BANNIQ.Id.Majene. Perkembangan Artificial Intelligence (AI) perlahan mengubah cara mahasiswa belajar, mencari informasi, hingga menyusun karya ilmiah. Di tengah perubahan tersebut, kemampuan memanfaatkan AI secara tepat dinilai menjadi bagian penting dari kesiapan mahasiswa menghadapi tuntutan akademik di era digital.
Pesan itu mengemuka dalam workshop bertema “Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam Penyusunan Artikel Ilmiah” yang digelar Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pers Unsulbar News dalam rangka memperingati satu dekade Unsulbar News, Selasa (1/9/2026), di Aula Laboratorium Terpadu Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar).
Kegiatan yang dibuka gratis bagi mahasiswa tersebut menghadirkan Dr. Nurlaela, S.P., M.Si., Wakil Dekan II Fakultas Pertanian dan Kehutanan Unsulbar, sebagai pemateri.
Workshop ini tidak sekadar memperkenalkan AI sebagai teknologi yang dapat membantu mempercepat pekerjaan. Lebih jauh, kegiatan tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa untuk memahami bagaimana teknologi digunakan secara cerdas dalam proses akademik, terutama ketika berhadapan dengan penulisan artikel ilmiah.
Di tengah tuntutan mahasiswa untuk semakin produktif menghasilkan paper, karya tulis ilmiah hingga publikasi, penguasaan AI menjadi salah satu kompetensi yang semakin relevan.
Teknologi ini dapat membantu mahasiswa mengeksplorasi gagasan, menyusun kerangka tulisan, mencari alternatif pendekatan, hingga meningkatkan efisiensi dalam proses penulisan.
Namun, kemampuan menggunakan AI tidak boleh berhenti pada kecakapan memberikan perintah kepada mesin. Mahasiswa tetap dituntut memiliki kemampuan berpikir kritis, memeriksa kebenaran informasi, memahami sumber rujukan, serta memastikan bahwa gagasan dan substansi karya ilmiah tetap dapat dipertanggungjawabkan.
Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan, Kerja Sama, dan Sistem Informasi Unsulbar, Dr. Nur Fitriayu Mandasari, S.E., M.M., mengapresiasi inisiatif UKM Pers Unsulbar News tersebut.
Menurutnya, kegiatan yang lahir dari gagasan mahasiswa menunjukkan adanya perkembangan cara berpikir yang semakin matang dalam membaca kebutuhan lingkungan kampus.
“Saya bangga sekali dengan pemikiran-pemikiran dari anak-anak UKM Unsulbar News, baik dari panitia maupun pengurus, dan tentu saja didukung oleh pembina, baik pembina utama maupun pembina harian, untuk melakukan kegiatan-kegiatan outside the box,” ujarnya dikutip dari Unsulbarnews.com,Selasa(1/9/26)
Ia menilai, ketika kegiatan semacam ini diinisiasi mahasiswa, hal tersebut menunjukkan adanya lompatan pemikiran mengenai pengetahuan dan keterampilan yang penting untuk dimiliki sesama mahasiswa.
“Mungkin kalau dosen yang melakukan itu sudah menjadi hal biasa, tapi kalau UKM atau mahasiswa yang mengadakannya, itu menandakan lompatan berpikir yang jauh lebih dewasa tentang hal-hal yang perlu dan penting untuk diketahui atau didapatkan oleh teman-temannya. Ini sesuatu yang sangat saya apresiasi,” lanjutnya.
Menurut Dr. Nur Fitriayu, penguatan kemampuan mahasiswa dalam penulisan ilmiah menjadi penting karena aktivitas akademik tersebut tidak hanya berkaitan dengan tugas perkuliahan, tetapi juga berkontribusi terhadap budaya publikasi di perguruan tinggi.
“Saya berharap banyak hal yang bisa mereka eksplorasi terkait penulisan artikel ilmiah, karena sehari-hari tugas dari dosen seperti membuat paper, lomba karya tulis ilmiah, ataupun publikasi, itu terhitung menjadi indikator kinerja perguruan tinggi dalam publikasi ilmiah oleh mahasiswa,” jelasnya.
Karena itu, ia mendorong mahasiswa agar mulai terbiasa dengan dunia penulisan dan publikasi ilmiah.
“Pemanfaatan artikel ilmiah adalah sesuatu yang harus kita familier, terutama mahasiswa,” katanya.
Di sisi lain, Dr. Nur Fitriayu mengingatkan bahwa penguasaan AI harus berjalan beriringan dengan pemahaman mengenai etika akademik.
Menurutnya, AI semestinya ditempatkan sebagai alat bantu untuk memperkuat kemampuan mahasiswa, bukan sebagai pengganti proses berpikir, kreativitas, maupun tanggung jawab penulis terhadap karya yang dihasilkan.
“Pesan saya, kita bisa memanfaatkan artikel ilmiah semaksimal mungkin, tetapi harus dalam koridor etika akademik dan tanggung jawab secara akademik dalam penggunaannya,” tegasnya.
Ia berharap mahasiswa yang mengikuti workshop tidak hanya menjadi lebih lincah menggunakan berbagai perangkat AI, tetapi juga memahami batas-batas penggunaannya dalam lingkungan akademik.
“Harapan saya, luaran dari kegiatan ini memahami hal tersebut tidak hanya lincah menggunakan AI, tetapi juga memahami bahwa ada batasan-batasan tanggung jawab akademik dalam penggunaan AI,” tutupnya.
Pesan tersebut menjadi penting di tengah semakin luasnya penggunaan AI di lingkungan pendidikan tinggi.
Mahasiswa perlu menguasai teknologi agar tidak tertinggal oleh perubahan zaman, tetapi pada saat yang sama tetap menjaga keaslian gagasan, ketelitian ilmiah, kredibilitas sumber, serta integritas akademik.
Dengan demikian, kecakapan menggunakan AI bukan sekadar kemampuan mengoperasikan teknologi, melainkan kemampuan menempatkan teknologi sebagai mitra kerja intelektual untuk membantu mempercepat proses, sementara keputusan, analisis, verifikasi, dan tanggung jawab ilmiah tetap berada pada mahasiswa sebagai penulis./***











