BANNIQ.Id. Majene. Sebanyak 15 kader kesehatan Posbindu Kelurahan Labuang, Kabupaten Majene, mendapat pelatihan deteksi dini risiko neuropati dan perawatan kaki pasien diabetes yang digelar Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Sulawesi Barat (FIKes Unsulbar), 4 Agustus 2026.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program pengabdian kepada masyarakat berbasis hilirisasi hasil riset dengan mengusung tema “Pemberdayaan Kader Kesehatan Berbasis Modul PEKA KAKI DIABETES dan Buerger Allen Exercise”.
Program yang didanai Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Unsulbar melalui Skema Pengabdian Hilirisasi itu menjadi upaya FIKes Unsulbar menerjemahkan hasil penelitian dosen menjadi keterampilan praktis yang dapat diterapkan langsung oleh kader di tengah masyarakat.
Pelatihan ini dinilai penting setelah pendataan awal menunjukkan masih adanya kesenjangan keterampilan para kader. Dari 15 kader yang terlibat, seluruhnya belum pernah mengikuti pelatihan khusus perawatan kaki pasien diabetes, penggunaan alat monofilament, maupun pengajaran latihan kaki.
Bahkan, enam kader atau sekitar 40 persen mengaku pernah menemukan luka pada kaki pasien diabetes yang mereka dampingi.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena penderita diabetes memiliki risiko mengalami neuropati perifer yang dapat menurunkan kemampuan merasakan nyeri, tekanan, dan suhu pada kaki. Luka kecil yang tidak disadari dapat berkembang menjadi luka serius apabila tidak segera diketahui dan ditangani.
Ketua Tim Pengabdian FIKes Unsulbar, Kurnia Harli, BSN., MSN, mengatakan pendataan awal menunjukkan para kader sebenarnya telah memiliki pemahaman yang cukup mengenai diabetes dan risiko komplikasinya. Namun, pemahaman tersebut belum sepenuhnya diikuti keterampilan praktis.
“Pola ini menunjukkan kader sebetulnya sudah cukup paham secara konsep, tapi belum punya keterampilan praktis. Karena itu pelatihan kami rancang lebih banyak praktik langsung, bukan sekadar ceramah,” jelas Kurnia.
Dalam pelatihan, kader diperkenalkan dengan tiga komponen utama. Pertama, Modul PEKA KAKI DIABETES sebagai panduan perawatan kaki mandiri yang telah memperoleh pencatatan Hak Kekayaan Intelektual.
Kedua, Buerger Allen Exercise (BAE), yakni latihan sederhana yang dapat dilakukan pasien secara mandiri untuk membantu meningkatkan sirkulasi pada tungkai.
Ketiga, penggunaan monofilament 10 gram untuk melakukan skrining sensasi pada sejumlah titik telapak kaki sebagai bagian dari deteksi awal risiko neuropati.
Pelatihan tidak hanya berfokus pada penggunaan alat dan teknik pemeriksaan. Para kader juga dibekali teknik komunikasi terapeutik serta edukasi kepada pasien yang difasilitasi Irfan, S.Kep.Ns., M.Kep.
Pengetahuan kader diukur sebelum dan sesudah pelatihan sebagai bagian dari evaluasi program. Sementara hasil lengkap pengukuran tersebut masih dalam proses verifikasi.
Kepala Pustu Kelurahan Labuang, Bidan Fitri, menyambut positif kegiatan tersebut. Menurutnya, keterampilan yang diperoleh kader akan membantu tenaga kesehatan melakukan pemantauan pasien diabetes secara lebih dini.
“Selama ini pasien diabetes di sini belum pernah diperiksa kakinya secara rutin. Dengan kader yang sudah dilatih, kami di Pustu jadi lebih terbantu memantau pasien sejak dini,” ujarnya.
Salah seorang kader Posbindu Kelurahan Labuang, Reski Tenriani, juga mengaku memperoleh pengetahuan baru mengenai pentingnya pemeriksaan kaki pada pasien diabetes.
“Awalnya saya tidak tahu kalau kaki pasien diabetes bisa berbahaya kalau tidak diperiksa. Sekarang saya jadi lebih paham dan bisa bantu tetangga sendiri,” katanya.
Program pengabdian tersebut berlangsung sejak April hingga November 2026. Tim pelaksana terdiri atas Kurnia Harli, BSN., MSN sebagai ketua, Irfan, S.Kep.Ns., M.Kep sebagai anggota, serta lima mahasiswa Program Studi Keperawatan Unsulbar.
Melalui program ini, FIKes Unsulbar menargetkan pemeriksaan kaki pasien diabetes dapat menjadi bagian dari kebiasaan pelayanan Posbindu. Selain itu, kader diharapkan semakin mampu berperan dalam mendeteksi risiko neuropati sekaligus mencegah komplikasi kaki diabetik sejak dini./***











