Sastra

Di Ambang Pintu Merah: Membaca Kuasa, Cermin dan Kematian dengan Derrida

Di Ambang Pintu Merah:
Membaca Kuasa, Cermin, dan Kematian dengan Derrida

Humaerah Nur’izzatinnisa

Ketika Cinta Tak Punya Pilihan : Membaca ” Malaikat Juga Tahu” dengan Strukturialisme Genetik

Setiap rumah tua menyimpan satu pintu yang sebaiknya tidak dibuka. Di rumah peninggalan bupati zaman Belanda dalam cerpen Intan Paramaditha, pintu itu berwarna merah dan berdiri di sudut tergelap, di bawah sarang laba-laba. Pemiliknya Dahlia, putri bungsu yang menjaga ayahnya yang sakit-sakitan. Saat ayahnya tidur, ia berjingkat ke pintu itu. Di baliknya ada hutan, pesta, serigala, dan sumur yang memantulkan perempuan tanpa wajah.

Cerpen ini mudah dibaca sebagai dongeng gelap tentang perempuan yang terkurung. Tetapi ada pembacaan lain yang lebih sabar. Jacques Derrida mengajarkan bahwa dekonstruksi bukanlah menghancurkan teks. Ia membaca pelan-pelan sampai teks itu sendiri menunjukkan retakan di fondasinya. Hampir semua pemikiran kita, kata Derrida, berdiri di atas pasangan yang bertingkat: ucapan dan tulisan, hadir dan absen, hidup dan mati, pusat dan pinggir. Yang pertama dimuliakan, yang kedua dianggap turunan. Dekonstruksi memperlihatkan bahwa yang dianggap pinggir ternyata menopang pusat, dan pusat itu tak pernah sungguh utuh. Pintu Merah adalah rumah yang fondasinya retak persis seperti itu.

Rumah para ayah

Cerpen dibuka dengan hierarki yang terang. Sang ayah adalah mantan penguasa yang dulu suaranya menggelegar di seluruh lorong rumah dan sanggup meraba kebohongan anak-anaknya. Dahlia adalah si bungsu yang bertugas merawat. Satu berkuasa, satu melayani. Satu pusat, satu pinggir.

Namun teks sendiri membalikkan susunan itu, hampir sejak kalimat pertama. Lelaki yang pernah tiran itu kini tak berdaya. Jantungnya lemah, tangannya harus selalu menggenggam tangan putrinya, dan ia sakit kalau Dahlia terlambat pulang. Kekuasaannya bergantung sepenuhnya pada orang yang ia kuasai. Di sini kita bertemu gagasan Derrida tentang supplement, yaitu sesuatu yang tampak tambahan tetapi ternyata tak tergantikan. Dahlia, “sisa-sisa yang kerap terlupa”, justru menjadi tiang yang menahan seluruh bangunan keluarga. Para kakaknya bisa bepergian, berbisnis, beranak-pinak karena ada dia yang tinggal. Pusat ternyata hidup dari pinggir, seperti lintah yang hidup dari darah.

Ayah itu juga hidup dari kisah. Tiap malam ia mengulang ritual dongeng tentang Adit yang dicambuk lalu jadi pengacara, Rama yang dilarang bermusik lalu jadi pegawai perusahaan multinasional. Dalam kacamata Derrida, ini adalah logosentrisme dalam rumah tangga: kepercayaan bahwa ada satu suara sebagai sumber makna, dan suara itulah yang menafsirkan dan membenarkan segalanya. Cambuk diubah menjadi pendidikan, kekerasan menjadi cinta. Sang ayah menjadi pengarang tunggal atas riwayat anak-anaknya.

Jejak yang menolak dihapus

Tetapi ada satu nama yang tak boleh disebut dalam ritual itu: Sarita, kakak yang kabur ke luar negeri. Kisahnya dikeluarkan dari tuturan sang ayah, namun justru karena itu ia hadir, bergentayangan di antara kalimat-kalimat yang diucapkan. Dahlia diam-diam mengirim uang kepadanya.

Inilah jejak (trace) dalam arti Derrida. Setiap tanda membawa bekas dari yang tidak hadir, dan makna lahir dari bekas itu. Sarita absen, tetapi absennya yang membentuk bentuk cerita sang ayah. Ia adalah bayangan yang menentukan di mana cahaya jatuh. Sementara itu Dahlia menyimpan pertanyaan yang ia tujukan pada ayahnya: apakah ia takut kehilangan jejaknya? Dalam pembacaan ini, pertanyaan itu bisa dibalik. Sang ayah takut, dan memang harus takut, sebab otoritasnya tidak pernah murni. Ia berdiri di atas jejak orang-orang yang ia singkirkan.

