ADVERTORIAL

Cangkan Kemiri Disulap Jadi Produk Bernilai, UNM-Unsulbar Dorong Ekonomi Pesisir Majene

Judul paling direkomendasikan:

BANNIQ.Id. Majene. Di pesisir Desa Onang, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat, sesuatu yang selama ini dianggap tak bernilai mulai menemukan kehidupan baru. Cangkang kemiri yang biasanya hanya menjadi limbah, kini diolah menjadi beragam produk bernilai ekonomi. Dari briket arang hingga asap cair untuk pengawetan ikan, inovasi teknologi membuka peluang baru bagi masyarakat pesisir untuk membangun kemandirian ekonomi.

Dukung Majene Raih Adipura, 451 Mahasiswa FKIP Unsulbar Bersihkan Pantai Dato

Perubahan itu hadir melalui program Kolaborasi Sosial Membangun Masyarakat (Kosabangsa) 2026, hasil sinergi Universitas Negeri Makassar (UNM) dan Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar). Program ini menghadirkan teknologi pirolisis tepat guna sebagai upaya mendorong hilirisasi potensi lokal sekaligus memperkuat ketangguhan ekonomi masyarakat yang hidup di kawasan rawan bencana.

Tidak sekadar memperkenalkan teknologi, kolaborasi dua perguruan tinggi tersebut juga membawa pengetahuan dan keterampilan pengolahan hasil sumber daya lokal langsung ke tengah masyarakat.

Unsulbar Gelar Kegiatan Sosialisasi KIP yang Diikuti 1000 Mahasiswa

Pelaksanaan program di lapangan didampingi akademisi UNM, Dr. Mohammad Wijaya M., selaku pendamping program. Sementara tim pelaksana Unsulbar dipimpin Zulkahfi, S.Hut., M.Sc., bersama Dr. Rahmania HM., S.P., M.Si., dan Ikrar Taruna Syah, S.TP., M.Sc.

Kolaborasi ini sekaligus menjadi ruang pembelajaran nyata bagi enam mahasiswa Unsulbar dari lintas program studi, yakni Kehutanan, Agribisnis, dan Teknologi Hasil Pertanian. Mereka terlibat langsung mendampingi masyarakat dalam proses pengenalan, pengoperasian teknologi, hingga pengembangan produk turunan kemiri.

Tutup Musda XI, Usman Suhuriah Tekankan Tiga Agenda Golkar Majene: Soliditas, Menang Pemilu, dan Rangkul Tokoh Senior

Dr. Rahmania mengatakan, sinergi perguruan tinggi dan masyarakat di pesisir Majene tersebut menjadi bukti bahwa inovasi akademik dapat memberikan manfaat nyata ketika diterapkan sesuai kebutuhan dan potensi lokal.

“Sinergi di pesisir Majene ini membuktikan bahwa intervensi teknologi akademis yang membumi tak hanya mampu mengangkat derajat ekonomi warga, tetapi juga mengukir model percontohan nasional dalam membangun ketangguhan masyarakat pesisir secara berkelanjutan,” ungkap anggota tim Kosabangsa Kemiri UNM-Unsulbar tersebut.

Cangkang Kemiri Jadi Beragam Produk Bernilai Ekonomi

Teknologi pirolisis menjadi salah satu inovasi utama yang diperkenalkan dalam program ini. Melalui proses pengolahan tersebut, limbah cangkang kemiri dapat dikonversi menjadi briket arang dan asap cair yang memiliki nilai guna serta nilai ekonomi.

Asap cair yang dihasilkan juga berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan pengawet alami ikan, sehingga dapat membantu nelayan memperpanjang daya simpan hasil tangkapan sekaligus menekan biaya pengawetan.

Dr. Rahmania, yang juga dosen Fakultas Pertanian dan Kehutanan Unsulbar, menjelaskan bahwa masyarakat tidak hanya diperkenalkan pada pengolahan cangkang kemiri, tetapi juga dibekali keterampilan menghasilkan berbagai produk turunannya.

Produk tersebut meliputi arang aktif, sabun charcoal, antiseptik, minyak kemiri, bumbu dapur, hingga lulur kecantikan. Ragam produk ini diharapkan membuka peluang usaha baru sekaligus memperluas sumber pendapatan masyarakat.

Sejak peluncuran program, antusiasme warga terlihat dari keterlibatan dua kelompok sasaran, yakni Kelompok Tani Hutan (KTH) Buttu Baletedong dan Kelompok Nelayan Pallang Pute.

Kedua kelompok tersebut mulai mempraktikkan pengoperasian alat pirolisis serta proses pembuatan minyak dan bumbu dapur berbahan kemiri. Adapun rangkaian pelatihan lainnya akan dilaksanakan secara bertahap untuk memastikan proses alih teknologi dan keterampilan dapat berjalan optimal.

Bagi masyarakat pesisir Desa Onang, program ini menghadirkan dua manfaat sekaligus. Kelompok nelayan berpeluang memperoleh alternatif bahan pengawet hasil tangkapan melalui pemanfaatan asap cair, sementara kelompok tani hutan dapat mengembangkan aneka produk turunan kemiri sebagai sumber penghasilan tambahan.

Melalui Kosabangsa 2026, UNM dan Unsulbar berupaya membuktikan bahwa potensi ekonomi desa tidak selalu harus bertumpu pada sumber daya baru. Limbah yang selama ini terabaikan pun dapat menjadi sumber kesejahteraan ketika disentuh inovasi, teknologi, dan pendampingan yang berkelanjutan./***

× Advertisement
× Advertisement