RINDU KAMPUNG HALAMAN

Oleh : Muslimin.M
Rasanya sudah cukup lama saya tidak pulang kampung. Bukan karena jauh, tapi karena selalu saja ada alasan menunda.
Padahal kampung itu bukan hanya tempat lahir, tapi rumah sejati.Tempat suara ayam berkokok lebih nyaring dari deru mesin kota. Tempat jalanan masih berdebu, tapi hangat oleh senyum tetangga.
Beberapa hari lalu, saya singgah di terminal. Menatap deretan bis-bis yang menunggu antrean penumpang. Ada yang penuh penumpang, ada yang kosong. Saya bertanya ke diri sendiri, kapan terakhir saya ikut salah satu dari bis-bis itu ?
Hari ini saya tahu, rindu itu seperti sinyal yang hilang, kalau tidak dicari tidak akan pernah ditemukan. Saya akan pulang. Bukan sekarang, bukan besok, mungkin nanti.
Pulang kampung itu bukan sekadar perjalanan fisik. Tapi perjalanan hati. Dari kota yang sibuk, penuh tekanan menuju kampung yang sederhana tapi penuh kehangatan.
Di kampung, saya tahu akan bertemu dengan kerabat dan saudara yang menunggu dengan senyum tanpa lelah, om tante yang selalu punya cerita tentang kebun dan musim tanam. Anak-anak yang berlarian di halaman, tawa mereka mengisi udara yang segar.
Saya sering menunda pulang dengan alasan pekerjaan.Tapi sebenarnya, saya tahu itu hanya alasan. Karena pulang kampung itu butuh keberanian, berani meninggalkan kenyamanan kota dan kembali
ke kesederhanaan.
Pulang kampung bukan soal waktu dan jarak.Tapi soal rasa. Rasa yang mengikat kita dengan asal yang mengingatkan bahwa dimanapun kita berada, kampung selalu menjadi rumah sejati. Rumah kenangan masa kecil bersama saudara, bapak dan ibu.
Saya sering bertemu orang-orang di pelabuhan menjelang Lebaran.Tas besar. Wajah letih.Tapi matanya berbinar. Seolah capek hilang hanya dengan membayangkan pintu rumah yang sebentar lagi diketuk.
Ada yang pulang kampung setahun sekali. Ada yang tiga tahun sekali. Ada juga yang berjanji akan pulang, tapi selalu gagal. Alasannya macam-macam, pekerjaan, ongkos, atau lebih jujurnya sudah terlalu lama nyaman di kota.
Kampung itu kadang aneh, tidak pernah marah meski sering kita abaikan. Tetap menunggu.Tetap ada. Tetap menjadi titik koordinat tempat kita bisa kembali merasa kecil.
Di kota, kita dipanggil pak, bos, doktor, atau prof.
Di kampung, kita tetap dipanggil dengan nama kecil. Nama yang bahkan kita sendiri sudah lupa.
Saya pernah melihat seorang pejabat tinggi di kota, dia terbiasa disalami bawahan. Disediakan kursi empuk. Disebut yang terhormat.
Begitu pulang kampung, dia disuruh ibunya membeli garam di warung sebelah. Tanpa debat. Tanpa ajudan. Tanpa gengsi.
Dan dia menurut.
Itulah pulang kampung, merobek semua topeng kota. Mengingatkan kita, sehebat apapun diluar sana, di mata kampung kita tetap anak.
Ada pula yang pulang dengan rasa bersalah. Karena terlalu lama pergi. Karena tidak sempat hadir di pemakaman ayahnya atau ibunya. Karena baru sadar bahwa waktu tidak bisa dinegosiasikan.
Pulang kampung baginya menjadi semacam ziarah. Bukan lagi pulang pada rumah yang hangat, tapi pulang pada kenangan yang sudah dingin.
Karenanya, pulang kampung jangan ditunda. Jangan menunggu kaya. Jangan menunggu sukses. Jangan menunggu waktu luang.
Karena kampung bukan soal jarak. Tapi soal hati.
Dan hati, sejauh apapun pergi, selalu tahu arah untuk pulang.
Penulis adalah Akademisi di Kaltim mantan Komisioner KPU Kutai Timur






