ADVERTORIAL

Mengenal Gerak Perjuangan Abd.Ahad, Anggota Laskar KRIS MUDA Mandar dari Tapalang

Mozaik foto-foto Abd.Ahad dan gerak.Perjuangannya(foto:repro)

Bagi generasi Milenial dan Gen Z di mamuju bahkan di Provinsi Sulbar sosok pejuang Kemerdekaan Abdul Ahad pasti belum banyak mengenal gerak sejarah perjuangannya. Meski titik episentrum perjuangannya hanya beada di  salah satu Distrik pada masa Pemerintahan Afdeling Mandar yakni Tapalang dan merupakan rumpun persekutuan Kerajaan di Wilayah Mandar yakni Pitu Babana Binanga (PBB), namun sepak terjang   H.Abd. Ahad dalam mempertahankan Kemerdekaan Indonesia di Wilayah Mandar cukup besar.

Posama (Pua Siama)  mempunyai 3 (tiga) orang anak yaitu: Abd.Ahad  (anak Sulung), Abdul Rahman  atau Talabado  (anak kedua), NURI (anak bungsu). Abd.Ahad  selain dikenal sebagai tokoh pergerakan perjuangan rakyat, Abd.Ahad juga dikenal sebagai tokoh agama yang membantu pemerintah dalam urusan kepenghuluan dan berbagai hal yang berkaitan dengan pelayanan keagamaan Islam pada masa itu.

BPK Sulbar Kembali Berikan Opini WTP untuk Pemkab Polman Atas Laporan Pengelolaan Keuangan Tahun 2025

Biografi Abd Ahad  Pejuang Tappalang dari Tanah Mandar

Abd.Ahad  dikenal sebagai tokoh pejuang yang berasal dari daerah Tappalang, salah satu bagian wilayah Mamuju yang berada di tanah Mandar Sulawesi Selatan. Ketokohan perjuangannya masih dikenang hingga kini oleh pemerintah dan masyarakat Mamuju dengan menempatkan makamnya di Taman Makan Pahlawan Pati’di Mamuju. Kepadanya Negara Republik Indonesia juga memberikan pengesahan sebagai anggota Veteran (Pejuang Rakyat) dengan nomor register : 176/P/Kpts/MUV/1967, Tanggal :03-10-1967.

Yatibersa Salurkan Sapi Qurban dan Bantuan Sembako untuk Mualaf Pedalaman Mentawai

Riwayat Perjuangan

Perjuangan dan pergerakan ABD AHAD dimulai di Tappalang pada akhir Tahun 1945 untuk membela dan mempertahankan Kemerdekaan Indonesia yang di proklamirkan oleh Bapak Soekarno-Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945. ABD. AHAD mengawali perjuangannya dengan bergabung ke organisasi pergerakan Kelasykaran Kebangkitan Rahasia Islam Muda Mandar atau dikenal dengan KRIS MUDA MANDAR dibawah pimpinan ANDI DEPU, tokoh pejuang Mandar yang lebih dikenal juga sebagai IBU AGUNG. Organisasi tersebut didirikan di Tinambung (ibukota Kerajaan Balanipa) pada tanggal 19 Oktober 1945 yang bergerak di daerah Afdeling Mandar dan sekitarnya. Daerah Basis Perjuangan ABD. AHAD dan kawan-kawan adalah di Daerah LANGSHAB atau saat ini dikenal sebagai Kecamatan Tappalang.

Usai Viral di Medsos Terkait Pelayanan, Bupati Polman Sidak Puskesmas Campalagian

Teman-teman seperjuangan ABD. AHAD antara lain : ABDUL JALIL (mantan Kepala Kelurahan Galung), ABDUL HAE (Juru tulis Kadhi pada saat itu) sekarang disebut Kuake, ABDUL RAHMAN (saudara kandung ABD. AHAD) dan PADAI (salah seorang pemuda Tapalang), mereka menggalang para pemuda-pemuda di Tappalang saat itu untuk menanamkan, mempersatukan dan memperkokoh semangat perjuangan melawan penjajah. Pada tanggal 22 Oktober 1945, ABD AHAD memimpin pengibaran Bendera Merah Putih bersama-sama teman seperjuangannya di Tappalang, yang dilakukan secara serentak disemua sektor Kelasykaran KRIS MUDA MANDAR. Pengibaran Bendera Merah Putih di hadiri pula oleh Mara’dia Tappalang H. ABD. HAFID Kakak Kandung dari Ibu Agung ANDI DEPU. Sosok ABD. AHAD adalah salah seorang pemuda yang keras dan merupakan termasuk dalam pencarian orang oleh Tentara NICA, dia diawasi dan di mata-matai.

