikan yang tidak realistis, tekanan media sosial, hingga bentuk-bentuk kekerasan yang lebih subtil.
Apakah Kartini masih relevan dalam konteks ini?
Jawabannya: bukan hanya relevan, tetapi justru semakin penting.
Kartini mengajarkan kita untuk tidak sekadar menerima dunia apa adanya. Ia mengajarkan pentingnya kesadaran kritis, kemampuan untuk bertanya, meragukan, dan mencari jalan yang lebih adil. Dalam dunia yang semakin kompleks, nilai-nilai ini menjadi semakin krusial.
Namun, ada satu hal yang perlu kita waspadai: jangan sampai Kartini hanya menjadi nostalgia. Jangan sampai ia hanya hadir sebagai nama jalan, nama sekolah, atau tema perayaan tahunan. Kartini harus tetap hidup sebagai gagasan, sebagai energi yang mendorong perubahan.
Maka, membincang Kartini hari ini bukanlah tentang mengulang-ulang kisah lama, tetapi tentang membaca ulang maknanya dalam konteks kekinian. Bukan tentang memuja, tetapi tentang melanjutkan. Bukan tentang mengenang, tetapi tentang menghidupkan.
Selamat hari Kartini, 21 April 2026.
Hari ini bukan sekadar mengenang Raden Ajeng Kartini sebagai tokoh sejarah, tetapi juga menghidupkan kembali semangatnya: keberanian untuk berpikir, bertanya, dan memperjuangkan martabat.
Di tengah dunia yang terus berubah, Kartini mengingatkan bahwa kemajuan bukan hanya soal akses, tetapi juga kesadaran. Bahwa pendidikan bukan sekadar sekolah, tetapi kemampuan untuk melihat ketidakadilan dan tidak diam terhadapnya.
Semoga hari ini tidak berhenti pada seremoni, tetapi menjadi ruang refleksi, tentang perempuan, tentang kemanusiaan, dan tentang masa depan yang lebih adil.
Dan mungkin, pada akhirnya, pertanyaan “apakah Kartini masih relevan?” bukanlah pertanyaan tentang Kartini itu sendiri. Ia adalah pertanyaan tentang kita: sejauh mana kita masih berani berpikir, bersuara, dan memperjuangkan keadilan, seperti yang pernah dilakukan Kartini di zamannya.
Jika jawabannya masih “ya”, maka Raden Ajeng Kartini belum selesai. Ia masih hidup, bukan di masa lalu, melainkan dalam kesadaran kita hari ini. Dan pada saatnya, kitalah yang perlu terus mengulik jejaknya, bukan hanya di panggung sejarah, tetapi dalam denyut perjuangan perempuan Indonesia yang masih berlangsung.
“Kerja belum selesai,” seolah ia berbisik.
Tinambung, 21 April 2026







