BANNIQ.Id. Mamasa. Lomba takbiran dan bedug di Kabupaten Mamasa berlangsung semarak dan sarat makna, tidak sekadar menjadi perayaan malam kemenangan, tetapi juga panggung nyata toleransi antarumat beragama. Kegiatan ini secara resmi dibuka oleh Bupati Mamasa, Welem Sambolangi, SE., MM., di tengah antusiasme masyarakat yang memadati lokasi acara.
Dalam sambutannya, Bupati menegaskan bahwa malam takbiran harus dimaknai lebih luas sebagai simbol kebersamaan seluruh elemen masyarakat Mamasa.
“Malam kemenangan ini bukan hanya saudara-saudara kami yang Muslim tapi ini adalah kemenangan seluruh masyarakat Kabupaten Mamasa. Nilai toleransi terus kita jaga, kita ciptakan kerukunan umat beragama hingga tercipta masyarakat Mamasa yang ‘Mamase’,” tegasnya.
Penegasan tersebut menjadi garis utama arah pembangunan sosial di Mamasa, di mana keberagaman tidak dilihat sebagai perbedaan yang memisahkan, melainkan kekuatan yang menyatukan.
Bupati juga menekankan pentingnya menjaga stabilitas keamanan dan kedamaian sebagai fondasi utama dalam menyukseskan kegiatan-kegiatan masyarakat ke depan.
“Lomba bedug dan takbiran ini tahun depan kita akan buat lebih semarak lagi, sepanjang kita bisa menjaga keamanan dan kedamaian,” lanjutnya.
Acara ini dihadiri oleh unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Kepala Kementerian Agama, jajaran pejabat eselon II, III, dan IV, serta tokoh-tokoh strategis lintas agama dan organisasi. Hadir pula Ketua Umum Badan Pekerja Majelis Sinode (BPMS) Gereja Toraja Mamasa (GTM), Ketua Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), Ketua Panitia Hari Besar Islam (PHBI), Ketua Nahdlatul Ulama (NU), Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), serta Ketua Muhammadiyah Kabupaten Mamasa.
Kehadiran lintas unsur ini mempertegas bahwa semangat toleransi di Mamasa tidak hanya menjadi wacana, tetapi telah terbangun sebagai praktik sosial yang hidup dan terjaga.
Di tengah dentuman bedug dan lantunan takbir yang menggema, masyarakat dari berbagai latar belakang tampak larut dalam suasana kebersamaan. Kegiatan ini menjadi bukti bahwa harmoni dapat tumbuh kuat ketika ruang-ruang perjumpaan terus dirawat.
Melalui momentum ini, Mamasa kembali menegaskan dirinya sebagai daerah yang menjunjung tinggi nilai toleransi, menjadikan perbedaan sebagai perekat, serta merawat persatuan demi masa depan yang damai dan berkeadaban.
Laporan Muh.Namri