Pada Tahun 1946, ABD. AHAD berupaya memperluas gerakan perjuangannya dengan merencanakan kelanjutan perjuangan mempertahankan Kemerdekaan Indonesia ke Pulau Jawa. Langkah awal rencana itu dilakukan dengan menemui ANDI GATIE di Pambusuang selaku penghubung perjuangan di Daerah Mandar. Pertemuan itu akhirnya memutuskan bahwa perjuangan akan dilanjutkan ke Pulau Jawa. Setelah dilakukan pertemuan itu dan sebelum keberangkatannya ke Jawa, ABD. AHAD mendapat surat panggilan dari Pemerintah Swapraja Tappalang untuk menunggu kedatangan dan menemui Pasukan NICA (Belanda). Sebelum menemui Tentara NICA, ABD. AHAD bersama ABDUL JALIL, ABDUL HAE dan ABDUL RAHMAN bertemu di Karanamu Tappalang untuk membahas apakah panggilan ini dipenuhi atau tidak. Dari hasil Pertemuan itu dengan tegas dan semangat patriotisme yang membara memutuskan bahwa ABD. AHAD akan menemui pasukan NICA.

Dalam persiapan menemui Pasukan Belanda di kantor Swapraja Tappalang, ABD. AHAD mengenakan pakaian Jas Putih serta membawa sebilah Keris Pusaka yang disisipkan pada sisi kirinya, kemudian sebelum berangkat ABD. AHAD memperhatikan wajah teman-temannya seraya mengucapkan kata-kata dalam Bahasa Daerah Tappalang: “U’demi base base tomuane, Mate mettumballa dioroanna dasang batu pamarentag Belanda ” Artinya : Saya tidak ragu-ragu lagi sebagai putra mati terlentang diruang rumah batu dihadapan Pemerintah Belanda. Kemudian orang tua ABD. AHAD memberikan memompakan semangat kepada Anaknya dengan ucapan : “ U’dememang tau nadiang mangkuasai nenemu Kali Matoa to mate di Labuang natemba pelor Belanda, punna use dio ” Artinya : Tidak ada seorangpun dapat mengikuti jejak nenekmu Kali Matoa yang telah menjadi korban di Labuang ditembak oleh Peluru Belanda kalau bukan engkau. Sebelum melangkahkan kakinya keluar rumah, keluarga (istri) mengantarnya dengan wajah berseri-seri penuh harapan dan doa semoga Allah menyertai dan melindungi sehingga dapat kembali dengan selamat.

Dengan jiwa dan semangat yang membaja maka ia bersama-sama temantemannya meninggalkan rumah kediaman menuju Kantor Swapraja. Sesampainya di kantor Swapraja, para Tentara NICA telah siap menunggu. ABD. AHAD kemudian memperkenalkan diri bersama temantemannya kepada Tentara NICA dan kemudian para pendamping ABD. AHAD mengatur posisi siap siaga di sekitar tempat pertemuan itu jika Pasukan NICA melakukan penyerangan. Setelah selesai perkenalan mereka, Komandan NICA mengutarakan maksud undangannya yang hanya sekedar ingin mengenal sosok ABD. AHAD. Pertemuan itu pun kemudian berakhir dan selanjutnya ABD. AHAD bersama teman-teman kembali ke rumah dengan selamat. Pada Akhir Tahun 1946, ANDI GATIE dari Pambusuang menemui ABD. AHAD untuk merealisasikan rencana ke Pulau Jawa yang telah disepakati. Tanpa tedeng aling-aling (banyak berpikir), ABD. AHAD bersama pemuda Tappalang bernama PADAI dan MUDO berangkat meninggalkan kampung halaman menuju ke pulau seberang.

Mereka berangkat dengan menggunakan Perahu Layar Ba’go (Perahu LETE) dengan perlengkapan dan perbekalan yang cukup untuk kebutuhan perjalanan selama ditengah laut. Perahu Layar tersebut bertolak dari Pelabuhan Pamboang Mandar menuju Pasuruan di Pulau Jawa. Setelah beberapa hari berlayar maka tibalah mereka di Pasuruan Jawa Tengah salah seorang teman seperjuangan ABD. AHAD asal Karanamu Tappalang bernama PADAI ketika tiba di Pasuruan, pemuda PADAI melalui pimpinan rombongan langsung melapor dan menggabung dengan tentara pejuang dari seberang yakni ratusan Batalyon MATTALATTA dari Sulawesi Selatan. Namun ABD. AHAD masih melanjutkan missi perjalanannya ke kota Yogyakarta yang kala itu menjadi ibukota Negara Indonesia. Pada saat ABD. AHAD tiba di Yogyakarta, bertepatan dengan pembentukan Kesatuan Tentara Repoblik Indonesia yaitu: ▪ Angkatan Darat ▪ Angkatan Laut ▪ Angkatan Udara

