Siasat di Tengah Pandemi, Agar Asap Dapur Tetap Mengepul

Hits: 6

Pelaku Industri Rumahan di dusun Batutaku,Desa Onang Kecamatan Tubo Sendana(photo:banniq)

BANNIQ.Id.Sulbar.Merebaknya virus Corona sejak Maret tahun lalu di Indonesia, turut berdampak terhadap semua sendi kehidupan masyarakat, baik dari aspek Sosial maupun ekonomi. Dari aspek ekonomi dampak ini sangat terasa untuk selurh komponen masyarakat, baik masyarakat ekonomi lemah, dan menengah ke atas. Juga untuk kalangan pengusaha dampak tersebut juga turun mnimbulkan dampak yang sangat signifikan karena produktivitas usaha menjadi menurun yang diakibatkan pembatasan pergerakan dan aktivitas perkantoran, dengan kebijakan PPKM, terlebih lagi dengan melonjaknya kembali kasus Covid 19 di Indonesia termasuk di Sulbar yang kini kembali menembus angka Seribu kasus.

Dengan pembatasan pergerakan tersebut, dari sektor jasa angkutan juga menurun untuk antar kota dalam provinsi yang menjadi komsumen bagi para pelaku Industri rumahan di dusun Batu Taku desa Onang kecamata Tubo Sendana, yang berjejer di sepanjang jalan poros trans Sulawesi Sendana-Malunda.

Industri rumahan yang dijual oleh belasan pelaku industri rumahan di kawasan ini adalah kue bolu, yang dalam bahasa daerah setempat(mandar) disebut Bolu Paranggi.Bolu Paranggi terbuat dari tepung terigu, gula aren dan bahan kue seperti potas, dan dimasak di atas tungku tradisional yang bahasa daerah setempat disebut Pallu, dan talongngeq.

Di awal sebelum merebaknya Corona, Keuntungan bersih yang dapat diraih sebesar Rp.500.000/ hari dengan bahan baku terigu 30 liter perhari dan tiga bungkus gula aren lokal.

” Sekarang kami hanya bisa meraih untung 200 sampai 300 perhari bahkan biasa juga hanya seratusan, sebelum korona bisa sampai Rp.400.000.sampai Rp.500.000,” terang mama Mega pelaku industri rumahan Bolu Paranggi di dusun Batu Taku desa Onang Majene kepada banniq.id belum lama ini.

Untuk menyiasati hal tersebut lanjut wanita paruh baya ini, berbagai bahan makanan juga disiapkan seperti Jepa(kuliner tradisional mandar) mie rebus dan lain-lain ynag biasa diminta penumpang ynag mampir di tempat tersebut.

” Untuk menyiasati kondisi ini, kami menyiapkan bahan makanan lain seperti Jepa dan mie rebus yang biasa diminta penumpang yang mampir, meskipun kami sebenarnya hanya membuat Bolu Paranggi pada awalnya, tapi untuk menambah pemasukan kami juga menyiapkan makanan instan tersebut,” imbuhnya.

Hal itu dilakukan guna menopang berbagai kebutuhan keluarga termasuk untuk mendukung biaya sekolah anak-anaknya.

” Kreativitas ini kami lakukan untuk menopang berbagai kebutuhan keluarga setiap hari,termasuk untuk biaya sekolah anak-anak,” terang ibu tiga anak ini

Ia menambahkan, penghasilannya akan kembali stabil nanti jika Pandemi Covid 19 sudah berakhir, dan kehidupan ekonomi kembali normal seperti dulu dan pergerakan orang kembali selancar sebelumnya.

” Harapan kami Pandemi ini segera berakhir, agar perputaran ekonomi kembali lancar seperti sebelum Corona,” simpulnya.|asd

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *