Ahmad M Sewang: Keseimbangan Antara Kebahagiaan Dunia dan Akhirat

Hits: 5

KHAZANAH SEJARAH:
KESEIMBANGAN ANTARA KEBAHAGIAN DUNIA DAN AKHIRAT (1)
by Ahmad M. Sewang

BANNIQ.Id.Opini.Salah satu doa yang diajarkan al-Quran adalah memelihara keseimbangan antara kebahagiaan dunia dan kebahagiaan akhirat. Dalam QS al-Baqarah: 201 berbunyi,
Surah Al-Baqara, Verse 201:
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”.

Kedua kebahagiaan harus dicapai secara seimbang tidak boleh yang satu diutamakan dan yang lainnya diabaikan. Kebahagiaan di dunia bisa dicapai dengan mengejar kehidupan dunia berupa mengumpulkan harta benda, sekalipun harta benda bukan satu-satunya yang membuat orang bahagia, namun salah satu unsur utama yang bisa mengantar pada kebahagiaan adalah harta. Dalam ajaran Islam harta adalah sarana pemenuhan kebahagian dunia dan akhirat.

Bagaimana caranya memenuhi kebahagiaan akhirat tanpa harta benda dunia? Bagaimana cara melaksanakan sebagian rukun Islam tanpa harta benda?
Bagamana cara mengeluarkan zakat tanpa harta? Bagaimana cara membangun masjid tanpa harta? Bagaimana cara melaksanakan rukun Islam kelima, naik haji ke baitullah, tanpa harta? Demikian seterusnya, pertanyaan ini bisa diperpanjang. Dalam hubungan ini, seorang ulama berpendapat bahwa bekerja adalah bahagian dari ibadah dan hadis memerintahkan memberi lebih afdal daripada menerima. Yang dilarang jika dilakukan secara berlebihan dengan menggunakan segala cara untuk menumpuk harta benda. Perilaku itu disebut cara
Machiavelli yang bertentangan dengan nilai keagamaan sebab harta sudah dijadikan tujuan hidup.

Orang yang menjadikan harta sebagai tujuan persis sama dengan bunyi syair Arab yang diajarkan sejak puluhan tahun ketika penulis masih di pesantren,
إن الدراهم فى الأ ماكن كلها
تكسب الناس محبة وجمالا
إنها لسان لمن أراد فصيحة
وإنها سلاح لمن أراد قتالا
Sesungguhnya uang itu memungkinkan segala sesuatu.
Uang membuat manusia cantik dan dicintai,
Uang merupakan lidah bagi orang yang menginginkan kepasihan,
Uang merupakan senjata bagi orang yang ingin membunuh.

Setiap membaca syair ini, saya selalu teringat seorang perempuan yang dikenal sebagai ratu sogok, sampai petugas penjara pun disogoknya. Perempuan itu bernama Artalyta Suryani alias Ayin. Karena memiliki banyak uang, penjara pun ia bisa sulap jadi hotel yang lengkap dengan AC, malah ia membuat salon dalam penjara. Jadi dengan kemampuan uangnya dia leluasa berbuat apa saja yang diinginkan di penjara.

Ketika mendapat tugas sebagai Pjs. Ketua STAIN Sultan Qaimuddin, Kendari. Mantan ketuanya dipenjarakan hanya karena kesalahan membayar kotraktor sebelum bangunannya selesai 100% dengan kerugian negara empat juta rupiah. Akibatnya, dia dipenjarakan. Setelah saya datang membesuknya di penjara dan menanyakan perihal, kenapa dia dipenjara? Dia menjawab dengan lugas. Saya masuk penjara karena tidak ingin menyogok. “Di sini semuanya harus disogok,” katanya, mulai dari oknum polisi, jaksa sampai sipir, mereka semua haus uang sogokan. Daripada menyogok lebih baik di penjara. Di sini, ia membuat syair Arab bernuansa bahasa Melayu,
إن كان لك الفلوس فلك الملوس

  • إن لم يكن الفلوس فلك المنفوس
    Jika engkau punya fulus atau uang, semua akan mulus, tetapi jika tak punya fulus akan manpus.
    Inilah yang dinamakan cara Machiavelli dengan menggunakan segala cara dalam menmbelenjakan uang. Jadilah uang sebagai berhala baru. Dasar negara, Ketuhanan Yang Maha Esa, diplesetkan menjadi keuangan yang maha kuasa. Naizu billahi min zalik.
  • (Makassar, 18 Ramadan 1442 H/29 April 2021 M)(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *