Rinai Air Mata Iringi Peluncuran Buku Pejuang dan Aktivis di Jalan Lurus

Hits: 215

Putri Almarhum Ma’mun Hasanuddin Imelda Ma’mun saat menyampaikan Testimoni pada kegiatan Peluncuran Buku Pejuang dan Aktivis di Jalan Lurus di Auditorium kantor Gubernur Sulbar(photo:bnq)

BANNIQ.Id.Sulbar.Sepak terjang dan totalitas Prof.Dr.Ma‘mun Hasanuddin,SH ,MH dalam perjuangan pembentukan Provinsi Sulawesi Barat, dipaparkan dalam runtutan literasi yang  cukup panjang oleh adik Kandungnya Dr. Rahmat Hasanuddin sebagai Penulis   buku Pejuang dan Aktivis di Jalan Lurus. Buku setebal 198 halaman yang  dieditori Abdul Samad itu diluncurkan perdana, Selasa Kemarin, usai Peringatan HUT  Sulbar ke 16 Tahun, di Auditorium Kantor Gubernur Sulbar, dibuka oleh Sekprov Sulbar, Dr.Idris DP dan dihadiri oleh putri Ma’mun Hasanuddin, Imelda,  Eksponen Pejuang pembentukan Provinsi Sulbar, antara lain Prof Basri Hasanuddin, Rahmat Hasanuddin sekaligus Penulis Buku,  Syahrir Hamdani yang juga inisiator penulisan buku Ma’mun Hasanuddin, Mujirin M Yamin,Naharuddin, Muh.Hamsih, Ansar Nur Hasanuddin, Jamil Barambangi, Imran Kaljubi dan Puluhan Pemuda Pejuang Sulbar yang dulu tergabung dalam Laskar Taji Barani serta puluhan pegawai OPD Lingkup Pemprov Sulbar.

Suasana haru mewarnai peluncuran buku tersebut, ketika putri almarhum Ma’mun Hasanuddin didaulat  memberikan pengantar awal tentang kisah hidup
ayahadnya.

Imelda mengurai sosok ayahnya sebagai seorang yang sederhana dan penyayang dan mendidik anak-anaknya dengan kasih sayang. Meskipun kebersamaanya dengan sang ayah sebut Imelda tidak terlalu lama karena dirinya ke Jakarta karena bekerja di sana pada tahun 1999. Meskipun ia berada di rantau dirinya tetap memantau dan mengikuti perkembangan perjuangan sang Ayah yang saat itu berjuang bersama-sama dengan pejuang lain untuk membentuk Provinsi Sulbar, dan kerap ke Jakarta untuk urusan perjuangan Sulbar, Imelda menyebut ayahnya sangat sederhana dan  tidak mau merepotkan orang.
” Beberapa kali beliau ke Jakarta untuk urusan perjuangan, beliau tak pernah mau saya jemput, dia lebih suka naik ojek karena kala.itu belum ada transportasi online, kenapa papi tidak mau saya jemput? Beliau hanya menjawab tidak usah nak cukup nak ojek saja dak usah repot,” Kenang Imelda terhadap sosok ayahnya yang sederhana itu.

Imelda juga mengenang ayahnya sebagai sosok yang sangat cinta kepada anak-anaknya, ia teringat sewaktu ayahnya dalam kondisi sakit, ia memanggilnya untuk pulang.” Pada saat terbaring sakit, ia memanggil saya pulang, nak kamu pulang yah  pulang ke Mandar,” Urai Imelda terisak tak kuasa menahan rasa sedih.

Dengan buku yang ditulis Oleh pamannya Rahmat Hasanuddin, Imelda berterima.kasih kepada seluruh teman-teman seperjuangan ayahnya  juga Pemprov Sulbar yang telah mendukung penulisan buku tentang   perjuangan  ayahnya dalam memperjuangkan Sulbar.

” Saya berterima kasih kepada semua eksponen Pejuang Sulbar teman-teman seperjuangan papi juga terima kasih kepada Pemprov yang telah mendukung penulisan buku ini, ini berarti bahwa papi adalah seorang pejuang dan ini akan saya ceritakan pada anak-anak saya tentang kejuangan Datok hajinya, semoga menjadi ladang pahala untuk ayah saya,” pungkasnya.|asdar

Suasana haru mewarnai peluncuran buku tersebut, ketika putri almarhum Ma’mun Hasanuddin didaulat  memberikan pengantar awal tentang kisah hidup
ayahadnya.

Imelda mengurai sosok ayahnya sebagai seorang yang sederhana dan penyayang dan mendidik anak-anaknya dengan kasih sayang. Meskipun kebersamaanya dengan sang ayah sebut Imelda tidak terlalu lama karena dirinya ke Jakarta karena bekerja di sana pada tahun 1999. Meskipun ia berada di rantau dirinya tetap memantau dan mengikuti perkembangan perjuangan sang Ayah yang saat itu berjuang bersama-sama dengan pejuang lain untuk membentuk Provinsi Sulbar, dan kerap ke Jakarta untuk urusan perjuangan Sulbar, Imelda menyebut ayahnya sangat sederhana dan  tidak mau merepotkan orang.

” Beberapa kali beliau ke Jakarta untuk urusan perjuangan, beliau tak pernah mau saya jemput, dia lebih suka naik ojek karena kala.itu belum ada transportasi online, kenapa papi tidak mau saya jemput? Beliau hanya menjawab tidak usah nak cukup nak ojek saja dak usah repot,” Kenang Imelda terhadap sosok ayahnya yang sederhana itu.

Imelda juga mengenang ayahnya sebagai sosok yang sangat cinta kepada anak-anaknya, ia teringat sewaktu ayahnya dalam kondisi sakit, ia memanggilnya untuk pulang.” Pada saat terbaring sakit, ia memanggil saya pulang, nak kamu pulang yah  pulang ke Mandar,” Urai Imelda terisak tak kuasa menahan rasa sedih.

Dengan buku yang ditulis Oleh pamannya Rahmat Hasanuddin, Imelda berterima.kasih kepada seluruh teman-teman seperjuangan ayahnya  juga Pemprov Sulbar yang telah mendukung penulisan buku tentang   perjuangan  ayahnya dalam memperjuangkan Sulbar.

” Saya berterima kasih kepada semua eksponen Pejuang Sulbar teman-teman seperjuangan papi juga terima kasih kepada Pemprov yang telah mendukung penulisan buku ini, ini berarti bahwa papi adalah seorang pejuang dan ini akan saya ceritakan pada anak-anak saya tentang kejuangan Datok hajinya, semoga menjadi ladang pahala untuk ayah saya,” pungkasnya.|asdar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *