Dari Retakan Kisah ke Luka Sebuah Zaman
Humaerah Nur’izzatinnisa
Pembuka
Maret 2006, di sebuah hutan Pulau Buru, seorang perempuan Jawa ditemukan terluka. Namanya Amba Kinanti Eilers. Tangannya mendekap gundukan kubur, dan dari bibirnya keluar pengakuan yang membuat siapa pun terdiam: ia “sesungguhnya menikah dengan mayat” (hlm.19).
Dari sunyi hutan itulah Amba karya Laksmi Pamuntjak (terbit 2012, edisi baru 2013) mulai berjalan, mundur ke Kediri dan Yogyakarta pada tahun 1956-1965, lalu ke surat-surat Bhisma dari kamp tahanan politik Buru.
Lucien Goldmann percaya bahwa sebuah cerita tidak pernah jatuh dari langit. Ia tumbuh dari tanah tempat sekelompok manusia hidup, berharap, dan terluka, lalu menyimpan jejak mereka dalam bentuknya sendiri.
Cara sebuah kisah disusun, siapa berhadapan dengan siapa, di mana ia berhenti dan mulai berlubang, semuanya menyerupai cara sebuah masyarakat memandang hidup. Membaca sastra, bagi Goldmann, adalah berjalan dari kata menuju zaman. Dari susunan halaman ke susunan dunia yang melahirkannya. Jalan itulah yang bisa kita tempuh bersama Amba, selangkah demi selangkah.
Kisah yang Berjalan Mundur
Amba terbagi dalam tujuh buku, seperti tujuh ruang yang pintunya dibuka satu per satu. Buku 1, 5, dan 7 adalah masa kini: Samuel dan Amba di Pulau Buru pada tahun 2006, lalu di Jakarta pada tahun 2011. Buku 2 sampai 4 membuka kembali masa lalu Amba, Bhisma, Salwa, dan Adalhard pada tahun 1956-1965. Buku 6 menyimpan surat-surat Bhisma dari Buru. Waktu tidak mengalir lurus. Masa kini terus menggali masa lalu, sedikit demi sedkit, seperti tangan yang mengorek tanah demi menemukan sesuatu yang dahulu dikubur.
Para tokohnya berdiri di titik-titik nilai yang berbeda. Amba adalah perempuan terdidik yang gelisah. Bhisma, dokter yang dekat dengan lingkaran CGMI. Salwa, calon suami yang saleh dan menawarkan rasa aman. Adalhard, lelaki asing yang kemudian menikahi Amba. Lalu Samuel, Mukaburung, dan Srikandi, anak-anak zaman dan korban yang datang belakangan. Ruangnya bergerak dari kampung Kadipura dan Kediri ke Yogyakarta (Universitas Gadjah Mada, Universitas Res Publica, Sanggar Bumi Tarung), lalu ke Pulau Buru. Suara penuturnya berpindah-pindah, kadang orang ketiga, kadang surat yang berbicara dengan “aku”. Bahasanya puitis dan murung, dibuka dengan epigraf Mahabharata dan dihuni nama-nama wayang: Amba, Bhisma, Salwa, Srikandi. Mitos diselipkan ke dalam sejarah, seperti doa diselipkan di antara kabar duka.
Di bawah semuanya ada bayang-bayang epos. Dalam Mahabharata, Amba ditolak oleh Bhisma dan Salwa, lalu menitis kembali sebagai Srikandi. Dalam novel ini, tragedy 1965 dibaca lewat cermin yang sama. Kisah tentang mencari dan kehilangan yang terus berulang, dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Namun bentuk seperti ini patut membuat kita bertanya. Mengapa sebuah kisah memilih berjalan mundur, patah, dan berlubang? Jawabannya tidak tersimpan di dslam halaman. Ia ada di luar, di tanah tempat kisah itu berakar.
Luka yang Menjadi Bentuk
Goldmann menyebut segala yang dialami, diderita, dan dimaknai manusia bersama-sama sebagai fakta kemanusiaan, dan karya sastra termasuk di dalamnya. Amba penuh dengan itu. Penderitaan ada pada Bhisma, yang berpindah dari Salemba ke Nusakambangan, lalu ke Buru. Zulfikar mengenang bahwa para tapol “dipaksa jadi kuda” untuk memikul para pengawal (hlm.430). kehilangan ada pada Amba: kehilangan kekasih pada malam penyerbuan kampus, kehilangan masa lalunya, lalu mencari Bhisma puluhan tahun hanya untuk menemukan kuburnya.
Tak seorang pun di dalam kisah ini sepenuhnya bersih. Amba melukai Salwa yang tidak bersalah, dan menikah dengan Adalhard yang menyelamatkannya sekaligus mengubur masa lalunya. Mukaburung, perempuan Buru yang mencintai Bhisma, nyaris membunuh Amba, tetapi Amba tetap menyebutnya “perempuan yang baik” (hlm. 560). Bhisma adalah tapol sekaligus dokter, penyembuh di dalam sistem yang memenjarakannya. Keahliannya dibutuhkan oleh orang-orang yang mengurungnya. Di balik itu semua, ketidakadilan berdiri telanjang: penangkapan tanpa pengadilan, stigma yang menjalar ke keluarga. Narrator mencatat ”bahwa pada hari-hari itu wajah kebebasan hanya beberapa senti terpisah dari wajah fasisme” (hlm.339).
Dari semua ini lahirlah apa yang Goldmann sebut pandangan tragis: cara menatap dunia lewat penderitaan, kehilangan, dan kebaikan yang selalu bercampur dengan luka. Para tokohnya menuntut sesuatu yang utuh, yaitu cinta, kebenaran, dan kemanusiaan, dari dunia yang tak sanggup memberikannya. Seperti manusia dalam The Hidden God, mereka mencari yang tersembunyi dan hanya menemukan jejak. Amba mencari Bhsima, dan kebenaran tentang Bhisma terus bersembunyi sampai taka da yang tersisa.
Luka sebesar ini tak mungkin milik satu orang. Ia terlalu luas untuk satu dada, terlalu banyak untuk satu nama.
Suara-suara di Balik Satu Nama
Goldmann menolak anggapan bahwa sebuah karya lahir dari kepala satu orang saja. Di belakang pengarang berdiri sekelompok manusia yang gelisah oleh hal yang sama. Dalam novel Amba, kelompok itu berlapis. Lapis pertama adalah para korban dan penyintas 1965: tapol Buru, keluarga mereka, serta perempuan dan anak-anak yang menanggung akibatnya. Lapis kedua adalah anak-anak muda terdidik Yogyakarta awal 1960-an, yakni mahasiswa, dokter, dan seniman yang terjepit di antara kutub-kutub politik zamannya, seperti tampak pada rapat di Universitas Res Publica dan pelarian Amba dari rumah pamannya.
Pengarang menjadi pintu tempat suara-suara itu masuk dan menemukan bahasa. Dedikasi novel, “untuk mereka yang pernah ditahan di Pulau Buru, yang telah memberiku sepasang mata baru” (hlm.9), menunjukkan bahwa Laksmi datang bukan sebagai saksi mata, melainkan sebagai penyambung suara. Kata pengantarnya bercerita bahwa novel ini mula-mula ditulis bahasa Inggris, dan ketika ditulis ulang dalam bahasa Indonesia, ia terasa seperti dilahirkan kembali, sebab ada “kenangan kolektif kultural” yang hilang dalam penerjemahan.
Para penyintas itu bukan sekadar korban. Bhisma menulis bahwa mereka “tangkas merayakan hidup” (hlm. 518), lewat music, gurauan, dan kerja merawat sesame. Ingatan pun berpindah dari mulut ke mulut. Zulfikar menuturkan enam hari pelayaran ke Buru, dan Samuel akhirnya membuka rahasia masa kecilnya (hlm.430). taka da satu suara yang memegang seluruh cerita. Ingatan disusun bersama, seperti kain yang ditenun dari banyak benang.
Maka tibalah kita di titik yang terpenting: bagaimana bentuk kisah dan bentuk sebuah masyarakat saling menyahut.
Ketika Bentuk Menyahut Zaman
Goldmann tidak mencari cermin. Novel bukan foto zaman yang memantulkan peristiwa apa adanya. Yang ia cari adalah gema. Pola yang bergetar serupa antara susunan cerita dan susunan hidup bersama. Laksmi sendiri menegaskan bahwa novelnya fiksi. Kadipura dan Rumah Sakit Waeapo hanyalah rekaan, dan penyerbuan Res Publica yang terjadi pada siang hari dipindahkan ke malam. Justru karena tidak menyalin peristiwa, novel mampu menangkap pola yang lebih dalam.
Gema pertama adalah patahnya cerita. Alur Amba berupa pencarian yang berlubang-lubang. Amba merenung, “Betapa tak bulatnya masa lalu itu” (hlm. 340). Begitulah ingatan sebuah bangsa tentang 1965: terpotong, ditutup, dibisikkan. Bab pembuka mengatakan bahwa kisah Buru hanya bisa dibicarakan “sambil berbisik” (hlm. 17), dan kepala rumah sakit berpesan kepada stafnya, “Jangan terlalu banyak bertanya” (hlm. 18). Di dalam fiksi, orang dilarang bertanya. Di luar fiksi, sebuah masyarakat belajar diam. Lubang pada halaman adalah lubang pada ingatan.
