KETIKA AYAH BELUM BISA PULANG
Muhammad Ridwan Alimuddin, penulis Buku Putih Perjuangan Pembentukan Provinsi Sulawesi Barat
Telepon itu datang dari rumah. Syahrir Hamdani sedang berada di Jakarta. Perjalanannya berhubungan dengan pekerjaan perjuangan yang belum selesai. Di ujung lain, istrinya menyampaikan kabar mengenai anak mereka yang masih kecil.
Anak itu merindukan ayahnya. Dalam kesaksian Syahrir yang kemudian dirangkum dalam Buku Putih, kerinduan itu sampai membuat si anak tidak mau makan selama beberapa hari.
Syahrir belum pulang. Ia merasa ada urusan yang harus diselesaikan terlebih dahulu—tanda tangan yang dibutuhkan perjuangan. Di dalam cerita itu, sebuah konflik yang biasanya tidak masuk ke dokumen organisasi muncul dengan sangat jelas: seorang lelaki berada di Jakarta sebagai pelaku politik, tetapi pada saat yang sama ia tetap seorang ayah yang sedang ditunggu anaknya.
Tidak ada notulen untuk persoalan seperti ini. Tidak ada surat keputusan yang mencatat siapa yang menenangkan anak ketika ayahnya tak kunjung pulang. Ketika membaca ribuan halaman kesaksian untuk Buku Putih, saya semakin menyadari bahwa ketidakhadiran adalah salah satu biaya perjuangan yang paling sulit dihitung.
Syahrir sendiri memberikan petunjuk yang jarang muncul sejelas itu. Ia berbicara mengenai pekerjaan yang ditinggalkan dan pendapatan yang digunakan untuk perjuangan. Lalu ia menyebut istrinya. “Untung saya punya istri yang kuat, yang ikhlas, yang sabar,” katanya.
Kalimat berikutnya bahkan lebih kuat: “Kalau ada orang yang mengatakan Pak Syahrir pejuang, itu lebih pejuang saya punya istri.” Istrinya bekerja sebagai pegawai bank. Dalam kesaksian Syahrir, penghasilan istrinyalah yang terus menopang kehidupan keluarga ketika dirinya menggunakan banyak sumber daya untuk bergerak.
Saya tidak ingin menjadikan cerita itu sebagai formula untuk menjelaskan seluruh keluarga para pelaku pembentukan Sulawesi Barat. Kita tidak mempunyai data untuk itu.
Kita bahkan tidak mempunyai nama seluruh istri, ibu, saudara atau anggota keluarga yang mungkin melakukan pekerjaan serupa. Sebagian besar dokumen politik lebih rajin mencatat ketua, sekretaris, bendahara, peserta rapat dan penandatangan surat daripada orang yang tinggal di rumah ketika mereka pergi.
Tetapi keterbatasan sumber itu sendiri mengatakan sesuatu. Sejarah politik mempunyai kecenderungan mengikuti orang yang bergerak. Orang yang tinggal sering menghilang.
Dalam keluarga Syahrir, kita beruntung karena pelaku utama justru mengatakannya sendiri. Ia tidak menggambarkan rumah sebagai ruang yang netral. Bila gajinya digunakan untuk perjuangan dan istrinya menopang kebutuhan keluarga, maka perjalanan politik seorang suami dimungkinkan oleh pembagian beban yang terjadi di rumah.
Dukungan, dengan demikian, tidak selalu berarti ikut rapat. Kadang-kadang dukungan berarti tetap masuk kantor setiap hari.vKadang-kadang berarti menghadapi seorang anak yang bertanya kapan ayahnya pulang.vDan kadang-kadang berarti menerima bahwa jawaban atas pertanyaan itu belum pasti.
Kasus Naharuddin membawa kita ke sisi lain.vPada suatu periode yang tegang setelah demonstrasi dan kerusakan kaca di kantor gubernur, Nahar berada di rumah sakit karena istrinya melahirkan. Pada saat itulah persoalan politik masuk ke rumah.
Menurut informasi yang diterimanya, orang-orang yang tidak dikenal datang mencari dirinya. Adiknya kemudian ikut masuk ke dalam persoalan sebagai saksi, sementara Nahar sendiri dipanggil polisi. Di rumah sakit, kawan-kawannya menjaga dirinya.
Dua dunia bertemu pada satu saat yang sama. Seorang anak lahir. Seorang ayah sedang dicari berkaitan dengan kegiatan politiknya. Keluarga tidak memilih menjadi bagian dari demonstrasi, tetapi konsekuensi demonstrasi dapat tiba di pintu rumah.
Di sinilah istilah “orang-orang di belakang pejuang” menjadi terlalu sederhana. Mereka bukan sekadar latar yang menyediakan makanan atau restu. Kadang-kadang mereka adalah pihak yang ikut menanggung risiko.
Di dalam corpus terdapat pula keluarga yang membuka rumah untuk rapat, keluarga yang menerima rombongan, dan saudara yang menggerakkan jaringan lintas kota. Namun kisah-kisah tersebut tidak selalu mencatat siapa yang memasak, siapa yang membersihkan rumah setelah pertemuan, siapa yang tidur lebih sedikit karena banyak tamu, atau siapa yang menggantikan pekerjaan anggota keluarga yang terus bepergian.
Ketiadaan nama itu tidak memberi izin kepada kita untuk mengarang. Sebaliknya, ia memberi batas.
Kita dapat mengatakan bahwa rumah menyediakan konsumsi apabila informan memang menyebutkannya. Kita dapat mengatakan bahwa seorang istri menopang ekonomi keluarga apabila suaminya mengatakannya. Kita dapat mengatakan keluarga ikut terkena tekanan apabila kesaksian mencatat kejadiannya.
Tetapi kita tidak boleh mengubah setiap perempuan menjadi “pejuang di balik layar” hanya karena kalimat itu terdengar baik. Justru kejujuran terhadap kekosongan arsip lebih berguna.
Saya pernah menulis tentang sosok Rosmiani Ahmad yang memperlihatkan seorang perempuan yang hadir secara langsung di ruang politik: rapat, perjalanan, delegasi dan jaringan. Kisah itu penting. Namun keluarga Syahrir membawa kita ke ruang yang sama sekali berbeda.
Istrinya tidak perlu ditempatkan di podium agar kontribusinya terlihat. Yang perlu diperhatikan adalah struktur kehidupan sehari-hari yang memungkinkan Syahrir berada berhari-hari di luar rumah. Jika seorang suami tidak pulang, seseorang tetap harus menjalankan rumah.
Jika seorang ayah menggunakan penghasilannya untuk perjalanan, kebutuhan anak tidak ikut berhenti. Jika telepon dari rumah mengatakan seorang anak tidak mau makan karena merindukan ayah, keputusan politik tiba-tiba mempunyai ukuran yang sangat pribadi. Sulit memasukkan hal seperti itu ke dalam kronologi resmi.
Arsip negara pada akhirnya dapat mencatat surat, rapat, keputusan dan undang-undang. Arsip organisasi dapat mencatat susunan tim dan kegiatan. Tetapi jarang ada kolom bernama “berapa hari seorang anak menunggu ayahnya”. Sejarah keluarga justru hidup pada tempat seperti itu.
Ia tidak membantah pentingnya lobi atau demonstrasi. Ia memperlihatkan harga yang tidak terbaca dari kedua aktivitas tersebut.
Syahrir mengatakan dirinya dapat saja memilih kehidupan lain. Ia dapat berkonsentrasi pada pendidikan dan pekerjaannya. Dalam ingatannya, pilihan masuk lebih jauh ke perjuangan mempunyai konsekuensi bagi karier dan keluarga.
Pernyataan itu tentu merupakan sudut pandang Syahrir sendiri. Tetapi ketika ia kemudian mengatakan istrinya “lebih pejuang” daripada dirinya, ia sedang membuka pintu bagi kita untuk melihat satu ruangan yang biasanya tertutup dalam sejarah politik. Di ruangan itu tidak ada podium.
Yang ada seorang ibu, pekerjaan di bank, kebutuhan rumah tangga dan seorang anak kecil yang menunggu. Di Jakarta, tanda tangan yang dicari Syahrir mungkin dianggap bagian dari sebuah perjuangan besar. Di rumah, ukuran waktunya jauh lebih sederhana.
Ayah belum pulang.









