ADVERTORIAL

Unsulbar Perkuat Ketahanan Kelompok Tani Bahagia Bersama Hadapi Kemarau dan Ketidakpastian Pasar

BANNIQ.Id.Polman. Menghadapi tantangan kemarau, ketidakpastian musim, dan dinamika pasar hasil pertanian, Tim Pengabdian kepada Masyarakat Fakultas Ekonomi Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar) melaksanakan program pemberdayaan bagi Kelompok Tani Bahagia Bersama di Desa Patampanua, Kecamatan Matakali, Kabupaten Polewali Mandar, pada 18 Agustus 2026.

Kegiatan yang berlangsung di rumah Ketua Kelompok Tani Bahagia Bersama tersebut diikuti 25 peserta yang terdiri atas anggota kelompok tani, ibu rumah tangga, serta pendamping penyuluh pertanian.

Bimtek Perhutanan, Agus Ambo Djiwa Dorong Kemandirian Usaha Kelompok

Program yang mengusung tema “Mewujudkan Kelompok Tani Resilien: Penguatan Produksi, Literasi Keuangan, dan Akses Pasar Berkelanjutan pada Kelompok Tani Bahagia Bersama” ini diketuai oleh Mujirin M. Yamin, dengan anggota tim Wahyu Maulid Adha dan Indra Basir. Kegiatan juga melibatkan mahasiswa dari Program Studi Manajemen dan Akuntansi Fakultas Ekonomi Unsulbar.

Program tersebut difokuskan pada tiga aspek utama, yakni penguatan produksi, peningkatan literasi keuangan, dan perluasan akses pasar berkelanjutan. Ketiganya dipandang penting untuk memperkuat kemampuan kelompok tani agar mampu bertahan, beradaptasi, dan berkembang di tengah berbagai tekanan usaha tani.

Ekspor Sulbar tembus US$541,19 Juta,Tumbuh 16.74 Persen Hingga September 2023

Tantangan yang dihadapi petani saat ini tidak lagi sebatas persoalan produksi dan harga jual. Kemarau, ketidakpastian pola hujan, perubahan kondisi lingkungan, keterbatasan ketersediaan air, fluktuasi harga, keterbatasan modal, serta perubahan pasar turut memberikan tekanan terhadap keberlangsungan usaha tani dan pendapatan rumah tangga petani.

Dalam kondisi tersebut, konsep kelompok tani yang resilien menjadi semakin penting. Ketahanan kelompok tani tidak hanya ditentukan oleh kemampuan mempertahankan kegiatan produksi, tetapi juga oleh kemampuan beradaptasi terhadap perubahan, mengelola risiko, menggunakan input secara efisien, mengatur keuangan, dan mencari peluang pasar yang lebih menguntungkan.

Bupati Majene Turun Langsung Salurkan Bantuan, Pemerintah Hadir Dampingi Korban Bencana Puting Beliung di Malunda

Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat, Mujirin M. Yamin, mengatakan penguatan kelompok tani perlu dilakukan secara menyeluruh karena tantangan yang dihadapi petani semakin kompleks.

“Petani tidak hanya menghadapi persoalan harga dan pasar, tetapi juga kemarau, ketidakpastian musim, serta risiko produksi. Karena itu, kelompok tani perlu diperkuat agar lebih adaptif, produktif, mandiri, dan mampu menjaga keberlanjutan usahanya,” ujar Mujirin.

Menurutnya, peningkatan kemampuan produksi perlu berjalan seiring dengan penguatan manajemen usaha dan pemasaran. Dengan pendekatan tersebut, petani tidak hanya dituntut mampu menghasilkan produk pertanian, tetapi juga memiliki kemampuan mengelola biaya, pendapatan, dan keputusan usaha secara lebih baik.

Pada aspek produksi, peserta memperoleh penguatan pemahaman mengenai penggunaan input secara lebih efisien, penerapan praktik budidaya yang lebih terarah, serta penanganan hasil dan pascapanen. Penguatan tersebut diharapkan membantu petani menjaga produktivitas dan mutu hasil sekaligus meningkatkan kemampuan beradaptasi terhadap risiko produksi.

Sementara itu, pada aspek manajemen usaha, tim pengabdian memberikan edukasi mengenai pentingnya pencatatan biaya produksi, hasil penjualan, pemasukan, dan keuntungan usaha tani secara sederhana. Peserta juga didorong untuk mulai memisahkan keuangan usaha tani dari keuangan rumah tangga sehingga kondisi keuangan usaha dapat diketahui secara lebih jelas.

Literasi keuangan dinilai penting, terutama ketika petani menghadapi kondisi produksi yang tidak menentu dan perubahan harga. Melalui pencatatan yang tertib, petani dapat mengetahui besarnya biaya usaha, menghitung hasil yang diperoleh, merencanakan kebutuhan modal, serta mengatur penggunaan pendapatan secara lebih terukur.

Sebagai alat bantu, tim pengabdian memperkenalkan buku kas tani sederhana yang dapat digunakan untuk mencatat biaya produksi, pengeluaran usaha, hasil penjualan, pemasukan, hingga saldo usaha. Penggunaan buku kas tersebut diharapkan dapat membangun kebiasaan pengelolaan keuangan yang lebih tertib sekaligus membantu petani memisahkan keuangan usaha dengan kebutuhan rumah tangga.

Keterlibatan ibu rumah tangga dalam kegiatan tersebut juga menjadi bagian penting dari proses pemberdayaan. Pendapatan dari usaha pertanian memiliki hubungan langsung dengan kondisi ekonomi keluarga, sehingga kemampuan mengelola keuangan rumah tangga turut menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan usaha tani.

Pada aspek pemasaran, peserta memperoleh pemahaman mengenai pentingnya menjaga mutu hasil, memperoleh informasi harga, membangun pemasaran secara bersama, serta memanfaatkan media komunikasi sederhana untuk memperluas jaringan pasar.

Selama ini, pemasaran hasil pertanian masih cenderung dilakukan secara individual dan tradisional. Sementara itu, akses terhadap informasi harga dan jaringan pembeli belum sepenuhnya optimal. Kondisi tersebut dapat memengaruhi posisi tawar petani dan membatasi peluang memperoleh nilai tambah dari hasil usaha tani.

Untuk mendukung akses pasar, program ini juga mendorong pemanfaatan media komunikasi kelompok berbasis WhatsApp sebagai sarana berbagi informasi mengenai harga, kebutuhan pasar, jadwal penjualan, dan peluang pemasaran antaranggota kelompok.

Kehadiran pendamping penyuluh pertanian turut memperkuat proses pembelajaran selama kegiatan. Pendamping berperan menghubungkan materi yang diberikan tim pengabdian dengan persoalan teknis yang dihadapi petani di lapangan, termasuk terkait produksi, penggunaan input, serta penyesuaian usaha tani terhadap kondisi musim.

Program pengabdian ini dirancang tidak berhenti pada satu kali kegiatan. Pelaksanaannya mencakup sosialisasi, pelatihan, penerapan teknologi dan inovasi sederhana, pendampingan, evaluasi, serta penguatan keberlanjutan program.

Melalui program tersebut, Fakultas Ekonomi Universitas Sulawesi Barat berharap Kelompok Tani Bahagia Bersama semakin tangguh menghadapi perubahan iklim, ketidakpastian pasar, dan berbagai risiko usaha tani. Selain meningkatkan produktivitas, kelompok tani diharapkan mampu menata keuangan usaha dengan lebih baik serta memperluas akses pasar secara berkelanjutan./****

× Advertisement
× Advertisement