ABD. AHAD dan kawan-kawan bergabung pada Kesatuan Angkatan Laut Republik Indonesia (A.L.R.I.) Pangkalan IV Expeditie Seberang di Tegal Jawa Tengah dengan menjabat pangkat (P.L.T.) Pembantu Letnan dengan Bidang Tugas Kerohanian Islam. Ia dipersejatai dengan sebuah Pistol Pirces, senjata yang dipakai tentara pada umumnya waktu itu. Pada masa itu terjadi Agresi Militer II, rakyat termasuk para keluarga diungsikan masuk hutan dan peperangan menggunakan sistem Gerilya. Komandan yang memimpin di Pangkalan IV Tegal (Jawa Tengah) pada waktu itu adalah Bapak Letkol SUAIB PASANG (Mantan Bupati Kepala Daerah Pangkep). Teman seperjuangan lainnya pada Kesatuan tersebut adalah ANDI AHMAD yang pada tanggal 24 Desember 1949 bertugas di Pulau Karimun Jawa, beberapa hari setelah itu bertepatan dengan peristiwa penyerahan Kedaulatan Rakyat dari Pemerintah Belanda kepada Bangsa Indonesia secara utuh.

Sesudah tercapainya Kedaulatan Rakyat berada kembali di tangan Bangsa Indonesia, tepatnya 27 Desember 1949 maka pada waktu itu keluarlah pengumuman bahwa para tentara pejuang yang tergabung dalam tiga angkatan diperbolehkan untuk memilih dua alternatif yakni; ▪ Lanjut menjadi Tentara. ▪ Kembali ke masyarakat dengan alasan kedaulatan telah kembali ditangan Pemerintah Republik Indonesia. Dari Kedua Alternatif tersebut ABD. AHAD memilih mengajukan permohonan kepada komandannya untuk diberhentikan dengan hormat sebagai Anggota A.L.R.I. dengan alasan bahwa perjuangan telah tercapai. ABD. AHAD saat itu memilih kembali kemasyarakat dan untuk selanjutnya kembali kekampung halaman Tappalang Mandar Sulawesi Selatan, dengan kata lain kembali ketengah keluarga (istri dan anak-anak) di Tappalang yang telah rela ditinggalkan bertahun– tahun demi perjuangan meskipun dalam keadaan penuh dengan penderitaan.

Riwayat Pengabdian

Sekembalinya ke kampung halaman di Tappalang Mamuju, Sekitar tahun 1951 Abdul Ahad terpilih menjadi Kepala Distrik Galung pada Pemerintah Swapraja Tappalang yang pada saat itu pemerintah di Tappalang masih dalam bentuk Swapraja. Kurang lebih 4 tahun ABD. AHAD menjalankan tugas sebagai Kepala Distrik Galung (1 Februari 1951 sampai dengan tahun 1954), disaat itu kondisi keamanan telah mulai terganggu akibat terjadinya gangguan keamanan dari pihak Gerombolan DI/TII. Akibat kekacauan didaerah Tappalang dan sekitarnya maka terpaksa ABD. AHAD selaku Pejabat Kepada Distrik Galung harus meninggalkan Tappalang bersama keluarga untuk pindah ke Mamuju. Selama ABD. AHAD bersama keluarganya berdomisili di Mamuju beliau berusaha mencari pekerjaan dengan jalan memasukkan lamaran untuk diangkat menjadi Pegawai Kantor Urusan Agama Kab. Mamuju.

