Angka Stunting Tinggi, Solusinya Partisipasi Masyarakat Terhadap Pendidikan Harus Meningkat

Hits: 31

BANNIQ. Id.Mamuju – Data menunjukkan angka prevalensi stunting Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) sampai saat ini masih diatas rata-rata nasional yakni sekitar 40.38 persen, hanya lebih baik dari Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Kemudian angka kematian bayi tahun 2019 mencapai 223 per seribu kelahiran hidup, tahun 2020 naik menjadi 292, sementara angka kematian ibu memang mengalami penurunan.

” Selain itu persoalan lain di Sulbar yakni terkait pernikahan usia muda yang masih cukup tinggi,” ungkap Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Sulawesi Barat Nuryamin pada Webinar 100 Profesor Indonesia Bicara Stunting, Perspektif Gizi dan Pendidikan, Rabu, (07/07).

Seminar 100 Profesor Bicara Stunting, berlangsung secara virtual diselenggarakan mulai tanggal 5-8 Juli 2021. Pada hari kedua 7 Juli 2021 dilaksanakan oleh 7 Kantor Perwakilan BKKBN Provinsi yakni Maluku Utara, Maluku, Papua, Sumatera Utara, Kalimantan Utara, Sulawesi Barat dan Kepulauan Riau.

Kepala BKKBN Dr (H.C.) dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG. (K) dalam sambutannya berharap dari webinar ini BKKBN bisa mendapatkan masukan terkait hasil-hasil kajian dari para ahli stunting, guru besar, Profesor.

“Kajian ini akan menjadi referensi yang baik, untuk menjadi pijakan penentuan kebijakan yang tepat. Kajian-kajian komprehensif bisa kita dapatkan karena tantangan penurunan stunting 14 persen di tahun 2024 sungguh luar biasa besar,” harap Dokter Hasto.

Prof. Dr. Gufron Darma Dirawan, EMD, M.END yang juga Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulawesi Barat menjelaskan, Stunting merupakan bagian dari berbagai persoalan multi sektor. Kalau bicara stunting tentunya juga tidak terlepas dari sejarah.

“Pitu Ba’bana Binanga dan Pitu Ulunna Salu” sebagai sebuah konfederasi yang berada di daerah pesisir dengan panjang pantai lebih dari 600 meter, dengan kondisi seperti itu seharusnya Sulbar tidak ada stunting,” jelas Prof. Gufron.

Ditambahkan gufran, karena Sulbar berada di daerah pesisir seharusnya memiliki pola hidup dan budaya yang terbuka serta memiliki keanekaragaman hayati yang banyak dan bisa dimanfaatkan. Menurutnya dahulu ikan menjadi hal utama yang dikonsumsi oleh masyarakat Sulbar namun sekarang orang lebih banyak beralih pada makanan instan seperti mie.

“Perlu adanya perubahan pola pikir yang akhirnya bisa merubah pola kehidupan. Kemudian merubah pola pembelajaran disekolah dengan memotivasi guru merubah proses pembelajaran yang dapat meningkatkan partisipasi sekolah anak, tujuannya agar anak bisa lebih fokus sekolah sampai jenjang perguruan tinggi sehingga pernikahan dini bisa dicegah,” imbuhnya.

Sementara, Prof. Dr. Ida Parwati, Sp.PK (K), Ph.D dari Departemen Patologi Klinik RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung menjelaskan, Stunting adalah masalah Gizi Intergenerasi, calon ibu dengan anemia berpotensi besar melahirkan bayi stunting. Termasuk calon ibu yang tidak merubah pola makannya saat hamil.

” Faktor sosial budaya yang diturunakan antar generasi seperti kemiskinan, kondisi lingkungan yang tidak mendukung membuat makin sulit diintervensi,” jelas Prof. Ida Parwati.

Disebutkan juga, kekurangan Vitamin D pada bayi dan ibu hamil menjadi salah satu penyebab stunting, padahal sumber Vitamin berlimpah seperti sinar matahari dan Ikan. Kurangnya vitamin D sehingga proses penyerapan fosfor dan kalium terganggu yang bisa berdampak pada proses pertumbuhan akibatnya terjadi stunting.

Masih Dia, Selain asupan Vitamin D untuk mencegah stunting juga perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium untuk mendeteksi kekurangan gizi sejak masa Ibu hamil.

“Seperti hematologi rutin, skrining anemia, tanda-tanda infeksi, konfirmasi anemia, kadar ferritin, kadar bezi, TIBC dan pemeriksaan Vitamin D,” pungkasnya.

Sementara itu Agus Riyanto, SP, M.Si Dosen Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto juga menyampaikan, Pemenuhan Gizi pada 1000 Hari Pertama Kehidupan merupakan hal yang sangat penting selain juga sanitasi lingkungan. Asupan protein, karbohidrat, lemak, vitamin dan mineral yang sumbernya bisa mempertimbangkan sumberdaya lokal, daya beli dan budaya setempat.

Dia menambahkan, sebenarnya beras juga sebagai sumber protein. Namun yang terjadi saat ini beras yang dikonsumsi oleh masyarakat adalah beras yang putih bersih.

“Beras yang beredar dimasyarakat sudah melalui tahapan proses dari gabah pecah kulit hingga melalui proses sosok sehingga kandungannya seperti protein dan sebagainya sudah turun. Diperparah juga dengan kebiasaan mencuci beras sampai air benar-benar bersih,” simpulnya.|hms-asd

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *