BANNIQ.Id, Mamuju. Di tengah dinamika ekonomi global yang masih dibayangi ketidakpastian rantai pasok, tekanan geopolitik, dan perlambatan perdagangan internasional, kawasan Sulawesi justru menunjukkan akselerasi ekonomi yang impresif.
Bank Indonesia Perwakilan Sulawesi Barat sesuao data rilis BPS mencatat pertumbuhan ekonomi kawasan Sulawesi mencapai 6,9 persen dan menjadi yang tertinggi kedua secara nasional pada triwulan I 2026.
Capaian tersebut diapresiasi Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Barat, Eka Budi Putra Nugraha, dalam kegiatan Sinergi dan Kolaborasi dengan Media (Sipakada) yang digelar di Warkop Ruang Rindu, Jumat (8/5/2026).
Menurut Eka, pertumbuhan ekonomi Sulawesi ditopang oleh penguatan konsumsi domestik, baik konsumsi rumah tangga maupun belanja pemerintah, yang tetap menjadi jangkar utama permintaan agregat di tengah fluktuasi ekonomi eksternal. Selain itu, sektor produksi pertanian kawasan juga memberi kontribusi signifikan terhadap ekspansi ekonomi regional.
“Secara kawasan, Sulawesi tumbuh cukup kuat di level 6,9 persen. Ini menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi domestik masih terjaga dan mampu menopang momentum pertumbuhan,” ujar Eka.
Sementara itu, ekonomi Sulawesi Barat pada triwulan I 2026 turut mencatatkan pertumbuhan positif sebesar 5,33 persen. Meski mengalami moderasi dibanding triwulan IV 2025, angka tersebut dinilai tetap mencerminkan ketahanan ekonomi daerah yang relatif stabil.
Perlambatan terbatas itu, lanjut Eka, dipengaruhi beberapa faktor sektoral, terutama penurunan produksi perikanan akibat kondisi cuaca yang kurang bersahabat. Selain itu, subsektor perkebunan juga mengalami penyesuaian karena adanya kebijakan replanting atau peremajaan kelapa sawit yang sementara menahan produktivitas.
“Beberapa komoditas memang mengalami tekanan produksi, khususnya sektor perikanan karena faktor cuaca dan perkebunan sawit akibat proses renflanting. Tetapi secara umum, struktur ekonomi Sulbar masih mampu tumbuh positif,” jelasnya.
Dari sisi stabilitas harga, inflasi Sulawesi Barat tetap terkendali pada kisaran 1,6 persen. Angka tersebut menunjukkan efektivitas pengendalian inflasi daerah sekaligus terjaganya keseimbangan pasokan dan permintaan masyarakat.
Bank Indonesia juga masih mempertahankan suku bunga acuan pada level 4,7 persen sebagai langkah menjaga stabilitas makroekonomi dan mendukung kesinambungan pertumbuhan nasional.
Eka menilai, sinergi antara pemerintah daerah, otoritas moneter, pelaku usaha, dan media menjadi faktor penting dalam menjaga optimisme ekonomi daerah.
Di tengah tantangan global, Sulawesi Barat dinilai masih memiliki ruang pertumbuhan yang cukup besar melalui penguatan sektor produktif, hilirisasi komoditas, dan peningkatan daya beli masyarakat._***








