BANNIQ.Id. Mamuju. Menatap Pemilu 2029 dan berbagai kontestasi politik mendatang, DPD Partai Golkar Sulawesi Barat (Sulbar) terus memperkuat konsolidasi dan menyiapkan daya dukung organisasi. Penguatan struktur partai dengan menghadirkan kader-kader potensial menjadi salah satu langkah strategis untuk memperbesar peluang Golkar kembali tampil sebagai kekuatan politik utama di Sulbar.
Di antara figur yang diproyeksikan memperkuat barisan Partai Golkar Sulbar adalah Saiyye Huzaefa Alqadri, SE, pengusaha muda di sektor minyak dan gas bumi (migas) yang berkiprah di Kalimantan Timur dan Jakarta. Putra asli Sulbar ini memilih bergabung dengan DPD I Partai Golkar Sulbar sebagai bagian dari ikhtiarnya untuk mengabdikan diri dan ikut membangun daerah kelahirannya.
Direktur PT Energi Petro Perkasa tersebut menilai, keterlibatannya dalam politik bukan semata-mata tentang memasuki arena kontestasi, melainkan juga menyangkut ikatan emosional, tanggung jawab, dan keinginan untuk berkontribusi lebih luas bagi masyarakat Sulbar.
Meski masih berusia muda, Huzaefa membawa pengalaman sebagai pengusaha yang terbiasa membaca peluang, memperhitungkan risiko, dan menyusun langkah berdasarkan kondisi riil.
Baginya, dunia usaha dan politik memang memiliki ruang gerak yang berbeda, tetapi keduanya dapat saling melengkapi ketika dijalankan dengan perencanaan matang, komitmen, dan orientasi pada hasil.
“Hubungan emosional dengan Sulbar menjadi dasar bagi saya untuk mengabdikan diri ke politik. Saya yakin dan sadar bahwa di Sulbar ada kerabat dan keluarga besar saya. Saya juga dilahirkan di sini, tentu akan lebih mudah melaksanakan pengabdian politik,” jelas Huzaefa saat berbincang di sebuah warteg di sudut Kota Mamuju, Rabu (21/10/2026).
Huzaefa menegaskan, langkah politik harus bertolak dari pemahaman terhadap kondisi faktual dan karakteristik geopolitik daerah yang menjadi ruang pengabdian.
Menurutnya, agregasi dan artikulasi politik tidak cukup dibangun melalui gagasan semata, tetapi juga harus disertai pemahaman terhadap kebutuhan masyarakat serta kesiapan untuk memperjuangkannya.
Pengusaha muda yang menempuh pendidikan dasar di Jakarta, pendidikan menengah pertama di Polewali Mandar (Polman), dan sekolah menengah atas di Balikpapan itu kemudian menyelesaikan pendidikan sarjana ekonomi di Universitas Mulawarman.
Latar belakang pendidikan dan pengalamannya di dunia usaha menjadi bekal untuk memahami pentingnya perencanaan sebelum mengambil keputusan.
“Kiprah di politik itu kita harus siap dan total untuk mencapai tujuan dari agregasi politik yang ingin dicapai, baik melalui Pemilu legislatif maupun kontestasi pemilihan lainnya,” imbuhnya.
Bagi Huzaefa, keseriusan dalam politik menuntut kesiapan yang tidak berbeda jauh dari prinsip membangun usaha. Keduanya membutuhkan perhitungan, strategi, keberanian mengambil keputusan, serta konsistensi dalam menjalankan rencana yang telah ditetapkan.
Ia mengungkapkan, dalam dirinya saat ini terdapat dua ruang aktivitas yang berjalan beriringan, yakni dunia usaha dan proses belajar serta membangun pengalaman di dunia politik. Keduanya memiliki karakteristik tersendiri, tetapi sama-sama menuntut kemampuan membaca situasi dan menentukan pilihan secara tepat.
Dalam dunia usaha, misalnya, keputusan investasi tidak dapat diambil hanya berdasarkan besarnya peluang keuntungan. Seorang pengusaha harus mempertimbangkan kemampuan modal, tingkat risiko, kondisi pasar, serta model usaha yang paling sesuai dengan kapasitas yang dimiliki.
“Kalau dalam usaha, misalnya, ada dua opsi sistem yang bisa dipilih, yakni usaha padat modal atau investasi. Tentu kita harus melihat kondisi riil dan menghitung dengan cermat, mana opsi yang paling sesuai dengan kemampuan kita,” tuturnya.
Prinsip serupa, lanjut Huzaefa, dapat menjadi bekal dalam memahami dinamika politik. Setiap langkah membutuhkan pemetaan yang matang, pengenalan terhadap karakteristik masyarakat, serta kemampuan membangun komunikasi dan kepercayaan.
Namun, ia melihat politik dan dunia usaha bukan dua bidang yang harus dipertentangkan. Sebaliknya, keduanya dapat berjalan beriringan dan saling menguatkan. Pengalaman sebagai pengusaha dapat membentuk pola pikir yang terukur, disiplin dalam perencanaan, serta keberanian mengambil keputusan.
Sementara itu, keterlibatan dalam politik membuka ruang pengabdian yang lebih luas untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat dan mendorong pembangunan daerah.
Keberiringan tersebut, menurutnya, harus dibangun dengan menempatkan kepentingan masyarakat sebagai orientasi utama.
Pengalaman dan jejaring di dunia usaha dapat menjadi modal untuk memahami potensi ekonomi daerah, sedangkan politik menjadi ruang untuk memperjuangkan kebijakan yang mendukung pertumbuhan, membuka peluang kerja, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Dengan bergabung bersama Partai Golkar Sulbar, Huzaefa ingin menjadikan pengalaman profesionalnya sebagai bekal untuk mengenal lebih dekat dinamika politik dan kebutuhan masyarakat di tanah kelahirannya.
Baginya, pengabdian politik bukan hanya tentang seberapa besar peluang meraih posisi dalam kontestasi, tetapi juga tentang kesiapan menjalani proses, memahami persoalan daerah, dan menghadirkan kontribusi nyata.
Di tengah persiapan menuju Pileg 2029, kehadiran figur muda dengan latar belakang dunia usaha seperti Huzaefa menjadi bagian dari upaya memperluas basis kader dan memperkuat daya saing Partai Golkar Sulbar. Tantangannya adalah bagaimana pengalaman, kapasitas, dan semangat pengabdian tersebut dapat diterjemahkan menjadi kerja politik yang dekat dengan masyarakat serta memberi manfaat nyata bagi pembangunan Sulawesi Barat.











