Sastra

Ketika Cinta Tak Punya Pilihan : Membaca ” Malaikat Juga Tahu” dengan Strukturialisme Genetik

Ketika Cinta Tak Punya Pilihan: Membaca “Malaikat Juga Tahu” dengan Strukturalisme Genetik

Oleh:
Joan Delanoue Denting Sanitia Merdu
Mahasiswa Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma

Joan Delanoue Denting Sanitia Merdu(dok:ist)

Cerpen “Malaikat Juga Tahu” dalam kumpulan Rectoverso (Lestari, 2008) sekilas tampak seperti kisah cinta segitiga yang lembut. Namun, cerpen ini juga mengajukan pertanyaan sosial: apa yang terjadi pada cinta yang setia ketika orang-orang di sekitarnya menilai cinta dari luasnya pilihan yang tersedia? Esai ini membaca cerpen tersebut dengan strukturalisme genetik Lucien Goldmann, dengan kata kunci pahlawan problematik.

Menurut Faruk (2012, hlm. 168–169), kajian ini memakai dua metode: metode simak, yaitu menyimak satuan linguistik yang bermakna dalam teks, dan metode dialektik, yaitu menguji hasil simakan itu dengan teks-teks filosofis dan kultural.

Struktur Teks: Rutinitas dan Cinta Tanpa Pilihan

Cerpen ini berpusat pada tiga tokoh tanpa nama: Abang, seorang perempuan yang bersahabat dengannya, dan Bunda, ibu Abang. Abang berusia 38 tahun, bermental anak empat tahun, dan digambarkan mengidap autisme pada masa ketika dunia kedokteran masih awam soal itu (Lestari, 2008, hlm. 16–17). Hidupnya diatur rutinitas ketat: memangkas rumput pada hari tertentu, mencuci baju menurut warna, menjerang air panas pukul enam pagi, dan menghitung seratus sabun bermerek sama setiap pagi dan sore (hlm. 14). Narasi menegaskan bahwa bagi Abang rutinitas bukan sekadar hobi, melainkan eksistensi (hlm. 17).

Keseimbangan itu retak ketika adik Abang, si bungsu yang menurut orang-orang adalah figur sempurna, berpacaran dengan perempuan itu, satu-satunya orang yang pernah menerima surat cinta dari Abang (hlm. 17). Bunda lalu menuntut keduanya tidak tampak seperti kekasih di rumah itu karena hanya dengan cara itu Abang bisa bertahan (hlm. 20). Konflik cerpen berpusat pada dua pandangan tentang cinta. Bunda menyebut Abang mencintai dengan “seluruh jiwanya” dan “tanpa pilihan”, sedangkan ia sendiri mengaku bukan malaikat yang tahu siapa lebih menyayangi (hlm. 18). Bagi perempuan itu, cinta tanpa pilihan adalah penjara. Ia ingin dipilih dari sekian banyak pilihan, bukan karena menjadi satu-satunya (hlm. 18).

Pahlawan Problematik dan Dunia yang Merosot

Dalam strukturalisme genetik, pahlawan problematik adalah tokoh yang mencari nilai-nilai otentik dengan cara yang terdegradasi di dalam dunia yang juga terdegradasi. Tokoh yang paling sesuai dengan konsep ini adalah Bunda, bukan Abang. Abang justru pembawa nilai otentik itu: cintanya setia, tidak berhitung, dan tidak mengenal alternatif. Namun, ia tidak sadar sedang memperjuangkan apa pun, sehingga tidak dapat disebut pahlawan. Bunda-lah yang menjaga nilai tersebut secara sadar.

Upaya Bunda bersifat problematik karena dunia luar tidak memahami nilai yang ia jaga. Ketika seorang anak indekos menyembunyikan satu sabun, Abang pergi mencarinya hingga polisi turun tangan, lalu diterapi dan diberi obat penenang yang hanya membuat otaknya rapuh. Bunda tahu bahwa seratus sabun itu adalah syarat bagi anaknya untuk hidup wajar, tetapi tidak ada orang lain yang memahaminya (hlm. 19–20). Di sini polisi dan rumah sakit mewakili dunia yang mengukur manusia dengan kewajaran. Cara Bunda menjaga cinta itu pun terdegradasi, sebab ia harus meminta dua orang lain menyembunyikan cinta mereka hingga akhirnya mereka memutuskan pergi (hlm. 20). Ia sendiri tidak memperoleh apa-apa: ia menangis dalam hati setiap malam Minggu, Dobi mati, dan semua pergi (hlm. 21). Narasi menutup dengan kalimat bahwa cintanya tidak punya cukup waktu untuk dirinya sendiri (hlm. 21). Pencarian yang otentik itu berhasil sebagian dan menuntut harga yang mahal, dan itulah ciri sang pahlawan problematik.

Sementara itu, perempuan itu dan si bungsu mewakili nilai lain di dunia cerpen: cinta sebagai pilihan bebas yang ingin diakui. Nilai ini tidak salah, dan narasi bahkan menyatakan bahwa perempuan itu benar (hlm. 21). Namun, jika cinta hanya bernilai karena dipilih dari banyak kemungkinan, hubungan manusia dapat bergeser mendekati logika tukar-menukar. Dalam kerangka Goldmann, pergeseran inilah yang dapat dibaca sebagai merosotnya dunia di sekitar nilai otentik.

Pandangan Dunia dan Homologi

Pada tahap dialektik, teks ditempatkan dalam konteks kelompok sosial pengarangnya. Latar cerpen mengisyaratkan lingkungan kelas menengah perkotaan: rumah besar dengan banyak kamar indekos, anak yang bersekolah ke luar negeri, ahli jiwa, dan rumah sakit (hlm. 15–17, 19). Cerpen ini terbit pada 2008 dalam Rectoverso, karya yang memadukan cerita pendek dan lagu. Dengan demikian, pandangan dunia yang tercermin dapat dibaca sebagai pandangan kelompok urban terdidik: mereka menjunjung otonomi dan hak memilih, tetapi pada saat yang sama merindukan cinta yang setia dan tidak berhitung.

Kedua kecenderungan itu membentuk homologi dengan struktur cerita. Rutinitas Abang yang stabil, tak tergantikan, dan penuh pengabdian berhadapan dengan kehendak untuk memilih dan dipilih. Ketegangan antara kebutuhan akan perawatan tanpa pamrih dan tuntutan akan kebebasan individu itulah yang hidup dalam masyarakat tempat cerpen ini lahir. Cerpen tidak menghakimi salah satu pihak. Bunda tidak merasa perlu mengutuk siapa pun (hlm. 21), tetapi cerpen memperlihatkan siapa yang membayar paling mahal.

Simpulan

Melalui metode simak dan dialektik, “Malaikat Juga Tahu” dapat dibaca sebagai cerita tentang pahlawan problematik, yaitu Bunda, yang menjaga nilai cinta tanpa pilihan milik Abang di dunia yang menghargai pilihan. Cerpen ini bukan sekadar kisah cinta, melainkan gambaran harga yang harus dibayar untuk mempertahankan cinta yang tulus di tengah masyarakat yang mengukur segalanya dengan pilihan dan kewajaran./***

× Advertisement
× Advertisement