BANNIQ.Id. Mamuju. Kementerian Agama Republik Indonesia kembali menggelar Olimpiade Madrasah 2026 sebagai ajang kompetisi akademik sekaligus tolok ukur capaian pembelajaran siswa madrasah di berbagai jenjang, yang akan berlangsung pekan kedua September ini.
Di Sulawesi Barat, antusiasme siswa mengikuti kompetisi tersebut terbilang tinggi. Ribuan peserta dari Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), hingga Madrasah Aliyah (MA), baik negeri maupun swasta, telah mendaftarkan diri.
Kabid Madrasah Kanwil Kemenag Sulbar, Dr. H. Syamsul, mengatakan Olimpiade Madrasah menjadi salah satu ruang penting untuk mengukur kemampuan dan prestasi akademik siswa sekaligus mendorong madrasah meningkatkan kualitas pembelajaran.
“Kegiatan ini merupakan event kompetisi mata pelajaran agama Islam yang terintegrasi dengan IPA. Karena namanya Olimpiade Madrasah, soalnya selain memuat materi-materi Islam juga terdapat soal-soal IPA. Tesnya berlangsung secara online dan dipantau langsung oleh Kemenag RI,” jelas Syamsul, Kamis (3/9/2026).
Menurutnya, kompetisi tersebut terbuka bagi seluruh siswa madrasah tanpa membedakan status sekolah. Sistem seleksi juga dilakukan secara bertahap, mulai dari tingkat kabupaten hingga tingkat provinsi.
Peserta mengikuti seleksi secara daring melalui aplikasi yang sistem dan kontennya dikendalikan langsung oleh tim pusat. Hasil ujian dapat diketahui melalui sistem, sehingga proses seleksi berlangsung lebih terukur dan transparan.
“Mulai dari tingkat kabupaten sampai provinsi, sistem dan kontennya dikendalikan langsung oleh tim di pusat. Ujiannya online dan semua jenjang madrasah bisa mengikuti,” ujarnya.
Dari hasil seleksi tingkat provinsi, peserta dengan nilai tertinggi pada masing-masing mata pelajaran akan menjadi perwakilan Sulawesi Barat pada Olimpiade Madrasah tingkat nasional yang dijadwalkan berlangsung pada 8–10 November 2026.
Syamsul menyebut tingginya jumlah pendaftar menunjukkan besarnya minat siswa madrasah untuk menguji kemampuan mereka dalam kompetisi akademik.
“Semangat siswa mengikuti kompetisi sangat tinggi. Terbukti jumlah peserta yang mendaftar sudah mencapai ribuan. Semua jenjang, mulai MI hingga MA, baik negeri maupun swasta, ikut berpartisipasi,” katanya.
Lebih dari sekadar kompetisi, Olimpiade Madrasah dinilai memiliki arti penting dalam membangun budaya akademik di lingkungan madrasah. Ajang tersebut memberi kesempatan kepada siswa untuk mengukur kemampuan, mengasah daya saing, sekaligus mengetahui sejauh mana proses pembelajaran yang mereka jalani mampu menghasilkan prestasi.
Bagi madrasah, hasil kompetisi juga dapat menjadi bahan evaluasi untuk memperkuat kualitas pembelajaran dan pembinaan siswa. Dengan demikian, Olimpiade Madrasah tidak hanya mencari siswa terbaik, tetapi juga mendorong lahirnya ekosistem pendidikan yang semakin kompetitif, adaptif dan berorientasi pada prestasi.
“Orientasinya tentu untuk peningkatan prestasi. Kita ingin memberikan ruang kepada siswa madrasah untuk mengembangkan kemampuan akademiknya dan menunjukkan bahwa madrasah mampu melahirkan siswa-siswa berprestasi,” pungkas Syamsul./***











