Ridwan Alimuddin Kembali Akan jadi Saksi Sejarah Ekspedisi Pelayaran Perahu Padewakang ke Australia

Perahu padewakang,Nur Almarege saat pelayaran perdana menuju Makassar dari Bulukumba,(photo:Ridwan)

BANNIQ.Id.Makassar. Muhammad Ridwan Alimuddin, Penulis Budaya Maritim Mandar yang telah sekian kali ikut dalam kegiatan Ekspedisi Pelayaran terkait misi budaya Maritim, Tahun ini kembali akan menyertai Ekspedisi Pelayaran Perahu tradisional Bugis -makassar,Padewakang ke Australia awal Desember ini.

Pelayaran Perahu Padewakang yang dinamai Nur Al Marege, yang dipesan oleh salah satu yayasan pendidikan di Australia, Abu Hanifah Institut, merupakan refleksi pelayaran perahu Padewakang yang sejak abad ke 18 telah digunakan pelaut Bugis -Makassar berlayar ke Australia, memburu teripang dan Telur ikan sembari menyiarkan agama Islam ke masyarakat Aborigin Australia.

” Untuk misi budaya ke luar negeri ini yang keempat. Pertama 2008 – 2009 saat membantu riset pelayaran Mandar Jepang, 2012 pelayaran pinisi Cinta Laut (membawa dua sandeq) ke Johor, 2012 mendampingi 12 pelayar sandeq di Festival Maritime Brest (melayarkan tiga sandeq), terlibat sebagai tim pembuat padewakang yang dipamerkan di Belgia 2017, dan sekarang pelayaran padewakang ke Australia Desember 2019 – Januari 2020,” Terang Pemilik Rumah Baca,Nusa Pustaka di Pambusuang, Desa Kelahiran Pendekar Hukum Prof.Dr.H.Baharuddin Lopa ini, Sabtu,(30/11/2019).

Lebih jauh Ridwan mengulas tentang Perahu Padewakang, kata dia perahu padewakang sejak paling lambat abad ke-18 merupakan tipe utama dari sekian
banyak jenis perahu dagang jarak jauh Sulawesi Selatan. Padewakang-padewakang milik pedagang Mandar, Makassar dan Bugis melayari seluruh Samudera Indonesia di antara Irian
Jaya dan Semenanjung Malaya, dan sekurang-kurangnya sejak abad ke-19 secara rutin berlayar sampai ke Australia untuk mencari tripang; dalam suatu buku dari abad silam.

Bahkan, Sebut Ridwan terdapat gambaran sebuah perahu padewakang yang dicap ‘perahu bajak laut asal Sulawesi di Teluk Persia’. Tipe perahu ini menggambarkan dengan baik sifat-sifat perahu Nusantara sejak kedatangan kekuatan kolonial: Sebuah lambung yang –menurut standar Eropa– berukuran
sedang yang dilengkapi dengan satu sampai dua geladak, kemudi samping dan layar jenis tanjaq yang dipasang pada sebatang tripod tanpa baerang,” tulis Horst Hibertus Liebner, antropolog maritim kelahiran Jerman yang bermukim di Indonesia tiga dekade terakhir, dalam Perahu- perahu Tradisional Nusantara: Suatu Tinjauan Sejarah Perkapalan dan Pelayaran (2002).


Masyarakat umum nyaris tak tahu Sam ung Ridwan, apa itu perahu padewakang, meski itu ditanyakan ke mereka
yang tinggal di pesisir di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, tempat yang dulunya padewakang dibuat dan dilayarkan. ” Perahu pinisi jauh lebih terkenal, padahal, hasil evolusi padewakang-lah yang melahirkan pinisi; padahal, masa penggunaan padewakang jauh lebih lama dibanding pinisi,” Tandas Ketua AJI Kota Mandar ini.

Padewakang tambah Ridwan, menguasai rute-rute pelayaran niaga jarak jauh selama dua abad, sampai kemunculan pinisi akhir abad ke-19. Daya guna pinisi tak selama padewakang, mulai ditinggalkan di tahun 70-an. Praktis tak sampai satu abad.

“Abad ke-18 pun mungkin masih terlalu muda untuk merentang keberadaan padewakang. Relief perahu berlayar segiempat di Candi Borobudur, yang dibuat lebih satu millienium lampau, nyaris
sama dengan perahu padewakang: sama-sama menggunakan satu atau dua layar jenis “tanjaq” yang ditopang tiang layar berkaki tiga (tripod). Hanya saja tidak ada catatan tertulis tentang nama jenis perahu di Candi Borobudur.,” Timpalnya.

Peran padewakang amat penting, kata Kolumnis yang pernah menempuh pendidikan Tinggi di UGM Jogjakarta ini,tapi tulisan atau riset khusus tentangnya belum ada.

Perahu Padewakang,Nur Almarege saat tiba di teluk Losari Makassar(photo:Ridwan)

Selain perannya dalam evolusi perahu, urai Ridwan, dalam perniagaan pun cukup signifikan. Membuka lembaran peta pelayaran abad ke-19, terlampir di buku Hukum Pelayaran dan Perdagangan Amanna Gappa (Tobing, 1972), di garis-garis rute perdagangan selalu tergambar perahu berlayar tanjaq (segiempat). Mulai dari pelayaran ke Aceh, ke Sulu hingga Pulau Tanimbar. Jelas itu bukan pinisi,
jelas itu padewakang! Partisipasinya yang signifikan dalam sejarah perdagangan rempah di Nusantara, membuat pemerintah memutuskan untuk menjadikan perahu padewakang sebagai
usungan utama di Eropa, ketika Indonesia menjadi “guest of honour” di Europalia 2017.
Indonesia membuat replika perahu padewakang dalam ukuran asli di Bulukumba (Sulawesi Selatan) untuk kemudian dibawa ke Belgia, dipamerkan di sana selama beberapa bulan.

Sumberdaya perikanan yang memiliki sejarah panjang selama ratusan tahun menjadi komoditas penting Nusantara adalah tripang.

Perahu Padewakang Nur Almarege saat pertama kali menyentuh laut,dengan ritual A’nyorong lopi,(photo:Ridwan)

” Tripang yang ditangkap pelaut-pelaut Nusantara dijual ke pedagang-pedagang Cina. Tripang terbaik ternyata ditangkap oleh nelayan Sulawesi di perairan
benua Australia. Australia pertama kali didatangi oleh nenek moyang Suku Aborigin 40.000 –70.000 tahun lalu, saat Australia masih terhubung dengan daratan Papua.

” Ketika permukaan air laut naik, Australia terisolasi beberapa millienium. Hingga, suatu waktu di tahun 1606, armada
pelayaran VOC yang dipimpin Willem Janszoon mendarat di bagian paling utara benua Australia,” Ungkapnya.

Masih kata Ridwan, Mereka tidak lama di sana karena mendapat perlawanan dari penduduk pribumi. Pelayaran dan
pendaratan paling fenomenal adalah yang dipimpin pelaut Inggris, James Cook di tahun 1770, yang ke-250 tahunnya akan dirayakan tahun depan, 2020. Belakangan Inggris membuat koloni (1788) saat membawa tahanan-tahanan dari Eropa untuk dimukimkan di sana. Peristiwa itu
menjadi cikal bakal lembaran hitam orang-orang Aborigin di Benua Australia.
Setidaknya tujuh puluh tahun sebelum James Cook mendarat di Australia yang diikuti pembangunan koloni Inggris, telah lama berlangsung hubungan harmoni antara orang-orang dari Pulau Sulawesi dengan orang Aborigin di Australia. Setiap musim barat, puluhan armada
padewakang berlabuh di pesisir utara Australia. Tinggal berbulan-bulan di sana, mencari tripang di laut dan mengolahnya di darat bersama penduduk setempat. Enam bulan kemudian, saat
musim timur, mereka kembali ke Sulawesi membawa tripang-tripang kering. Kadang ada orang Aborigin ikut serta ke Makassar. Tradisi berlatar pelayaran padewakang berlangsung sampai Hubungan ratusan tahun itu menimbulkan kesan mendalam bagi orang Aborigin.

“Beberapa kebudayaan Makassar terjejak di kebudayaan salah satu Suku Aborigin di Australia Utara. Setidaknya ada 200 suku kata Bahasa Makassar ditemukan di bahasa setempat. Tanpa kita sadari, perahu padewakang memainkan fungsi penting dalam peradaban bahari Nusantara, baik dalam budaya, ekonomi, maupun politik. Dia menjadi saksi mata sejarah panjang benua maritim ini,” Pungkasnya.|asdar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *