BANNIQ.Id. Majene. Di sebuah sudut tenang di Majene, aroma kopi berpadu dengan semilir angin yang berembus dari teluk mandar, menghadirkan suasana yang akrab sekaligus reflektif.
Minggu sore 3 Mei 2026 , di sebuah kafe sederhana, sekelompok anak bangsa yang selama ini setia menjaga dan merawat tradisi baik secara tekstual maupun dalam bersikap dan berprilalu berkumpul bersama.
Mereka bukan sekadar untuk berbincang, melainkan untuk merawat ingatan, menenun kembali makna, dan menghidupkan warisan leluhur yang nyaris tergerus zaman.
Tema yang diangkat, “Tomanurung: Merawat Martabat Leluhur”, bukan sekadar judul diskusi. Ia menjelma menjadi pintu masuk bagi kegelisahan sekaligus harapan: bagaimana generasi hari ini memahami akar budayanya sendiri.
Kehadiran Ketua Umum Bimantara Balanipa Mandar, Andi Muhammad Ardam A, menjadi penegas bahwa ruang-ruang kecil seperti ini menyimpan energi besar.
Dalam suasana santai, tanpa sekat formalitas, ia melihat sesuatu yang kerap luput dari kesadaran kolektif yang tumbuh perlahan namun pasti.
“Tomanurung bukan sekadar cerita lama,Ia adalah cermin kebijaksanaan, simbol kepemimpinan, dan penanda jati diri Jika kita berhenti merawatnya, itu berarti kita sedang perlahan melupakan diri sendiri.” urai A.Muh.Ardam.
Diskusi pun mengalir bak sungai Mandar yang menyimpan banyak cerita. Para narasumber menghadirkan beragam sudut pandan, mulai dari cakrawala mitologis hingga tafsir religius, dari rekonstruksi sejarah hingga refleksi sosial.
Semua berpadu, memperlihatkan bahwa Tomanurung bukan hanya milik masa lalu, tetapi juga bagian dari percakapan masa kini.
Tak ada jarak antara pembicara dan pendengar. Semua larut dalam suasana kekeluargaan. Tawa sesekali pecah, namun segera kembali hening saat gagasan-gagasan mendalam dilontarkan.
Di sanalah terasa bahwa budaya bukan sesuatu yang kaku, melainkan hidup, bernapas dalam dialog, tumbuh dalam kebersamaan.
Penggagas kegiatan, Muh. Darno Kasim, menyebut antusiasme keluarga besar (Biya) sebagai tanda bahwa kerinduan akan akar budaya masih kuat.
Ia percaya, percakapan seperti ini perlu menjelajah lebih jauh, menembus batas-batas wilayah di Sulawesi Barat.
Sore itu mungkin akan berlalu seperti hari-hari biasa. Namun yang tertinggal bukan sekadar diskusi, melainkan jejak kesadaran bahwa di tengah arus modernitas, ada nilai-nilai yang tak boleh hanyut.
Di Majene, di antara cangkir kopi dan percakapan hangat, Tomanurung tidak lagi sekadar legenda. Ia hadir, duduk bersama, dan kembali mengajarkan arti menjadi manusia yang berakar./***








