BANNIQ.Id. Mamuju. Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Barat mencatat inflasi Sulbar pada September 2026 sebesar 2,82 persen secara tahunan (year on year/y-on-y), dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) mencapai 112,34.
Data tersebut disampaikan Kepala BPS Sulbar Suri Handayani, SE, M.Si., bersama pejabat fungsional BPS Sulbar dalam rilis perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK) September 2026 di Ruang Meeting Room BPS Sulbar, Kamis (1/10/2026).
Secara spasial, inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Mamuju sebesar 3,72 persen dengan IHK 112,93. Sementara inflasi terendah tercatat di Kabupaten Majene sebesar 2,24 persen dengan IHK 111,96.
Suri menjelaskan, inflasi tahunan Sulbar terjadi akibat kenaikan indeks pada hampir seluruh kelompok pengeluaran. Kenaikan tertinggi terjadi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 4,46 persen, disusul kelompok transportasi 3,85 persen, makanan, minuman dan tembakau 3,23 persen, kesehatan 3,12 persen, serta perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga 3,10 persen.
Kelompok informasi, komunikasi dan jasa keuangan juga mengalami inflasi sebesar 3,01 persen, penyediaan makanan dan minuman/restoran 2,88 persen, perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga 1,68 persen, pendidikan 1,59 persen, serta pakaian dan alas kaki 0,22 persen.
Satu-satunya kelompok yang mengalami penurunan indeks adalah rekreasi, olahraga dan budaya sebesar 0,04 persen.
Dari sisi sumbangan terhadap inflasi tahunan, kelompok makanan, minuman dan tembakau menjadi penyumbang terbesar dengan andil 1,26 persen. Berikutnya transportasi 0,41 persen, perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga 0,26 persen, penyediaan makanan dan minuman/restoran 0,26 persen, serta perawatan pribadi dan jasa lainnya 0,23 persen.
Pada kelompok makanan, minuman dan tembakau, inflasi tahunan tercatat 3,23 persen. Kenaikan terutama dipengaruhi cabai rawit dengan andil 0,28 persen, cabai merah 0,17 persen, ikan layang 0,15 persen, Sigaret Kretek Mesin (SKM) 0,15 persen, dan ikan cakalang 0,13 persen.
Di sisi lain, sejumlah komoditas menahan laju inflasi, terutama tomat yang memberikan andil deflasi 0,25 persen, minyak kelapa 0,10 persen, telur ayam ras dan bawang merah masing-masing 0,08 persen, serta pisang dan beras masing-masing 0,06 persen dan 0,05 persen.
Secara bulanan, Sulawesi Barat pada September 2026 mengalami inflasi sebesar 0,38 persen. Sementara inflasi sejak awal tahun atau year to date (y-to-d) tercatat sebesar 2,66 persen.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa tekanan harga di Sulbar pada September masih terutama berasal dari kelompok pangan, dengan cabai rawit dan cabai merah menjadi komoditas yang cukup dominan mendorong kenaikan harga secara bulanan./***