Alhamdulillah lamaran tersebut diterima, tugas dipercayakan kepada ABD. AHAD ialah Kepala Kantor Urusan Agama Kec. Mamuju sekitar Tahun 1956 hingga Tahun 1958. Pada saat itu pula Mamuju kembali dilanda kekacauan akibat penyerangan gerombolan Batalyon III Pasukan Tande sehingga masyarakat kota Mamuju dan sekitarnya terpaksa mengungsi ke Pare-pare, Polewali, Pulau Kalimantan dan ABD. AHAD sekeluarga berusaha pindah bekerja di Kantor Urusan Agama Kab. Majene. Delapan bulan ABD. AHAD bertugas di Kantor Urusan Agama Kab. Majene, ditugaskan lagi menjadi Kepala Kantor Urusan Agama Kec. Campalagian Kab. Polewali Mamasa selama kurang lebih 4 tahun (Akhir Tahun 1958 hingga Tahun 1962) seluruh keluaga istri dan anak-anak mengikuti ke Campalagian sambil bersekolah disana. Pada tahun 1962 keluarlah instruksi Pemerintah Pusat bahwa seluruh pegawai yang pernah bertugas di Mamuju diperintahkan untuk kembali ke Mamuju untuk melaksanakan tugas pada instansi masing-masing dengan demikian maka ABD. AHAD bersama istri dan anak-anaknya pulang kembali ke Mamuju.

RINGKASAN PENGABDIAN :

Tahun 1951, ABD. AHAD diangkat menjadi Kepala Disterik Galung pada Pemerintah Swapraja Tappalang, mulai tanggal 1 Februari 1951 sampai dengan Tahun 1954. ✓ Tahun 1954, diangkat menjadi Anggota PPS Kec. Mamuju yang dijabatnya selama 2 tahun. ✓ Tahun 1956, ABD. AHAD diangkat menjadi Kepala Kantor Urusan Agama Kec. Mamuju hingga Tahun 1958 ✓ Tahun 1958, diangkat menjadi Kepala Kantor Urusan Agama Kec. Campalagian Kab. Polewali Mandar. ✓ Tahun 1962, dipindahkan kembali ke Mamuju sebagai Kepala Kantor Urusan Agama Kec. Mamuju dan ditunjuk juga sebagai Ketua Markas Legiun Veteran R.I. Kec. Tappalang serta diangkat menjadi Anggota DPRD GR Kabupaten Mamuju.

Semenjak mengikuti pergerakan Perjuangan di Daerah Mandar Tappalang, Abd.Ahad bertugas sebagai KADHI Tapalang yang sering juga disebut Kali Jawa. Perjuangan dan pengabdian Abd.Ahad pada Negara dan Tanah kelahirannya harus berakhir ketika ia tutup usia pada tanggal 22 Desember 1968 di Rimuku Mamuju.

H.Ahad wafat di Rimuku Mamuju pada tanggal 22-12-1968)  dan dikebumikan di Pekuburan Islam Tamputora Mamuju. Atas Permintaan Pemerintah Kab. Mamuju (Bupati Mamuju Bapak H. Hapati Hasan, BA), jasad almahum dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan (TMP) Mamuju. Orang pertama mengisi Taman Makam Pahlawan Mamuju (1968) sekarang Kantor Lurah Binangan Mamuju, kemudian dipindahkan ke Karema (1970) sekarang Kantor Pemadam Kebakaran Mamuju, kemudian terakhir dipindahkan lagi ke TMP Pati’di Mamuju. Dn atas perjuangan dan dedikasi Almarhum selama hidup pemerintah Kabupaten memberi penghargaan dengan mengabadikan namanya sebagai salah satu nama jalan dalam Kota Mamuju.

Almarhum ABD. AHAD meninggalkan 2 (dua) orang istri dan 10 (sepuluh) orang anak-anak, yaitu : ❖ Dari istri pertama ST. SAIRAH di Tappalang anak-anaknya adalah :

SITTI SAENAB AHAD (Tappalang, 04 Februari 1940) HUSAIN AHAD (Tappalang, 01 Agustus 1942) HAJIBAH AHAD (Tappalang, 22 September 1944) MUH. DJAFAR AHAD (Tappalang, 31 Desember 1946) SOHRAH AHAD (Tappalang, 07 September 1953) FARIHA AHAD (Mamuju, 31 Desember 1956) SAFARUDDIN AHAD (Mamuju, 25 Maret 1958) MUSTAMBIT AHAD (Campalagian, 12 Mei 1959)

Dari istri kedua di Tegal Jawa Tengah yang bernama ST.HALIMAH dikaruniai dua orang anak masing-masing: HIJRAH AHAD (Pambusuang, 1949) USMAN AHAD(PELOR) (Mamuju, 11-12-1954) Demikian biografi perjuangan Almarhum ABD. AHAD ini dibuat dengan sebenarnya, salam MERDEKA.-

( Ditulis dan Disusun oleh, H. Muh.Jafar Ahad Putra Almarhum yang juga sudah Almarhum yang kemudian diedit ulang oleh Cucunya; H.Muh.Idris Djafar,ST;MT Pegawai BPJN Kaltim)

× Advertisement
× Advertisement