Gema kedua adalah orang-orang yang saling berhadapan. Amba, Bhisma, dan Salwa membentuk segitiga: daya kritis dan kemanusiaan di satu sisi, kesalehan dan ketertiban di sisi lain. Keluarga Salwa sendiri terbelah antara Muhammadiyah dan NU yang “tak henti-hentinya berselisih tentang politik dan agama” (hlm. 114). Seperti itulah masyarakat awal 1960-an, terbagi ke dalam aliran-aliran yang saling menarik. Amba berdiri di tengah dan menolak memihak kutub mana pun secara mutlak. Ia juga “lagi-lagi tak dianggap” di ruang politik laki-laki (hlm. 329), kedudukan yang sama dengan tempat perempuan dalam sejarah resmi: ada, tetapi jarang disebut.
Gema ketiga adalah sang pahlawan yang terluka. Amba dan Bhisma mencari nilai yang sejati, yaitu cinta, ilmu, dan kemanusiaan, di dunia yang sudah dirusak oleh kuasa. Bhisma bukan anggota partai; ia hanya “nyaris PKI” dalam gurauan kawannya (hlm. 329). Bukan keanggotaan, melainkan kedekatan, yang membuatnya lenyap. Nasibnya sepola dengan ribuan orang yang ditangkap karena pertemanan, karena pernah duduk di meja yang sama. Tokoh yang gagal menyelamatkan nilainya itu sesungguhnya sedang berbicara atas nama kesadaran bersama yang terluka.
Pertentangan antara korban dan aparat, antara cinta dan ideologi, merembes ke seluruh teks. Pada malam penyerbuan, kabarnya pasukan Korem dan RPKAD menunggu di luar kampus, sementara Amba hanya memikirkan Bhisma (hlm. 329–330). Ruang yang paling pribadi pun diserbu politik, seperti hidup rakyat kecil yang tak pernah punya pintu cukup kuat untuk menahan zaman.
Humanisme yang Bertahan di Tengah Luka
Bila semua gema itu dikumpulkan, terdengarlah satu nada. Di balik novel berdiri sekelompok manusia: para penyintas 1965 dan kaum terdidik yang hidup sesudah tragedi, yang suaranya dititipkan lewat pengarang. Bentuk novel yang berlubang, kutub-kutub yang berhadapan, dan pahlawan yang dilenyapkan karena kedekatan, semuanya menyahut kenyataan mereka. Jawaban mereka atas kekerasan pun serupa: menolak kekerasan, baik yang datang dari negara maupun dari ideologi yang menganggap dirinya mutlak; menolak lupa; dan tetap merayakan hidup.
Pandangan dunia yang terbentuk adalah humanisme tragis. Kemanusiaan bertahan bukan karena dunia adil, melainkan karena ingatan, cinta, dan kemampuan berempati, bahkan kepada yang melukai, seperti Amba kepada Mukaburung. Bhisma mengakui bahwa kekerasan adalah “dunia tempat kami selalu dipaksa kembali” (hlm. 518), tetapi para tapol tak membiarkan getir menutup kemungkinan untuk memaafkan. Pandangan inilah yang menjelaskan mengapa novel dibangun dengan bentuk terpecah, bernuansa mitos, dan berlapis surat: kebenaran yang disembunyikan hanya bisa dipulihkan keping demi keping.
Penutup
Pada akhirnya, Amba bukan sekadar kisah cinta yang patah. Ia adalah bentuk dari sebuah kesadaran bersama yang kehilangan, dibungkam, tetapi menolak menyerah pada kebencian. Goldmann berkata bahwa sebuah karya baru sungguh dipahami ketika bentuknya dijelaskan oleh dunia yang melahirkannya. Amba membuktikan itu dengan terang: dari halaman yang berlubang kita tiba pada ingatan yang berlubang, dari tokoh yang tersesat kita tiba pada manusia yang tersesat, dan dari seorang perempuan yang mendekap kubur kita tiba pada sebuah bangsa yang masih belajar menggali masa lalunya.
Sebab setiap kisah yang jujur hanyalah cara lain sebuah masyarakat menyebut luka dan harapannya sendiri.
Penulis:
Humaerah Nur’izzatinnisa, Mahasiswa Sastra Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta.











