BANNIQ.Id. Polman. Ketua Komisi I DPRD Sulawesi Barat (Sulbar), Syamsul Samad yang juga menjabat sebagai Ketua KONI Sulbar menghadiri kegiatan penamatan siswa-siswi MI, MTs, dan MA Pesantren Nuhiyah Pambusuang Tahun Ajaran 2025/2026 di Kabupaten Polewali Mandar (Polman).
Dalam kesempatan tersebut, Syamsul Samad menyampaikan sambutan penuh motivasi dan refleksi tentang dunia pesantren, pendidikan, serta pentingnya menghormati guru.
Ia mengaku awalnya hanya diundang untuk menghadiri acara, bukan memberikan sambutan. Namun, ia merasa terhormat karena diberi kesempatan berbicara di lingkungan pesantren.
“Tapi bukan undangan sambutan, melainkan undangan untuk menghadiri. Namun setibanya di sini, saya diminta memberikan sambutan. Bagi saya ini suatu kehormatan bisa memberikan sambutan di pesantren, sebagai anak yang bukan berasal dari pesantren,” ujar Syamsul Samad.
Dalam sambutannya, Ketua KONI Sulbar itu juga mengungkapkan dua harapan yang menurutnya akan ia pilih jika waktu bisa diputar kembali. Salah satunya adalah keinginannya untuk merasakan pendidikan di pesantren sejak kecil.
“Kalau waktu bisa diputar kembali, saya ingin sekolah di pesantren. Karena tidak semua anak diberi keberkahan takdir untuk hidup di pesantren,” katanya.
Menurut Syamsul Samad, Pesantren Nuhiyah Pambusuang memiliki peran besar dalam membentuk karakter, kemampuan berpikir, serta pemahaman keagamaan para santri melalui tradisi belajar kitab kuning dan pendidikan karakter yang kuat. Ia juga mengapresiasi banyaknya alumni pesantren yang sukses di berbagai bidang, mulai dari organisasi kemasyarakatan, akademik, hingga pemerintahan.
“Mereka memiliki kemampuan public speaking yang bagus dan argumentasi yang kuat. Itu ciri khas anak-anak pesantren,” tutur Syamsul Samad.
Pada kesempatan itu, Syamsul Samad juga memberikan motivasi kepada para alumni agar terus melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi.
“Sekarang tidak ada alasan lagi untuk tidak kuliah. Pemerintah, swasta, hingga perguruan tinggi di seluruh dunia banyak menyediakan beasiswa,” ucapnya.
Selain itu, ia berpesan kepada para santri untuk senantiasa menghormati guru sebagai sosok yang telah menurunkan ilmu kepada murid-muridnya.
“Ketemu guru di jalan, apapun pangkat kita, cium tangan adalah bentuk penghormatan pertama. Itu jalan mendapatkan keberkahan hidup,” kata Syamsul Samad.
Sebagai bentuk dukungan terhadap dunia pendidikan Pesantren Nuhiyah Pambusuang, Syamsul Samad menyatakan siap membiayai kuliah satu orang alumni Pesantren Nuhiyah Pambusuang yang direkomendasikan pihak sekolah apabila tidak mendapatkan akses beasiswa lain.
“Kalau ada yang tidak lulus beasiswa pemerintah dan tidak mendapatkan beasiswa lain, satu orang alumni akan saya tanggung biaya kuliahnya sampai selesai,” ungkapnya.
Tak hanya itu, ia juga menyampaikan komitmennya untuk memberikan bantuan sebesar Rp10 juta setiap tahun bagi pesantren guna mendukung kebutuhan pendidikan dan operasional.
Di akhir sambutannya, Syamsul Samad kembali meminta maaf karena tidak menyiapkan sambutan secara khusus. Namun, ia mengaku menyampaikan pesan-pesan tersebut sebagai bentuk penghormatan dan kecintaannya terhadap dunia pesantren./***








