BANNIQ.Id. Mamuju. Badan Pusat Statistik (BPS) Perwakilan Sulawesi Barat melaporkan inflasi tahunan (year on year/y-on-y) Provinsi Sulawesi Barat pada April 2026 sebesar 1,66 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) 110,89. Data tersebut disampaikan Kepala BPS Sulbar, Suri Handayani, dalam rilis resmi, Senin (4/5/2026).
Secara spasial, inflasi tertinggi terjadi di Mamuju sebesar 2,19 persen (IHK 111,38), sementara terendah di Kabupaten Majene sebesar 1,31 persen (IHK 110,57). Secara bulanan (month to month/m-to-m), inflasi tercatat 0,24 persen, sedangkan inflasi tahun kalender (year to date/y-to-d) mencapai 1,33 persen.
Secara struktur, inflasi y-on-y dipicu kenaikan harga di hampir seluruh kelompok pengeluaran. Kenaikan tertinggi tercatat pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 6,19 persen, diikuti kelompok kesehatan 2,59 persen, serta makanan, minuman, dan tembakau sebesar 2,00 persen. Satu-satunya kelompok yang mengalami deflasi adalah rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 0,71 persen.
Dari sisi andil inflasi, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar sebesar 0,79 persen. Komoditas utama pemicu inflasi antara lain beras (0,41 persen), ikan bandeng (0,13 persen), serta rokok jenis Sigaret Kretek Mesin (0,11 persen). Sementara komoditas yang menahan laju inflasi (deflasi) di antaranya tomat, cabai merah, dan ikan katamba.
Kelompok transportasi juga memberikan kontribusi signifikan sebesar 0,19 persen, diikuti perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,31 persen, serta penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 0,11 persen.
Secara bulanan, inflasi April terutama didorong kenaikan harga komoditas pangan seperti tomat, bawang merah, dan beras. Namun, tekanan inflasi tertahan oleh penurunan harga beberapa komoditas perikanan dan bahan pangan lain seperti ikan layang dan telur ayam ras.
BPS menilai perkembangan harga di Sulawesi Barat masih relatif terkendali, meski terdapat tekanan pada kelompok kebutuhan dasar. Stabilitas pasokan pangan dan pengendalian harga komoditas strategis dinilai menjadi faktor kunci dalam menjaga inflasi tetap moderat ke depan./***