Cermin yang tak setia

Pintu merah membawa Dahlia ke sumur tua. Di dalam airnya muncul sosok perempuan telanjang, berambut meranggas, dengan kepala yang tak berwajah, hanya sepasang mata tanpa bola, bolong menuju kedalaman. Sosok itu menirukan gerak Dahlia, tetapi terbalik: tangan kanan dijawab tangan kiri.

Di titik inilah cerita paling bertemu dengan différance, istilah Derrida yang sengaja memadukan “berbeda” dan “menunda” dalam bahasa Prancis. Makna, katanya, tidak pernah hadir utuh pada saat ini. Ia selalu tertunda dan hanya muncul lewat selisih dengan yang lain. Bayangan di sumur adalah Dahlia sekaligus bukan Dahlia. Ia mirip, tetapi selalu bergeser sedikit. Maka ketika Dahlia membenci wajahnya sendiri di cermin kamar dan hanya ingin punya mata, ia sedang bergulat dengan kenyataan bahwa diri tidak pernah sepenuhnya hadir pada dirinya. Tubuh dan pikirannya sudah “bercerai”. Identitas bukan inti yang kokoh melainkan permainan selisih, dan sumur adalah cermin yang jujur karena ia tidak mengaku setia.

Hutan di balik pintu mempertajam persoalan ini lewat pesta orang-orang rupawan yang gaunnya dari sulur-sulur yang menjelma ular. Ketika serigala raksasa menerkam, mereka tetap tersenyum sampai mati. Dahlia lalu ragu apakah mereka pernah bernyawa. Wajah-wajah sempurna itu seperti tanda yang kehilangan acuannya: permukaan indah tanpa kepastian ada kehidupan di baliknya. Perbedaan antara hidup dan tiruan hidup, yang kita kira jelas, tiba-tiba tak dapat diputuskan.

Pintu yang lenyap

Klimaks cerpen ini adalah kejutan struktural. Dahlia, dikejar serigala, berlari mencari pintu merah. Tetapi sumur ada banyak, dan pintunya tak ada. Ia hanya berputar kembali ke tempat pesta tadi. Ketika menoleh, ia melihat bayangannya sendiri pada gigi serigala itu.

Derrida pernah menulis tentang struktur yang kehilangan pusatnya, sehingga yang tersisa adalah permainan tanda tanpa jangkar. Selama ini pintu merah adalah pusat yang menenangkan: titik jelas antara dunia nyata dan dunia fantasi, antara rumah dan hutan, antara aman dan bahaya. Ketika pintu itu lenyap, oposisi biner tersebut runtuh. Dahlia tak bisa lagi memilih sisi mana yang “luar” dan mana yang “dalam”. Rumah dengan ayahnya ternyata juga hutan dengan serigalanya. Terkunci oleh tuan rumah yang menyukai baunya, ia mengalami apa yang Derrida sebut aporia, jalan buntu yang tak bisa ditembus dengan logika lama.

Jalan keluar yang terbuka justru melalui penyerahan. Ketika ia berhenti melawan, perempuan sumur meraihnya dan membawanya turun. Sumur ternyata adalah matanya sendiri: lautan anggur merah, darah yang menghitam, asal-mula hidup dan mati. Tetapi bahkan “asal-mula” ini tidak murni. Hidup dan mati bertemu di dalamnya, tak dapat dipisah. Jika asal itu sendiri sudah campuran, maka kita tak pernah punya titik awal yang bersih.

Yang tertunda

Cerpen ditutup dengan bisikan Dahlia kepada ayahnya: sampai jumpa besok, aku tak akan terlambat. Lalu narator menambahkan bahwa mereka akan bertemu esok hari, kalau ia terbangun. Kata “kalau” itu menggantung. Kita tak tahu apakah Dahlia hidup, tidur, atau sudah mengabadi dalam sumur. Kita juga tak tahu apakah ia membebaskan diri atau justru terjerat lebih dalam.

Pembaca yang menginginkan kepastian akan kecewa. Pembaca yang mengikuti Derrida akan melihat bahwa ketidakpastian itu bukan cacat, melainkan inti cerpen ini. Makna ditunda, seperti hari esok yang hanya mungkin datang. Cerpen menolak memberi kata terakhir, dan di situ ia setia pada watak bahasa: tidak ada tanda yang menutup rantai tanda.

Dekonstruksi tidak menawarkan jawaban tentang siapa Dahlia sebenarnya. Ia hanya mengajak kita berdiri di ambang pintu, memandangi cahaya yang tumpah dari dua arah, dan menyadari bahwa pintu itu tak pernah benar-benar memisahkan apa pun. Hierarki rumah itu memang runtuh. Tetapi runtuhnya tidak menghasilkan puing, melainkan sumur yang dalam, tempat seorang perempuan bisa menatap dirinya yang tak pernah selesai.

× Advertisement
× Advertisement