BANNIQ.Id. Mamuju. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Barat mencatat inflasi tahunan (year on year/y-on-y) Sulawesi Barat pada Mei 2026 sebesar 1,99 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) mencapai 111,01.
Kepala BPS Sulawesi Barat, Suri Handayani, pada kegiatan penyampaian rilis resmi pada selasa, 2 Juni 2026, menyampaikan bahwa inflasi tertinggi terjadi di Mamuju sebesar 2,13 persen dengan IHK 110,91. Sementara inflasi terendah tercatat di Kabupaten Majene sebesar 1,91 persen dengan IHK 111,08.
Selain inflasi tahunan, Sulawesi Barat juga mengalami inflasi bulanan (month to month/m-to-m) sebesar 0,11 persen dan inflasi tahun kalender (year to date/y-to-d) sebesar 1,44 persen hingga Mei 2026.
Secara umum, inflasi terjadi akibat kenaikan harga pada sejumlah komoditas kebutuhan masyarakat. Beberapa komoditas yang dominan mendorong inflasi antara lain beras, emas perhiasan, tomat, rokok, ikan bandeng, asam, angkutan udara, telepon seluler, air kemasan, bawang merah, ikan tuna, bahan bakar rumah tangga, jasa servis kendaraan, jeruk limau, daging ayam ras, bakso siap santap, serta ikan tongkol.
Sementara itu, sejumlah komoditas tercatat memberikan andil terhadap deflasi atau menahan laju kenaikan harga, di antaranya ikan layang, telur ayam ras, ikan katamba, minyak kelapa, ikan selar, bawang putih, gula merah, pisang, jagung manis, wortel, ikan baronang, serta beberapa kebutuhan rumah tangga lainnya.
Untuk inflasi bulanan pada Mei 2026, kenaikan harga cabai merah, tomat, beras, air kemasan, gula pasir, angkutan udara, telepon seluler, dan rokok menjadi faktor utama pendorong inflasi. Sebaliknya, penurunan harga telur ayam ras, ikan layang, ikan tuna, ikan cakalang, bawang merah, ayam hidup, daging ayam ras, ikan kembung, dan cabai rawit membantu menahan laju inflasi.
BPS menilai perkembangan harga konsumen di Sulawesi Barat hingga Mei 2026 masih berada pada level yang relatif terkendali.
Meski demikian, dinamika harga sejumlah komoditas pangan dan kebutuhan masyarakat tetap menjadi faktor yang perlu mendapat perhatian karena berpengaruh terhadap daya beli masyarakat dan stabilitas ekonomi daerah./***








