ADVERTORIAL

“Green Accounting dan Ekonomi Sirkular Diperkenalkan, Unsulbar Dorong Pariwisata Berkelanjutan di Desa Kunyi

BANNIQ.Id.Polman. Upaya mendorong pengelolaan pariwisata yang tidak hanya tumbuh secara ekonomi, tetapi juga tetap berpijak pada kelestarian lingkungan terus dilakukan Fakultas Ekonomi Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar).

Bimtek Perhutanan, Agus Ambo Djiwa Dorong Kemandirian Usaha Kelompok

Melalui program Pengabdian Kemitraan Fakultas Ekonomi, tim pengabdian Unsulbar memberikan edukasi mengenai penerapan green accounting dan ekonomi sirkular bagi pengelola wisata, masyarakat, serta kelompok pemuda di Desa Kunyi, Kecamatan Anreapi, Kabupaten Polewali Mandar, Sabtu, 29 Agustus 2026.

Kegiatan yang berlangsung di kawasan wisata Desa Kunyi itu diikuti 25 peserta. Program tersebut mengangkat tema “Edukasi Penerapan Green Accounting dan Ekonomi Sirkular untuk Pengelolaan Pariwisata Berkelanjutan pada Obyek Wisata Alla-Alla Kabupaten Polewali Mandar.”

Ekspor Sulbar tembus US$541,19 Juta,Tumbuh 16.74 Persen Hingga September 2023

Tim pengabdian diketuai Indra Basir, dengan anggota Muhammad Ihsan Ansari dan Nur Fitriani, serta melibatkan mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Sulawesi Barat.

Kegiatan ini dirancang untuk memperkuat kapasitas masyarakat dan pengelola wisata dalam membangun tata kelola destinasi yang lebih baik. Orientasinya tidak semata mengejar peningkatan jumlah kunjungan, tetapi juga memastikan pengelolaan keuangan berjalan transparan, lingkungan tetap terjaga, dan geliat pariwisata memberikan manfaat ekonomi yang semakin luas bagi masyarakat lokal.

Bupati Majene Turun Langsung Salurkan Bantuan, Pemerintah Hadir Dampingi Korban Bencana Puting Beliung di Malunda

Salah satu materi utama yang diperkenalkan kepada peserta adalah konsep green accounting atau akuntansi hijau. Pendekatan ini mendorong pengelola wisata untuk melihat pengelolaan keuangan secara lebih utuh, dengan tidak hanya mencatat pendapatan dan pengeluaran operasional, tetapi juga memperhitungkan biaya yang berkaitan dengan lingkungan.

Biaya kebersihan kawasan, pengelolaan sampah, pemeliharaan fasilitas, hingga kegiatan konservasi lingkungan mulai diperkenalkan sebagai bagian yang penting dalam pencatatan dan perencanaan keuangan pengelolaan wisata.

Berdasarkan pemetaan awal tim pengabdian, aspek administrasi dan pencatatan keuangan masih menjadi salah satu bagian yang perlu diperkuat. Pendapatan dan pengeluaran pengelolaan wisata belum sepenuhnya tercatat secara sistematis. Di sisi lain, berbagai pengeluaran untuk kebersihan, pengelolaan sampah, dan pemeliharaan lingkungan juga belum terintegrasi secara optimal dalam pencatatan keuangan.

Karena itu, tim tidak hanya memberikan pemahaman secara konseptual, tetapi juga memperkenalkan model pencatatan keuangan sederhana yang dapat diterapkan dalam aktivitas pengelolaan wisata sehari-hari.

Salah satu inovasi yang diperkenalkan berupa aplikasi laporan keuangan berbasis Microsoft Excel. Sistem sederhana tersebut dirancang untuk membantu pengelola mencatat pemasukan, pengeluaran operasional, biaya lingkungan, hingga menyusun rekapitulasi laporan keuangan secara berkala.

Selain penguatan tata kelola keuangan, peserta juga mendapatkan edukasi mengenai ekonomi sirkular, khususnya penerapan prinsip reduce, reuse, dan recycle (3R) dalam aktivitas pariwisata.

Melalui pendekatan ekonomi sirkular, sampah tidak lagi semata-mata dipandang sebagai sesuatu yang harus dibuang. Sampah dapat dipilah, dikurangi, digunakan kembali, atau diolah menjadi produk yang memiliki nilai guna sekaligus nilai ekonomi.

Tim pengabdian mendorong penerapan pemilahan sampah organik dan anorganik, penguatan prinsip 3R, serta pengembangan produk sederhana berbasis daur ulang atau eco-product. Langkah tersebut diharapkan dapat mengurangi volume sampah yang tidak terkelola sekaligus menjaga kebersihan dan memperkuat daya tarik kawasan wisata.

Ketua Tim Pengabdian, Indra Basir, mengatakan bahwa pengembangan pariwisata desa harus dibangun di atas keseimbangan antara manfaat ekonomi dan keberlanjutan lingkungan.

“Pengelolaan wisata tidak cukup hanya berorientasi pada peningkatan jumlah pengunjung. Pengelola dan masyarakat juga perlu memiliki kemampuan dalam mengelola keuangan secara transparan, menjaga lingkungan, serta memanfaatkan potensi ekonomi secara berkelanjutan. Melalui pendekatan green accounting dan ekonomi sirkular, kedua aspek tersebut dapat berjalan secara beriringan,” ujar Indra.

Desa Kunyi memiliki potensi wisata alam yang besar. Lanskap pegunungan, aliran sungai, serta bentang alam yang masih asri menjadi kekuatan yang dapat dikembangkan sebagai daya tarik wisata sekaligus sumber pertumbuhan ekonomi masyarakat.

Berdasarkan data yang digunakan dalam proposal pengabdian, jumlah kunjungan wisatawan ke Desa Kunyi pada 2025 mencapai 27.432 orang. Angka tersebut memperlihatkan besarnya peluang sektor pariwisata dalam membuka ruang ekonomi baru bagi masyarakat setempat.

Namun, pertumbuhan kunjungan wisata juga membawa konsekuensi yang perlu diantisipasi. Semakin tinggi aktivitas wisata, semakin besar pula kebutuhan terhadap tata kelola yang mampu menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan daya dukung lingkungan.

Dalam konteks tersebut, keterlibatan masyarakat dan kelompok pemuda menjadi bagian yang sangat penting. Pemuda diharapkan tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga tampil sebagai penggerak dalam pengembangan destinasi, pengelolaan lingkungan, promosi wisata, hingga pengembangan ekonomi kreatif yang bertumpu pada potensi lokal.

Penguatan pariwisata berkelanjutan di Desa Kunyi juga sejalan dengan sejumlah tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 8 tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, SDG 11 tentang kota dan komunitas berkelanjutan, SDG 12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, serta SDG 13 tentang penanganan perubahan iklim.

Program pengabdian tersebut tidak berhenti pada penyampaian materi. Kegiatan dirancang dalam rangkaian tahapan yang mencakup sosialisasi, pelatihan, penerapan teknologi sederhana, pendampingan, evaluasi, serta penguatan keberlanjutan program bersama mitra.

Melalui pendekatan tersebut, Fakultas Ekonomi Universitas Sulawesi Barat berharap kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat dapat terus diperkuat. Dari Desa Kunyi, pengembangan pariwisata diharapkan tumbuh sebagai sebuah ekosistem yang bukan hanya produktif secara ekonomi, tetapi juga transparan dalam pengelolaan, bijak dalam memanfaatkan sumber daya, ramah terhadap lingkungan, dan mampu memberi manfaat berkelanjutan bagi generasi yang akan datang./***

× Advertisement
× Advertisement